BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 5 Sep 2018 11:21 WIB ·

Anggaran Kota Bekasi Defisit karena Pencitraan Pepen?


 Anggaran Kota Bekasi Defisit karena Pencitraan Pepen? Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Kota Bekasi mengalami defisit anggaran tahun 2018 sebesar 900 Miliar, hal ini dinilai karena banyaknya program pencitraan di bawah kepemimpinan Rahmat Effendi selalu walikota bekasi. Defisitnya anggaran tersebut kemudian menjadi bagian pemerintah untuk memaksakan pajak dari masyarakat, dan mengorbankan gaji para tenaga kerja honor di lingkungan Pemkot Bekasi.

Program Kartu Sehat yang banyak menelan anggaran Kota Bekasi dinilai menjadi penyumbang defisitnya anggaran. Program KS ini muncul di akhir masa jabatan Pepen, sapaan Rahmat Effendi selaku walikota Bekasi, tidak tanggung-tanggung, program ini menelan anggaran sebesar 200 miliar. Meskipun bermanfaat bagi masyarakat luas, tapi program KS justru mengakibatkan lumpuhnya anggaran daerah, sehingga program tersebut tidak dapat dibenarkan.

Selain itu, adanya pembangunan proyek di akhir tahun pemerintahan yang memaksakan anggaran di akhir masa priode kepemimpinan Pepen pun dinilai sebagai bentuk pencitraan, meskipun melakukan penganggaran dalam sistem multiyear, tapi finalisasi anggarannya menggunakan anggaran di akhir masa jabatan Pepen.

Kenaikan tunjangan aparatur daerah di tahun 2018 pun tidak luput menjadi bagian dari pencitraan Pepen untuk mengambil hati masyarakat, ditambah dengan pengangkatan ribuan tenaga kerja kontrak (TKK) besar-besaran di akhir masa jabatan Pepen, merupakan bukti bahwa anggaran tahun 2018 yang sebesar Rp. 5.6 Triliun itu habis digunakan hanya untuk melakukan pendampingan terhadap pencitraan Pepen agar dapat mengambil hati masyarakat Kota Bekasi, sehingga anggaran 2018 ini menjadi defisit begitu besar hingga mencapai 900 Miliar.

Ditambah lagi, banyak pembangunan dan proyek yang bermasalah, seperti pembangunan Stadion Mini Pondok Gede, juga pembangunan proyek flyover pondok gede, flyover Caman, flyover pandawa yang dinilai menghilangkan anggaran sebesar Rp. 90 Miliar dan sudah diajukan laporan ke Kejari oleh lembaga CBA dan Kaki Publik.

Pemerintah kota bekasi harus mampu menakar system penganggaran dari seberapa kuat-lemahnya anggaran dalam menjalankan program. Defisitnya anggaran kota bekasi telah membuktikan lemahnya kepemerintahan Pepen dalam menjalankan fungsi penganggaran tersebut. Sehingga mengalami defisit anggaran.

Akibat dari defisit tersebut, gaji para tenaga honor dan tenaga kontrak, terancam tidak dibayarkan, tapi tunjangan para PNS tidak d turunkan, selain itu pajak pun semakin di tekankan kepada masyarakat.

Nyatanya, gaji dan pendapatan tenaga Honor yang dilantik pada akhir 2017 silam pun sampai kini belum dapat dibayarkan, atau bahkan ada yang ditunggak oleh pemkot bekasi.

Maka dari itu, sudah semestinya defisit anggaran dan dugaan hilangnya anggaran di Kota Bekasi menjadi perhatian oleh KPK, Kejari dan BPK untuk menindaklanjuti, menginvestigasi dan menyelidiki apa yang telah terjadi di Kota Bekasi.

Adri Zulpianto, S.H
Koord. Alaska

Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran

Lembaga Kaki Publik
(Lembaga Kajian dan Analisis Keterbukaan Informasi Publik)
Dan
Lembaga CBA
(Lembaga Center for Budget Analysist)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini