Perempuan di muka bumi ini sepertinya patut berbangga karena selalu punya hari istimewa. Ada Hari Ibu, Hari Anak yang sudah pasti berkaitan juga dengan peran ibu sebagai sekolah pertama bagi anak juga momen hari perempuan internasional.
Hari Perempuan Internasional sendiri diperingati setiap tanggal 8 Maret.
Memang banyak hal yang bisa dibahas menyangkut perempuan, mulai dari kehidupan pribadi hingga karier. Itulah barangkali yang menjadi landasan momen spesial bagi perempuan diperingati dengan berbagai nama.
Banyaknya hari istimewa bagi Perempuan juga tidak lepas dari peristiwa-peristiwa sejarah di mana kaum perempuan merasa hak-hak mereka di dunia ini harus diperjuangkan. Kontroversi dan isu-isu pun turut berkembang sepanjang perjalanan “memperjuangkan hak perempuan” dalam segala bidang.
Terlepas dari semua itu, nyatanya semua hari bisa sangat spesial bagi siapa saja termasuk bagi perempuan. Hal ini seperti diungkapkan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bekasi, Suci Santy Risalah. Ia menyatakan perempuan selalu punya hari istimewa bukan hanya di momen hari perempuan.
Ia sepakat jika perempuan harus punya peran penting di dunia ini selain pastinya menjadi istri dan ibu yang baik di mana kedua hal itu bagi Suci merupakan jabatan tertinggi.
“Perempuan itu harus mandiri dan mau mengembangkan bakatnya. Perempuan tidak harus berada di balik dapur dan punggung laki-laki. Bukan untuk mendominasi, tapi perempuan pun harus punya peran penting selain menjadi istri dan ibu karena keduanya merupakan jabatan tertinggi seorang perempuan,” ujar ibu 3 anak ini.
Perempuan yang aktif sebagai blogger ini juga menyemangati para perempuan agar percaya diri mengembangkan bakat terpendam di dalam dirinya sehingga para perempuan tidak lagi merasa “dianaktirikan” peradaban karena tidak banyak yang bisa ia lakukan di luar rumah
Perempuan, kata Uchi, begitu ia biasa disapa, tetap harus mampu mandiri baik secara finansial maupun pribadi di samping kewajiban untuk berbakti dan mengabdi.
“Kalau bisa nulis, kembangkan bakat nulisnya. Jangan hanyut dalam lingkaran pekerjaan rumah saja.
Dengan begitu, tidak ada yang merasa di’anak tirikan’,” imbuhnya.
Saat ditanya terkait kesetaraan gender yang menyeruak seiring momen spesial Hari Perempuan Internasional, pemilik nama pena Risalah Husna ini menyatakan kesetaraan gender hanyalah isu yang dibuat kaum feminis karena mereka merasa ada ketidakadilan dalam perlakuan terhadap kaum perempuan.
“Bagimanapun, kesetaraan gender itu cuma isu yang dibuat-buat kaum feminis, di mana mereka merasa ada ketidakadilan. Sementara dalam Islam, perempan tetap punya level paling tinggi dan mulia. Asalkan perempuan bisa menjalankan perannya sesuai dengan apa yang Allah tetapkan.”perempuan selalu mulia”.” Pungkasnya. (Anr)
The post Ketua FLP Kota Bekasi: “Perempuan Selalu Punya Hari Istimewa” appeared first on BEKASIMEDIA.COM.
Sumber Suara Jakarta











