BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 21 Jan 2015 21:43 WIB ·

Perlukah Pengendara Di Bekasi Tes Buta Warna ?


 Perlukah Pengendara Di Bekasi Tes Buta Warna ? Perbesar

image

Lampu masih berwarna merah tapi pengendara tetap terobos jalan, itulah yang banyak terjadi di jalanan kota Bekasi hari ini. Kemacetan di kota bekasi akhir-akhir ini semakin meresahkan. Hal ini terjadi karena banyak pengendara yang mengabaikan rambu-rambu yang telah dipasang.

Traffic lamp atau lampu merah yang sejatinya dipasang untuk mengatur arus lalu lintas. Namun, pada kenyataannya banyak dari pengendara yang seakan tidak peduli. Semua berlomba menerobos lampu merah dengan alasan waktu. Jika tidak ada petugas yang berjaga, maka sudah bisa dipastikan kendaraan akan tancap gas walaupun lampu merah sedang menyala. Sungguh sangat disayangkan jika kepedulian berlalu lintas telah diabaikan.

Bukankah itu berarti para pengendara-pengadara ‘tak taat’ itu sedang mempertaruhkan nyawanya? Menerobos lampu merah yang seharusnya tanda berhenti merupakan suatu kelaziman saat ini. Mereka enggan menunggu walau hanya 2 menit. Waktu yang sebetulnya tidaklah lama jika mau bersabar.
Kesemerawutan lalu lintas di Bekasi saat ini memang sudah pada tahap mengkhawatirkan. Kurangnya kesadaran pengendara pada aturan  menjadi salah satu penyebabnya.

Anak-anak sekolah Taman Kanak-kanak sudah diajarkan tentang warna-warna dari traffic lamp beserta artinya. Walau belum sepenuhnya sadar akan pentingnya, tapi mereka sudah diajarkan untuk mentaati aturan. Bagaimana dengan para pengendara dewasa yang sebetulnya lebih paham? Tapi, mengapa mereka masih enggan mentaati aturan itu?

Jangan bandingkan negara kita dengan negara lain yang sistem lalu lintasnya sangat ketat. Sungguh sangat jauh berbeda. Namun, apakah negara kita tidak bisa seperti mereka? Bisa. Negara kita bisa melakukannya, asal mau. Sayangnya, banyak yang enggan mewujudkannya.

Jika saja, para pengendara sadar bahwa warna merah dalam traffic lamp itu artinya berhenti, maka tidak akan ada kesemerawutan. Apakah perlu jika tiap pengendara yang akan mengajukan pembuatan Surat Izin Mengemudi, disarankan untuk tes warna? Agar nantinya mereka tidak salah membaca. Merah itu jelas untuk berhenti, dan hijau untuk jalan. Bukan dibalik.

Idealnya, persimpangan jalan yang telah difasilitasi dengan traffic lamp tak lagi dijaga oleh petugas, karena traffic lamp ada untuk menggantikan fungsi petugas polisi. Namun tidak demikian adanya, jika tidak ada polisi yang menjaga, kesemrautan tanpa ujung akan terjadi. Pengendara dari segala arah akan maju ke titik tengah, saling bertemu tanpa ada yang mengalah. Akhirnya tak ada yang bisa bergerak.

Kembali pada pribadi masing-masing sebagai pengendara. Dengan meningkatkan kesadaran dan menjaga keselamatan berlalu lintas, maka kemacetan di Kota kita tercinta akan berkurang. Sekali lagi ini soal kesadaran. Tidak perlu merasa bersalah jika ada pengendara yang memencet klakson berkali-kali, meminta kita untuk segera jalan padahal jelas warna lampu itu merah. Mulai dari diri kita sendiri. Berlaku taat pada aturan yang memang sudah diatur. Semoga banyak pengendara yang peduli pada aturan demi keselamatan.

Suci Santy
Warga Bekasi

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini