BEKASIMEDIA.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Berita Terbaru · 6 Des 2016 15:59 WIB ·

Panglima TNI: Konflik Timur Tengah Bisa Pindah ke Indonesia


 Panglima TNI: Konflik Timur Tengah Bisa Pindah ke Indonesia Perbesar

BeritaSumbar.com – Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, memaparkan kajian tentang terorisme dalam seminar ‘Preventive Justice dalam Antisipasi Perkembangan Ancaman Terorisme’ yang diadakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa 6 Desember 2016. Gatot menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap aksi terorisme di wilayah Asia Tenggara.

Selain menjelaskan kerawanan kawasan Filipina Selatan yang dikatakan sebagai calon kuat basis baru ISIS, Gatot juga mengatakan adanya kemungkinan berpindahnya tren konflik Arab Spring [gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di dunia Arab] dan terorisme ke wilayah negara di sekitar equator (daerah khatulistiwa).

“Terorisme dan konflik yang selama ini kerap terjadi di Timur Tengah atau kita sebut Arab Spring, hampir dipastikan konflik itu yang merupakan berlatar belakang energi (minyak) akan berubah dan berpindah di equator,” kata Gatot.

Menurut Gatot, alasannya, energi yang ada di Timur Tengah sudah mulai berkurang. Sehingga, kelompok teroris akan mencari alternatif tempat lain.

“Energi, pangan, air, ekonomi, adanya di equator. Di Indonesia juga termasuk paling kaya. Maka dari itu, Filipina Selatan juga disiapkan oleh ISIS,” ujarnya.

Untuk itu, dalam mendukung penanggulangan aksi teror di Indonesia, Gatot menganggap pentingnya monitoring dan pengawasan yang dicanangkan oleh BNPT dan Polri. Dia juga mengingatkan bahwa isu terorisme juga merupakan sebuah alat legalitas untuk negara lain agar dapat masuk dan mengintervensi negara. Sehingga, hal tersebut sangat rawan dan harus dicegah.

“Kemudian saya ingatkan bahwa terorisme di dunia ini juga sebagai alat legalitas, contohnya Irak dan Libya. Kemudian negara-negara lain bisa masuk terlibat, ini berbahaya,” katanya.

Sumber sumbar

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Temui DPR, Koalisi Buruh Desak RUU Ketenagakerjaan Batasi Kerja Kontrak Maksimal Satu Tahun dan Kembalikan Upah Minimum Berdasarkan Survei KHL

30 Juli 2026 - 04:26 WIB

Puluhan Organisasi Wartawan Solid, HPN Bekasi Raya 2026 Siap Digelar di GCC

18 April 2026 - 18:37 WIB

Protes Status Tersangka Tukang Ojek Akibat Jalan Berlubang, F-Speed Pandeglang Tuntut Keadilan

24 Februari 2026 - 16:21 WIB

Kelola 77 Persen Sampah, Banyumas Siap Jadi Percontohan Nasional

4 Februari 2026 - 07:29 WIB

947 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap II Kota Bekasi di BKN Jakarta

6 Mei 2025 - 08:42 WIB

Pemkot Bekasi Bekukan Sementara Worldcoin dan World ID Buntut Pemindaian Retina

5 Mei 2025 - 10:12 WIB

Trending di Berita Terbaru