BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Keagamaan · 17 Mei 2026 16:48 WIB ·

UBN Kritik Media yang Men-Tuhankan Algoritma dan Viralitas


 UBN Kritik Media yang Men-Tuhankan Algoritma dan Viralitas Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – JAKARTA – Cendekiawan Muslim Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) menegaskan pentingnya peran jurnalis Muslim sebagai “muazin peradaban” yang menyeru umat kepada kebenaran dan keadilan melalui karya jurnalistik.

Pesan itu disampaikan dalam pengajian rutin bersama jurnalis Muslim di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/5/2026).

Menurut UBN, jurnalisme Islam tidak boleh hanya mengejar viralitas, algoritma, dan keuntungan semata. Media, kata dia, harus menjadi sarana dakwah yang menyeru manusia kepada nilai-nilai tauhid, keadilan, dan persatuan umat.

“Seorang jurnalis Muslim sebetulnya statusnya muazin, tetapi muazin zaman, muazin peradaban,” ujar UBN.

Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu mengaitkan peran jurnalis dengan perintah Nabi Ibrahim AS dalam Surah Al-Hajj ayat 27, “Wa adzdzin fin-nasi”, yakni menyeru manusia untuk mendatangi rumah Allah.

UBN menilai media Islam semestinya menjadi tempat umat menemukan kebenaran sekaligus kekuatan moral. Ia juga mengkritik kecenderungan media modern yang terlalu tunduk pada algoritma media sosial dan orientasi viral.

“Persoalan kita itu terlalu menuhankan algoritma, FYP, viralitas,” kata Pimpinan Perkumpulan AQL tersebut.

Dalam kesempatan itu, UBN menegaskan kualitas spiritual seorang jurnalis berpengaruh terhadap karya jurnalistik yang dihasilkan. Karena itu, ia sengaja menggelar pengajian pada waktu Subuh guna membangun disiplin ibadah di kalangan jurnalis Muslim.

Menurut dia, jurnalis yang menjaga shalat berjamaah akan lebih hati-hati dalam menulis dan mengambil keputusan. Sebaliknya, tulisan yang lahir tanpa kedisiplinan spiritual berpotensi membawa dampak buruk bagi masyarakat.

UBN kemudian memaparkan empat prinsip jurnalisme Islam. Pertama, menjadikan kebenaran sebagai kiblat editorial, bukan kepentingan modal, tekanan politik, ataupun fanatisme kelompok.

Kedua, menjadikan keadilan sebagai ruh framing pemberitaan. Ia mengingatkan jurnalis agar tidak memelintir fakta demi menyerang lawan atau memperkeruh konflik.

Ketiga, menjaga kesucian bahasa jurnalistik. Menurut dia, bahasa media bukan sekadar alat informasi, melainkan instrumen pembentuk kesadaran publik yang dapat menjaga atau justru merusak martabat manusia.

Keempat, jurnalis Muslim harus siap menghadapi pengorbanan profesional. UBN menyebut ada kalanya berita yang benar tidak populer dan sikap yang lurus membuat seseorang kehilangan akses maupun keuntungan.

“Wanhar itu menyembelih ego, menyembelih ketakutan, menyembelih kerakusan, menyembelih ambisi,” ujarnya.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Wakaf Uang Menjadi Solusi Permasalahan Ekonomi Umat Di Indonesia

27 Januari 2026 - 22:23 WIB

Fleksibel, Private, dan Berkelas Cara Baru Menikmati Perjalanan Umroh Anda

1 Desember 2025 - 12:38 WIB

Tangani Maraknya Pinjaman Ilegal, Bekasi Rumuskan Roadmap Penguatan Ekosistem Keuangan Syariah

20 November 2025 - 12:15 WIB

ICMI Kota Bekasi Dorong Masjid Jadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat, Atasi Jerat Pinjol dengan Pengelolaan ZIS Profesional

18 November 2025 - 20:44 WIB

Queena Bashaer Aisyah, Raih Juara II MTQ Kota Bekasi: Membawa Mimpi Qariah Internasional

26 September 2025 - 20:43 WIB

Santunan Anak Yatim di Masjid Apartemen Grand Centerpoint: Merajut Harapan dan Keberagaman di Hunian Vertikal

18 September 2025 - 22:24 WIB

Trending di Keagamaan