BEKASIMEDIA.COM – Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, meminta Pemerintah untuk memberikan penjelasan yang transparan dan jujur kepada masyarakat terkait alokasi anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite.
Mulyanto menganggap penting bagi Pemerintah untuk menjelaskan kemana dana subsidi BBM tersebut disalurkan, terutama dalam situasi di mana harga minyak dunia terus mengalami penurunan, namun harga jual Pertalite tetap stabil.
Dalam pandangannya, Mulyanto menilai bahwa argumen Pemerintah yang hanya akan menurunkan harga BBM bersubsidi saat harga minyak dunia mencapai angka USD65 per barel tidaklah masuk akal. Baginya, hal tersebut merupakan logika seorang pedagang, bukan logika seorang negarawan.
“Sebelumnya Dirjen Migas menyatakan, Pemerintah akan mempertimbangkan untuk menurunkan harga jual BBM Pertalite bila harga minyak mentah dunia sudah berada di posisi USD65 per barel. Alasannya harga minyak USD65 per barel itu setara dengan harga keekonomian Pertalite yang Rp10.000 per liter,” ungkap Mulyanto.
Mulyanto juga menyoroti bahwa argumen tersebut tidaklah tepat, karena harga Pertalite sebesar Rp10.000 per liter ditetapkan pada saat harga minyak dunia mencapai angka USD120 per barel pada September 2022. Dengan adanya penurunan harga minyak mentah dunia dan dipertahankannya harga BBM bersubsidi, maka secara otomatis akan terjadi penghematan dana subsidi BBM.
Wakil Ketua FPKS DPR RI menambahkan bahwa apabila dana subsidi tersebut digunakan untuk mensubsidi harga BBM, maka seharusnya harga BBM bersubsidi turun sebesar 30 – 40 persen menjadi sekitar Rp6.500 per liter.
“Jadi, penurunan harga BBM bersubsidi tidak harus menunggu hingga harga minyak dunia setara dengan harga keekonomian Pertalite, yakni USD65 per barel. Yang menjadi pertanyaan adalah, hasil penghematan dana subsidi BBM saat ini digunakan untuk tujuan apa?” tanya Mulyanto.
Mulyanto menekankan bahwa Pemerintah harus jujur kepada rakyat dan tidak boleh membohongi mereka dengan logika pedagang. Ia ingin mengetahui apakah dana subsidi tersebut digunakan untuk mensubsidi mobil listrik atau dialokasikan untuk anggaran pembangunan Infrastruktur Kelistrikan Nasional (IKN).
“Pada akhirnya, ini merupakan soal political will dan pilihan dalam kebijakan Pemerintah. Apakah mereka ingin meringankan beban rakyat miskin atau tidak,” tandas Mulyanto.
Untuk dikethui, harga minyak dunia West Texas Intermediate (WTI) Crude hari ini tercatat sebesar USD70 per barel untuk kontrak bulan Agustus, Rabu (4/7/2023).











