fbpx

KSPI: Potensi Karyawan Kontrak dan Outsourcing Seumur Hidup, Masalah Serius Bagi Buruh

BEKASIMEDIA.COM – KSPI juga mengkritisi pembahasan tentang karyawan kontrak dan alih daya (outsourcing) dalam klaster ketenagakerjaan RUU Ciptaker. Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, adanya karyawan kontrak dan outsourcing seumur hidup, tanpa batasan waktu dan jenis pekerjaan adalah masalah serius sekali bagi buruh.

 

“Dengan sistem yang sekarang, bisa jadi tidak ada pengangkatan karyawan tetap. Karena pengusaha akan cenderung mempekerjakan buruh kontrak dan outsourcing. Ketika tidak ada karyawan tetap dan banyaknya buruh kontrak yang mudah dipecat, dengan sendirinya pesangon dan jaminan sosial seperti pensiun, hari tua, serta jaminan kesehatan akan berpotensi hilang (tidak didapatkan buruh),” kata Iqbal dalam rilis yang diterima bekasimedia.com, Selasa (29/9/2020).

 

Selain itu, Said Iqbal juga mempertanyakan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) untuk karyawan kontrak dan outsourcing. Siapa yang akan membayar JKP mereka? Sebab tidak mungkin buruh membayar kompensasi kehilangan pekerjaan untuk dirinya sendiri, dengan iuran JKP yang buruh ikut mengiur?

 

“Aneh kalau buruh harus membayar kompensasi dengan uangnya sendiri. Itu pun belum jelas, bagaimana kalau pengusaha hanya mengontrak buruh di bawah satu tahun. Berarti buruh kontrak tidak akan dapat JKP, karena dalam omnibus law di atur kompensasi buruh kontrak yang diberikan setelah bekerja selama 1 tahun,” kata Iqbal.

 

Apalagi buruh outsourcing. “Siapa yang membayar JKP-nya? Karena mustahil agen outsourcing mau bayar JKP. Dari mana uangnya? Apalagi kalau outsourcing dikontrak agen di bawah 1 tahun atau perusahaan pengguna pekerja outsourcing mengembalikan ke agen sebelum habis masa kontraknya. Siapa yang bayar JKP-nya?”

 

Belum lagi, siapa yang membayar upah sisa kontrak dari karyawan kontrak dan pekerja outsourcing kalau kontraknya diputus di tengah jalan sebelum habis masa kontrak yang diperjanjikan pengusaha? Apakah pengusaha atau agen outsourcing mau bayar?

 

Said Iqbal juga berpandangan, untuk saat ini tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau JKP untuk karyawan kontrak dan outsourcing dibayar negara. Bisa jebol APBN. Karena jumlah karyawan kontrak dan outsourcing itu 70% sampai 80% dari total jumlah buruh formal yang bekerja sekitar 56 juta orang, serta turn over  keluar masuk mereka sangat tinggi. Jika JKP-nya ditanggung pemerintah, darimana dananya?

Baca juga: UMSK Hilang 

Sementara JKP yang ditanggung pemerintah, menurut kesepakatan Panja adalah JKP 9 bulan untuk pesangon karyawan tetap. Bukan JKP untuk karyawan kontrak atau outsourcing melalui agen. Bisa saja pemerintah menyetujui ini, karena tahu kalau ke depan sudah tidak ada lagi karyawan tetap.

 

“Satu yang pasti, dengan DPR setuju dengan karyawan kontrak dan pekerja outsourcing seumur hidup berarti no job security atau tidak ada kepastian kerja bagi buruh Indonesia. Lalu di mana kehadiran negara dalam melindungi buruh Indonesia, termasuk melindungi rakyat yang masuk pasar kerja tanpa kepastian masa depannya dengan di kontrak dan outsourcing seumur hidup? Dengan disahkannya omnibus law, apakah mau dibikin 5% hingga 15% saja jumlah karyawan tetap? No job security untuk buruh Indonesia, apa ini tujuan investasi?”.

 

Dijelaskan lebih lanjut, “Bisa dipastikan, isu hilangnya UMSK, berlakunya karyawan kontrak dan outsourcing seumur hidup, akan mendapatkan perlawanan keras dari serikat buruh.  Karena hal kini akan merugikan masa depan puluhan juta buruh yang existing dan calon buruh yang akan memasuki pasar kerja tanpa perlindungan negara, karena JKP hanyalah pemanis saja. Wong pemerintah saja mengakui bahwa hanya 27% pengusaha yang bayar pesangon apalagi harus bayar JKP untuk karyawan kontrak dan outsourcing? Sangat mustahil pelaksanaan di lapangan.”

 

“Sejarah mencatat hari ini, DPR RI telah mengesahkan perbudakan modern (modern slavery) melalui pengesahan omnibus law. Ini harus ditolak demi masa depan rakyat yang akan memasuki pasar kerja. Negara harus hadir tidak boleh tunduk oleh modal,” tegas Said Iqbal.

%d blogger menyukai ini: