BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Legislatif · 17 Mei 2026 05:12 WIB ·

Abdul Aziz Adwani Kenang Perjuangan PKS Menghadirkan Sekolah Gratis


 Abdul Aziz Adwani Kenang Perjuangan PKS Menghadirkan Sekolah Gratis Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – JAKARTA – Silaturahim Anggota Dewan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Abdul Aziz Adwani, bersama sejumlah jurnalis di kawasan Jalan KS Tubun, Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (15/5), berlangsung hangat dan penuh diskusi mengenai pentingnya sinergi antara legislatif dan media.

Menurut Abdul Aziz, jurnalis dan anggota dewan memiliki fungsi yang hampir sama, yakni menjalankan kontrol sosial terhadap berbagai persoalan masyarakat.

“Sebetulnya tugas dan fungsi jurnalis dengan anggota dewan itu sama, yaitu menjalankan fungsi kontrol atau pengawasan. Bedanya, anggota dewan berada di dalam gedung parlemen, sementara jurnalis berada di luar. Karena itu harus saling bersinergi, saling mendukung, dan bertukar informasi agar semua persoalan tetap ter-update,” ujarnya.

Legislator PKS lulusan Universitas Indonesia jurusan Fisika itu menilai jurnalis dan anggota dewan sama-sama merupakan pelayan masyarakat. Menurutnya, keberadaan anggota dewan tidak akan maksimal tanpa dukungan media.

“Tidak semua persoalan bisa selesai di dewan. Kadang kita juga perlu memviralkan sebuah isu. Setelah viral, kemudian diangkat lagi di dewan. Ibarat bermain sepak bola, saling mengoper bola. Karena itu perlu sinergi dan kolaborasi,” katanya.

Ia juga mengapresiasi konsistensi para jurnalis dalam menjalankan tugas meski memiliki risiko yang besar.

“Saya melihat selama ini kerja-kerja jurnalis luar biasa. Risikonya besar, tetapi tetap konsisten. Orang yang ingin menjadi jurnalis harus punya ideologi yang kuat. Kalau tidak, berpotensi hanya menjadi buzzer,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Aziz juga mengenang kemenangan PKS di Jakarta pada 2004 dan lahirnya kebijakan sekolah gratis yang mulai diterapkan pada 2006.

“PKS tidak bisa besar seperti sekarang di Jakarta tanpa peran teman-teman jurnalis. Kita menang di DKI Jakarta juga tidak terlepas dari peran media yang mengekspos berbagai kegiatan PKS,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setelah memperoleh kemenangan politik di Jakarta, PKS ingin membalas kepercayaan masyarakat dengan menghadirkan kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.

Saat itu, PKS melakukan survei untuk mengetahui persoalan paling berat yang dihadapi masyarakat Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa biaya pendidikan menjadi beban utama warga.

“Akhirnya PKS memutuskan mengambil kebijakan menggratiskan sekolah. Tokohnya saat itu almarhum Bang Dani Anwar. Bersama Kang Aher dan tokoh lainnya, konsep itu dimatangkan,” jelasnya.

Menurut Abdul Aziz, ide sekolah gratis sempat ditertawakan oleh partai-partai lain karena dianggap mustahil secara anggaran.

“Waktu itu ada yang bilang, ‘Yang benar saja, pendidikan mau digratiskan? Duitnya dari mana?’ Tetapi PKS mulai menyusun ulang anggaran sedikit demi sedikit hingga akhirnya terkumpul,” katanya.

Gelombang pertama sekolah gratis dimulai dari SD Negeri pada 2006. Kebijakan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat karena banyak anak yang sebelumnya putus sekolah akhirnya bisa kembali belajar.

“Bahkan ada yang usianya sudah tidak muda lagi tetapi kembali sekolah karena sebelumnya belum lulus SD,” kenangnya.

Keberhasilan program tersebut kemudian menjadi perhatian nasional dan dijadikan rujukan oleh banyak DPRD di daerah lain.

“Banyak daerah datang belajar ke Jakarta bagaimana caranya menggratiskan sekolah. Strategi PKS ini kemudian ditiru di berbagai daerah,” ujarnya.

Setelah SD Negeri gratis, kebijakan itu dilanjutkan dengan penggratisan SMP Negeri dua tahun kemudian dan SMA Negeri pada tahun berikutnya. Pada 2009, seluruh jenjang sekolah negeri di Jakarta telah gratis.

“Nah, waktu itu target kami kalau menang lagi di 2009, kuliah juga akan dibuat gratis. Tetapi suara PKS turun sehingga tidak lagi menjadi pimpinan. Meski begitu, kenangan dan kebijakannya masih dirasakan sampai sekarang,” kata Abdul Aziz.

Ia pun berharap kepercayaan masyarakat Jakarta kepada PKS saat ini dapat kembali melahirkan berbagai kebijakan populis yang berpihak kepada rakyat.

“Sekarang masyarakat Jakarta kembali mempercayakan amanahnya kepada PKS untuk kedua kalinya. Terobosan apa lagi yang akan lahir untuk warga Jakarta, kita tunggu bersama,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Tak Sekadar Laporan, DPRD Bekasi Bongkar Fakta Lapangan LKPJ 2025

14 April 2026 - 07:50 WIB

DPR Ingatkan Risiko Coretax Hambat Wajib Pajak

9 April 2026 - 14:14 WIB

Bambang Purwanto Ingatkan Risiko Hukum dan Lingkungan Pembentukan Anak Usaha Migas

26 Februari 2026 - 10:36 WIB

DPRD: Modernisasi Angkot Harus Lindungi Pelaku Usaha dan Penumpang

26 Februari 2026 - 10:15 WIB

Aspirasi BPJS Mengemuka, DPRD Bekasi Siap Kawal Hingga RKPD 2027

26 Februari 2026 - 10:05 WIB

Gilang Esa Kawal Perbaikan Infrastruktur di Bekasi Barat

26 Februari 2026 - 09:57 WIB

Trending di Advertorial