BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 3 Okt 2020 10:11 WIB ·

Eka Sila Adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Bukan Gotong Royong


 Eka Sila Adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Bukan Gotong Royong Perbesar

Oleh : Yusuf Blegur

Inti dari Panca Sila atau kalau mau disebut dengan Eka Sila, sebenarnya yang lebih tepat adalah Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid). Bukan gotong royong.

Tidak ada rumusan persoalan teknis dalam kehidupan kemanusiaan yang mendahului keberadaan Tuhan. Prinsip-prinsip ketuhanan merupakan pemahaman paling fundamental yang menjadi sumber berkembangnya cara berpikir atau nalar manusia dalam tataran logika dan kejiwaan. Baik aspek ideal spiritual maupun rasional materil.

Dalam sejarah pertumbuhan kebudayaan dan keagamaan di Indonesia sendiri. Praktek-praktek penyerahan diri dan pengakuan akan adanya kekuatan yang lebih besar diluar dirinya. Menandakan karakteristik masyarakat Indonesia bahkan sejak masih jaman kerajaan, kuat menganut ritual penyembahan dan pengorban. Meski masih dalam bentuk kepercayaan, berupa animisme dan dinamisme dan beberapa pemahaman spiritual lainnya. Masyarakat Indonesia jauh sebelum kemerdekaan sudah melekat budaya dan tradisinya yang menyiratkan kebiasaan-kebiasan religiusitas.

Seiring waktu, lewat akulturasi dan penetrasi dalam berbagai kebudayaan dan tradisi yang dianut masyarakat Indonesia sebelumnya. Juga pesatnya perkembangan ilmu dan pengetahuan. Agama menjadi lebih dominan dan bisa diterima khalayak luas dengan damai dan harmonis tanpa kekerasan dan konflik. Kemudian, cara perpikir dan bertindak serta kejiwaan mayarakat semakin dipengaruhi oleh agama. Dalam hal ini agama Islam menjadi agama yang begitu kuat menjadi “infuencer” sekaligus menentukan arah perjalanan peradaban kebangsaan (lihat penentuan dasar negara setelah kemerdekaan dan polemik sekaligus konsensus penghilangan kata syariat Islam dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Panca Sila). Bukan hanya pada persoalan teknis dan strategis, keIslaman menjadi faktor utama yang melekatkan keberadaan NKRI, Panca Sila dan kebhinnekaan negara bangsa yang tetap harus harus bertumbuh pemaknaannya.

Seperti Soekarno dan banyak lagi perumus Panca Sila. Panca Sila yang digali dari buminya Indonesia, tentulah mengadopsi kebiasaan-kebiasan masyarakat yang tidak bisa lepas dari perlakuan terhadap dirinya sendiri, antar sesama, terhadap alam dan terkait hubungannya dengan Sang Pencipta yang berarti Tuhan yang bersemayam dalam lahir dan batinnya.

Oleh karena itu, menjadi lebih tepat dan berdasar, bahwasanya masyarakat Indonesia yang religus telah menempatkan prinsip-prinsip Ketuhanan yang menaungi tata pergaulan antar sesama dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, bernegara dan berbangsa. Kesadaran nilai-nilai itu menjadi relevan, saat Ketuhanan Yang Maha Esa itu menjadi salah satu sila dan ditempatkan sebagai sila utama dan inti dari keberadaan Panca Sila. Dalam persfektif itu, kehidupan berkeTuhanan menjadi landasan sekaligus panduan kehidupan antara sesama manusia dengan manusia dan antara manusia dengan Tuhannya. Bukan gotong royong, karena nilai gotong royong tak ubahnya persoalan tata-laksana sistem yang sejatinya menjadi partikel-partikel keagamaan, atau tak bedanya soal pilihan suatu negara yang menganut sistem kapitalis atau komunis dalam menjalankan susunan ekonomi dan politiknya.

Penulis adalah mantan Presidium GMNI dan aktif sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

Artikel ini telah dibaca 89 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini