fbpx

Carut Marut Pendidikan di Indonesia

image
Oleh: Khoerul Rizky*
Pendidikan adalah tonggak kemajuan bangsa. Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin di capai oleh setiap negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Indonesia adalah salah satu negara berkembang di dunia yang masih mempunyai masalah besar dari sektor pendidikan. Padahal, salah satu cita-cita negara indonesia sendiri adalah ”mencerdaskan kehidupan bangsa” yang seharusnya jadi titik awal perkembangan pembangunan kesejahteraan dan kebudayaan bangsa. Namun, kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Banyak faktor dan masalah yang menyebabkan pendidikan di Indonesia tidak bisa berkembang, diantaranya: pertama, Sistem pendidikan di Indonesia, Pemerintah Indonesia menyesuaikan kurikulum sesuai dengan perkembangan zaman. Maka tak aneh, jika sistem pendidikan selalu berubah-ubah. Akibatnya, dengan ketidakkonsistenan ini justru memberatkan para siswa. Selain itu, faktor politik juga mempengaruhi sistem pendidikan Indonesia. Buktinya di setiap pergantian kepemimpinan negara yang baru selalu mengganti sistem yang dalam pemerintah sebelumnya diterapkan. Seperti, persoalan mengenai kurikulum 2006 (KTSP) yang kembali diterapkan oleh Mendikbud Anies Baswedan menggantikan kurikulum 2013 (KURTILAS) yang sebelumnya diterapkan oleh Mendibud M. Nuh. Akibatnya, para siswa pun seolah dijadikan sebagai bahan percobaan dengan sistem-sistem yang ada
Yang Kedua yaitu, mahalnya biaya pendidikan. Pendidikan di Indonesia menjadi sulit bagi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mayoritas penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan mengakibatkan terbengkalai nya mereka dalam hal pendidikan. Selain kemauan mereka yang tidak pernah tumbuh dan sadar akan pendidikan, faktor ekonomi menjadi alasan utama  mereka untuk tidak menyentuh dunia pendidikan.Padahal, Pemerintah sudah mencanangkan pendidikan gratis dan bahkan pendidikan wajib 12 tahun, akan tetapi dari itu saja pun tidak cukup. Nyatanya, masih ada biaya-biaya lain yang harus di tanggung oleh para siswa tidaklah gratis Seperti : Biaya untuk perjalanan ke sekolah, membeli buku, seragam, dan peralatan sekolah lainnya tidak murah. Mereka harus memikirkan biaya lain selain biaya pendidikan yang bahkan lebih mahal di bandingkan biaya pendidikan itu sendiri. Selain itu, biaya kebutuhan hidup yang semakin meninggi terkadang membuat masyarakat lebih memilih untuk bekerja mencari nafkah dibanding harus melanjutkan pendidikannya.
Yang ketiga yaitu, Fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Banyak sekolah-sekolah yang bangunannya sudah hampir rubuh, tidak memiliki fasilitas penunjang seperti meja belajar, buku, teknologi, dan alat-alat penunjang lainnya yang menyebabkan pendidikan tidak dapat berkembang secara optimal.
Yang keempat yaitu, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, Perhatian yang diberikan pemerintah dalam hal pendidikan di kota dan di desa sangatlah berbeda. Pemerintah yang lebih menaruh perhatian pada pendidikan di daerah perkotaan membuat kualitas pendidikan di perkotaan dan di pedesaan menjadi timpang. Salah satu contohnya ialah dalam masalah kesejahteraan guru. Gaji guru di desa jauh lebih rendah dibanding gaji guru di kota. Hal ini menyebabkan banyak guru yang lebih memilih bekerja di kota daripada desa. Alhasil kualitas guru di kota lebih baik dibanding guru di desa. Selain masalah kesejahteraan guru, juga terdapat ketimpangan dalam hal sertifikasi yang mana ada guru tetap/PNS dan guru honorer. Maka tidak heran apabila kualitas pendidikan di Indonesia masih belum merata dimana kualitas pendidikan di kota lebih baik daripada di desa.
Dan tak lupa juga moralitas dan profesionalitas seorang guru. Guru merupakan faktor yang paling menentukan dalam kesuksesan pendidikan siswa pada konteks pendidikan formal. Apabila seorang guru mempunyai moral yang tinggi, profesional, dan tidak korup, maka tak dapat diragukan lagi para siswa pun akan menjadi siswa yang cerdas dan berakhlak mulia. Karena guru adalah panutan bagi muridnya.
Adapun solusi yang pantas untuk menyikapi permasalahan diatas antara lain dengan sistem sosial kemasyarakatan yang berkaitan dengan persoalan pendidikan. Pemerintah pusat maupun Pemerintah daerah harus peka dan tanggap terhadap kondisi pendidikan di setiap daerah dan dapat mengambil langkah yang pasti untuk memperbaiki kualitas sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.  Tidak hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga harus mendukung pemerintah untuk dapat meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan itu penting dan selalu mengawasi kegiatan pendidikan di Indonesia.
Pada zaman millenium ini memang banyak menuntut perubahan-perubahan, terutama sistem pendidikan nasional yang harus lebih optimal, sehingga kita mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang. Baik nasional maupun internasional.
*Penulis adalah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Aktif di HMI

Be the first to comment on "Carut Marut Pendidikan di Indonesia"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: