Oleh: Diyah Yuli Sugiarti
(Dosen Pascasarjana Unisma)
Universitas Islam 45 (Unisma) merupakan salah satu perguruan tinggi tertua dan terbesar di Kota Bekasi dengan sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Letaknya yang strategis di kawasan industri dan perkotaan menjadikan Unisma memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan dinamika zaman.
Saat ini, Unisma tengah menjalani proses transformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM.ID). Transformasi ini bukanlah langkah spontan, melainkan hasil dari proses panjang yang dirancang secara bertahap melalui perencanaan strategis yang matang dan penuh optimisme. Perubahan tersebut pun menjadi perbincangan luas di berbagai kalangan. Banyak pihak mencoba membaca arah dan makna dari transformasi ini, yang pada dasarnya dipahami sebagai kelanjutan perjuangan Unisma menuju tujuan institusional yang lebih besar dan berdaya saing.
Transformasi ini menghadirkan angin segar, tidak hanya bagi civitas akademika, tetapi juga bagi masyarakat luas. Dukungan terhadap perubahan Unisma menjadi UM.ID terus mengalir. Dari internal kampus, tumbuh keyakinan bahwa tata kelola baru akan membawa peningkatan kualitas dan perkembangan institusi, menjamin pengembangan karier dosen dan tenaga kependidikan, meningkatkan standar pendidikan, memperkuat riset, memperluas kerja sama industri, melakukan pembaruan kurikulum, hingga mengembangkan pusat-pusat keunggulan.
Sementara itu, masyarakat eksternal menaruh harapan besar bahwa transformasi ini akan memperkuat tata kelola perguruan tinggi yang lebih profesional, responsif, inovatif, serta menjunjung tinggi mutu dan etika pendidikan di Bekasi.
Di bawah kepemimpinan rektor pertama UM.ID, Prof. Nazaruddin, arah transformasi difokuskan pada penguatan tata kelola melalui prinsip good governance dan pengembangan institusi yang berkelanjutan. Dengan fondasi tersebut, UM.ID diharapkan mampu menjadi perguruan tinggi unggul, tidak hanya di tingkat lokal dan regional, tetapi juga nasional, bahkan berpeluang menuju kancah internasional. Keunggulan yang dimaksud bukan semata pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga pada pembentukan karakter serta daya saing lulusan agar mampu berkontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
Angin segar yang berhembus ini tampaknya bukan sekadar janji, melainkan diwujudkan melalui perencanaan strategis dan tekad kuat untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat dan pembangunan bangsa.
Momentum tersebut semakin terasa saat serah terima jabatan rektor sekaligus silaturahmi civitas akademika, yang berlangsung pada Rabu, 7 Januari 2026, di Hall Unisma. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nazaruddin menegaskan bahwa “perguruan tinggi harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang beriman, berilmu, berdaya saing, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.”
Pernyataan ini mendapat respons positif dari civitas akademika eks-Unisma. Harapan akan lahirnya institusi baru yang memberikan kualitas layanan pendidikan lebih baik dan kurikulum yang berdampak pun semakin menguat. Situasi ini menciptakan iklim akademik yang kondusif dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap UM.ID sebagai perguruan tinggi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
Dengan demikian, transformasi Unisma menjadi UM.ID benar-benar membawa angin segar bagi dunia pendidikan di Bekasi. Kepercayaan civitas akademika dan masyarakat merupakan modal utama untuk membuka jalan menuju masa depan yang berkelanjutan. Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi, menggali potensi yang ada, serta melejitkan prestasi agar UM.ID mampu menjawab harapan zaman dan masyarakat.











