BEKASIMEDIA.COM – Kualitas udara di Jakarta masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan. Berdasarkan data dari AirVisual, Jakarta masuk dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada tahun 2023. Polusi udara di Jakarta tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan warga.
Hal ini diungkapkan oleh Plt Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Aris Nurzamzam dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bekerja sama dengan KBR dengan tema Sinergitas Sektor Transportasi dan Sektor Energi untuk Mewujudkan Kualitas Udara Bersih di Kota Jakarta dan Kota-Kota Besar di Indonesia.
“Dampak polusi udara adalah pneumonia, radang tenggorokan, memicu serangan asma, dan iritasi pada mata. Kemudian bahwa meningkatkan resiko penyakit jantung di masa depan, resiko asma, dan menimbulkan gangguan pertumbuhan. Kemudian jangka panjang pada ibu hamil, berat badan bayi rendah, gangguan pertumbuhan paru, dan ini yang menghawatirkan menghasilkan anak-anak yang rentan akan infeksi,” katanya, Kamis (16/11/2023).
Untuk melakukan pencegahan, masyarakat bisa melakukan cara dengan menerapkan apa yang disebut 6M+1S yakni pertama memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau website, kedua menggunakan masker, ketiga menghindari sumber polusi dan asap rokok, keempat melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, kelima menghubungkan penjernihan udara dalam ruangan, dan keenam segera konsultasi daring/luring dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan.
Pihak Dinkes DKI Jakarta mencatat bahwa saat ini dari 11 juta warga Jakarta, ada peningkatan penyakit Ispa yakni 100 ribuan kasus perbulan. Untuk memastikan warga DKI Jakarta sehat, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk memudahkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan. “Sekarang ada yang daring dan luring. Kita maksimal pelayanan kesehatan,” katanya.
Selain itu, pihak Dinkes DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menjadi salah satu sumber polusi udara. “Kita harus mengubah pola hidup kita, pola transportasi kita. Kita harus beralih ke transportasi umum yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Uji emisi ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas udara
Hal senada juga disampaikan oleh Tiyana Brotoadi bidang PPKP DLH DKI Jakarta, menyebutkan bahwa populasi sepeda motor di DKI Jakarta ada 16.519.197 sepeda motor, kemudian jumlah sepeda motor yang sudah melakukan uji emisi 131.729 unit atau baru 0,79%. Kemudian populasi mobil di DKI Jakarta ada 4.111.231 unit. Jumlah yang sudah melakukan uji emisi sebanyak 1.225.247 unit atau baru 29,8%.
Uji emisi, kata Brotoadi sebetulnya sudah dilaksanakan sejak 2021. Uji emisi pertama di November 2021, ada 190.026 kendaraan. Namun, karena adanya covid dan peraturan pemerintah saat itu, uji emisi ditunda. Hingga baru terealisasi lagi Agustus 2023, dan mengalami peningkatan di September 2023, 186265 kendaraan. Hal ini karena ada Tilang Uji Emisi dimulai 1 September. Namun, kemudian dihentikan karena banyaknya komplain masyarakat. Namun, meski dihapus DLH DKI tetap mempriotaskan untuk kendaraan yang sudah uji emisi.
Brotoadi menambahkan bahwa pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengatasi polusi udara di Jakarta, seperti dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan lainnya. “Kita juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kualitas udara dan mengurangi emisi kendaraan,” katanya.
Mindset Masyarakat Harus Diubah
Sementara itu, Kabid Angkutan Jalan Dishub Jakarta, Ferdinand Ginting mengatakan bahwa salah satu upaya untuk membuat kualitas udara Jakarta bersih adalah dengan mengubah mindset masyarakat. “Jadi kita upayakan batasi kendaraan pribadi dengan tarif parkir tinggi, dan standar emisi kendaraan,” katanya.
Ginting juga menjelaskan bahwa pihaknya telah mengembangkan sistem terpadu yang mendukung kebijakan peningkatan penggunaan angkutan umum massal dan pembatasan kendaraan bermotor perseorangan, yaitu Jak Lingko. Jak Lingko merupakan sistem integrasi berbagai moda transportasi publik sekaligus. Ada dua strategi, Pull dan Push. Pull seperti integrasi transportasi publik, layanan dan rute, pengembangan jalur khusus yang steril, integrasi transportasi publik fasiltas pejalan kaki dan sepeda dan pengembangan kawasan TOD. “Sedangkan Push Strategy, penataan parkir, tarif parkir tinggi untuk kendaraan yang belum uji emisi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa saat ini Dishub DKI mempriotaskan penanganan transportasi publik sebagai yang utama.
“Prioritas penanganan transportasi di DKI Jakarta saat ini menempatkan kendaraan pribadi tidak masuk prioritas. Prioritas utama adalah pejalan kaki, angkutan umum, dan ketiga kendaraan ramah lingkungan. Kalau kendaraan pribadi (disinsentif) di paling bawah,” katanya.
Ginting berharap bahwa dengan adanya Jak Lingko, masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum yang lebih efisien, nyaman, dan aman. “Kita harapkan dengan Jak Lingko ini, masyarakat bisa merasakan manfaatnya, baik dari segi waktu, biaya, maupun kesehatan. Kita juga berharap kualitas udara di Jakarta bisa membaik,” tuturnya.
Angkutan Umum Lebih Nyaman
Salah satu influencer, Nadhea Ananda Putri mengungkapkan apa yang terjadi belakangan ini, bahwa udara Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Ia melihat biasanya langit Jakarta yang terlihat cerah, kini lebih banyak tertutup kabut asap.
Melihat kondisi udara di Jakarta yang semakin memburuk, ia sampai menggunakan angkutan umum untuk pergi ke kantor. Menurutnya, transportasi umum sekarang lebih nyaman dan aman. Apalagi sudah ada KRL, MRT hingga sekarang LRT.
“Bagi saya angkutan umum lebih nyaman dan murah. Apalagi rumahnya dekat dengan stasiun LRT dan MRT,”katanya.
Sebagai influencer yang punya ratusan ribu pengikut, ia setuju untuk ikut memperbaiki udara Jakarta dengan mengajak masyarakat menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi.
“Dengan follower yang banyak, saya yakin bisa mengajak masyarakat untuk berbuat lebih untuk Jakarta ke depan,”katanya.











