fbpx

Abu Sayyaf Kembali Sandera Buruh ABK, Iqbal: Pemerintah Super Keledai

Bekasimedia – Buruh Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia kembali dijadikan sandera oleh kelompok Abu Sayyaf dari Filipina. Hal ini sudah terjadi untuk yang ke 4 kalinya dalam 4 bulan terakhir. Buruh yang tergabung dalam KSPI melakukan aksi di Kedubes Filipina, Kamis (14/7/16) siang ini. Dalam aksinya, buruh menilai penyanderaan ini menandakan bahwa pemerintah Indonesia dan Filipina gagal dalam melindungi perairan dari gangguan kelompok Abu Sayyaf.

Presiden KSPI Said Iqbal menilai, “Pemerintah Filipina dan Indonesia seperti Super Keledai”, karena tidak belajar sehingga mengulangi kesalahan dan kelalaian yang sama.

“Seharusnya pemerintah cepat tanggap setelah terjadinya penyanderaan pertama terhadap 10 ABK dari Kapal pembawa batubara dari Kalimantan Selatan menuju Filipina yang disandera sejak 26 Maret 2016 dan baru dibebaskan pada 1 Mei 2016, kemudian penyanderaan 4 ABK kapal yang melintas dari Cebu Filipina menuju Tarakan Kalimantan Utara yang disandera pada sejak 15 April 2016 dan baru dibebaskan pada 11 Mei 2016,” kata Iqbal.

Akibat kelalaian tersebut, 7 ABK kapal asal Kalimantan Timur pembawa Batubara kembali disandera oleh kelomook Abu Sayyaf sejak 22 Juni 2016. Tidak berhenti sampai disitu, 3 ABK asal NTT yang bekerja di perusahaan penangkapan ikan berbendera Malaysia juga disandera pada 9 Juli 2016 oleh kelompok Abu Sayyaf.

Oleh karena itu, KSPI mengecam kelalaian dan tidak seriusnya pemerintah Filipina terhadap penyanderaan yang terus terjadi berulang di perairan Filipina.

Kami kaum buruh merasa khawatir jika tidak diambil tindakan tegas dan cepat, akan terjadi penyanderaan-penyanderaan berikutnya. KSPI juga mendesak pemerintah Indonesia dan Panglima TNI tidak takut mengerahkan pasukannya untuk membebaskan ABK yang disandera, seperti yang pernah dilakukan di Somalia.

Mengapa KSPI peduli pada para ABK yang disandera ? Karena 10 ABK yang disandera adalah para buruh, bahkan 3 diantaranya adalah para TKI yang bekerja di perusahaan penangkap ikan dari kapal berbendera Malaysia.

Namun sayangnya pemerintah Indonesia dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja sama sekali tidak ada kepedulian terhadap nasib 10 ABK. Padahal pemerintah berkewajiban melindungi para pekerja dan warga negaranya. Seharusnya, Menteri Tenaga Kerja Indonesia juga pro akrif bukan hanya Panglima TNI dan Kementrian Luar Negeri.

ABK ini adalah para buruh, mereka digaji dan mendapat perintah kerja dari perusahaan mereka bekerja, Karenanya kita minta sebaiknya Mentreri Tenaga Kerja mundur sebelum di reshufle karena sama sekali tidak peduli dalam 4 kali penyanderaan selama 4 bulan terakhir ini.

Jika pemerintah Indonesia dan Filipina tak berdaya, KSPI akan mengambil strategi & lobi-lobi internasional melalui ILO dan jaringan serikat buruh Internasional. Termasuk kami akan menggugat pemerintah RI yang gagal melindungi pekerjanya. Para ABK yang disandera ini, sebenarnya sama saja dengan pekerja yang bekerja di pabrik kemudian diculik.

“Negara harus melindungi, ini sudah 4 kali terjadi dalam waktu yg tidak terlalu lama, keledai saja hanya 2 kali jatuh,” ujar Presiden KSPI Said Iqbal.

Kemudian KSPI mengeluarkan 6 poin pernyataan sebagai berikut:

1. Meminta pemerintah Filipina berperan aktif dalam membebaskan 10 ABK yang masih di sandera.

2. Mendesak pemerintah dan Militer Filipina terbuka dan bersedia bekerja sama dengan pemerintah dan Militer Indonesia.

3. Meminta Panglima TNI untuk menyerbu saja para penyandera, jika Militer Filipina tidak membuka ruang. KSPI khawatir akan keselamatan para ABK yang disandera yang sudah memasuki hari ke 22. Dalam hal ini, kita bisa lihat ketika kapal Cina mau ditangkap, mereka menyerbu. Jadi kita punya hak menyerbu, jika tidak maka kita akan dianggap lemah. Panglima TNI jangan hanya beretorika.

4. Mendesak Pemerintah Indonesia, tidak terlalu lama melakukan diplomasi, Diplomasi seharusnya sekali dua kali saja. Jangan sampai Pemerintah Indonesia hilang wibawa dan kedaulatannya.

5. Menagih janji wakil Presiden Jusuf kalla agar mengimplementasikan janjinya stop pengiriman Batubara ke Filipina, beri pelajaran kepada pemerintah Filipina. Aroyo dan Aquino saja ketika tenaga kerjanya diluar negeri di ancam hukuman mati mempunyai sikap yg tegas.

6. Keluarkan Travel Warning dan pastikan keamanan perairan dari dan menuju Fhilipina.

“Kami merasa buruh tidak dilindungi oleh pemerintah. Karena nya kami melakukan aksi dan terus akan meningkatkan eskalasi aksinya jika pemerintah Indonesia dan Filipina tidak serius membebaskan para sandera,” pungkas Iqbal. (*)

Be the first to comment on "Abu Sayyaf Kembali Sandera Buruh ABK, Iqbal: Pemerintah Super Keledai"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: