BEKASIMEDIA.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Berita Terbaru · 8 Jan 2015 14:57 WIB ·

Kecelakaan Pesawat Bisa Mengakibatkan Trauma Mendalam


 Kecelakaan Pesawat Bisa Mengakibatkan Trauma Mendalam Perbesar

image

Seseorang mengalami trauma yang mendalam akan menurunkan pola yang sama pada tujuh generasi berikutnya. Trauma tersebut bisa disebabkan berbagai hal, salah satunya kecelakaan pesawat, seperti halnya kecelakaan Air Asia QZ 8501 baru-baru ini.

Ahli Neurobiologis dan Terapis Okupasi Dunia Kim Barthel, menilai bahwa seseorang yang trauma dengan kecelakaan pesawat, atau pernah mengalaminya perlu bantuan seorang okupasi terapi untuk memulihkan jiwanya. Sebab sebanyak 70 persen kehadiran okupasi terapi diklaim mampu mengatasi trauma tersebut.

“Kecelakaan pesawat menyebabkan trauma, kehadiran OT sangat penting disaat terjadi trauma tersebut, 70 persen kehadiran OT kurangi potensi kejadian post trauma,” tegasnya dalam seminar di Vokasi Universitas Indonesia (UI) hari ke II “The Behavioral Detective: Evidence and Art.”

Selain itu, Kim menjelaskan bahwa orang tersebut harus memiliki seseorang disampingnya yang menemani dan mendengarkan. Maka jika trauma berhasil diatasi, seseorang tersebut tak akan ‘menularkan’ trauma pada generasi selanjutnya.

“Ada seseorang yang mendampingi, memegang tangannya mendengarkan agar tak terjadi trauma berkepanjangan,” jelasnya.

Menurut Kim, kecelakaan pesawat menyebabkan trauma sosial. Sebab manusia pada umumnya memiliki rasa takut jika ia dekat dengan kematian.

“Memang kejadian pesawat ada peluang memunculkan trauma sosial, orang takut pada kematian, rasa takut alami yang dimiliki seseorang,” tegasnya.

Maka hal itu justru dimanfaatkan oleh media massa untuk terus mengulang kejadian tersebut kepada khalayak ramai. “Walaupun takut tetapi mengapa terus ditonton, karena orang pasti merasakan empati. Karena tubuh memiliki mirror neuron, tubuh bisa bercermin. Begitupun saat peristiwa 9 September WTC di Amerika Serikat yang kerap diulang media massa,” pungkasnya. (ma/eas)

Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Temui DPR, Koalisi Buruh Desak RUU Ketenagakerjaan Batasi Kerja Kontrak Maksimal Satu Tahun dan Kembalikan Upah Minimum Berdasarkan Survei KHL

30 Juli 2026 - 04:26 WIB

Puluhan Organisasi Wartawan Solid, HPN Bekasi Raya 2026 Siap Digelar di GCC

18 April 2026 - 18:37 WIB

Protes Status Tersangka Tukang Ojek Akibat Jalan Berlubang, F-Speed Pandeglang Tuntut Keadilan

24 Februari 2026 - 16:21 WIB

Kelola 77 Persen Sampah, Banyumas Siap Jadi Percontohan Nasional

4 Februari 2026 - 07:29 WIB

947 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap II Kota Bekasi di BKN Jakarta

6 Mei 2025 - 08:42 WIB

Pemkot Bekasi Bekukan Sementara Worldcoin dan World ID Buntut Pemindaian Retina

5 Mei 2025 - 10:12 WIB

Trending di Berita Terbaru