fbpx

Merusak Alam, Keserakahan Manusia Penuai Bencana

image
Oleh : Ade Junaedi*
Bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia, semakin hari semakin bertambah. Belum lama bencana kabut asap menyelimuti pulau Sumatera dan Kalimantan, akibat pembakaran hutan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi. Jutaan masyarakat yang mendiami kedua pulau tersebut menjadi korban. Bahkan kabut asap sempat  menyebar ke negara tetangga. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan tindakan pemadaman telah diusahakan dengan berbagai macam cara. Masyarakat Indonesia yang berempati turut serta membantu dengan caranya masing-masing. Negara-negara tetanggapun turut peduli dengan memberikan bantuan.
Pembelaan dari masyarakat yang perduli dengan lingkungan hidup, tak jarang menjadi korban penganiayaan bahkan pembunuhan. Seperti apa yang terjadi di Jawa Timur, yang dialami pada sosok Tosan dan Salim alias kancil. Kedua lelaki tersebut menentang penambangan liar yang mengakibatkan kerusakan bagi lingkungan dan persawahan. Sosok Pembela (Salim alias Kancil) telah tiada, kasusnya menjadi perhatian masyarakat luas dan pemerintah. Namun jika kegiatan penambangan liar masih dilakukan, cepat atau lambat bencana akan menghampiri bagi warga sekitar penambangan.
Beda halnya dengan kasus penambangan liar di daerah Bogor. Penambang liar yang keseluruhan berjumlah duabelas orang, terkubur hidup-hidup. Tentunya masih banyak lagi kasus-kasus yang mengakibatkan terjadinya bencana yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Hikmah bagi seluruh lapisan masyarakat dari kasus-kasus yang pernah terjadi adalah segala tindakan yang sifatnya merusak lingkungan, akan menuai bencana yang bersumber dari lingkungan tersebut. Adapun korbannya adalah masyarakat sekitar, tidak menutup kemungkinan pelaku perusak lingkungan itu sendiri, juga satwa-satwa liar.
Bencana alam yang disebabkan oleh perilaku manusia merupakan bukti keserakahan. Keserakahan merupakan salah satu sifat buruk yang dimiliki manusia. Keserakahan terjadi hampir disetiap sumber penghasilan manusia. Baik sumber penghasilan yang berhubungan dengan alam, pangan, bahkan teknologi. Mengelolah sumber penghidupan untuk memperoleh penghasilan seharusnya dilakukan dengan bijak. Dengan tujuan agar sumber penghidupan bisa lestari dan dapat diwariskan pada generasi yang akan datang. Usahakan selalu untuk menyingkirkan pemikiran-pemikiran yang mengedepankan aji mumpung.
Seribu satu macam cara manusia untuk menghimpun pundi-pundi uang pribadi. Kesempatan dalam kesempitan atau aji mumpung yang bisa membutakan matahati, dijadikannya salah satu cara. Lewat pemikiran aji mumpung, anganpun menjalar, berpikir mencari keuntungan lebih dengan cara-cara yang tak terpuji. Apa yang dipikirkan, perlahan-lahan dijalaninya. Kemudian disadari atau tidak, telah mengingkari suatu perjanjian yang telah  disepati bersama. Kesuksesan pertama, menciptakan pengulangan prilaku dan berharap akan kembali sukses. Semuanya semata-mata untuk memenuhi hasrat diri.
Ketika perijinan untuk melakukan bisnis disetujui, pelaku usaha yang tertutup matahatinya melakukan tindakan melewati batasan-batasan yang telah disepakati bersama. Hutan nasional sebagai paru-parunya bumi menjadi sasaran. Pohon-pohon ditebang, bahkan dibakar demi memperluas ladang perkebunan. Bukit yang kokoh, perlahan terkikis oleh para penambang. Pasir dalam sungai dieksploitasi, sehingga meninggalkan permasalahan pada lingkungan sekitar.
Masyarakat kembali dibebani oleh musibah. Beban hidup semakin memberatkan. Dimulai masalah perekonomian yang tak berpihak pada orang yang berpenghasilan lemah, terjangkitnya penyakit yang mendadak menyerang hingga binatang liar yang merusak tanaman dan pemukiman. Menyaksikan masyarakat korban bencana lewat media televisi sangat memilukan.
Bencana yang terjadi dikarenakan prilaku manusia, disebabkan kurangnya pengawasan, atau tidak menutup kemungkinan adanya pembiaran dari oknum-oknum yang terkait. Baik dari pemerintahan, penegak hukum atau tokoh masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari hasil eksploitsasi alam yang tidak bertanggungjwab.
Penaggulangan bencana tidak selesai dalam waktu singkat. Terlebih lagi mengembalikannya dalam kondisi lingkungan hidup seperti semula. Semuanya melalui proses yang panjang. Dibutuhkan kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat.
Demi menghindari segala bentuk bencana yang bersumber dari lingkungan hidup, sikap kepedulian terhadap alam, sesama manusia, binatang liar, seharusnya kembali ditingkatkan. Bencana yang sedang ataupun sudah terjadi, dijadikan bahan perenungan, untuk bekal pertimbangan dalam mengambil keputusan ketika hendak mengekspolitasi alam, atau apapun yang berhubungan dengan sumber penghidupan manusia. ***
Ade Junaedi, Pekerja Kreatif yang tinggal di Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi. Sarjana Akuntansi yang menyukai alam dan kebudayaan
Tulisan yang pernah dimuat:
– Memakani Kearifan Budaya. (Cikarangpos.com)
– Berhaji karena Allah. (HU Fajar Cirebon/fajarnews.com)
– Sekali Tanam Sejuta Tuai (bekasimedia.com)
– Cermin Hati (Tabloid Cikarang Pos / cikarangpos.blogspot.com)
– Menjalani Rukun Islam Sepanjang Hari (islampos.com)
– Membangkitkan Pemuda Demi Kemajuan Bangsa (Tabloid Cikarang Pos/cikarangpos.blogspot.com)
– Pemimpin yang Amanah (islampos.com)
– Bekerja Tanpa Jeda (Panturanews.com) 
– dll

Be the first to comment on "Merusak Alam, Keserakahan Manusia Penuai Bencana"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: