Bekasimedia – Sejumlah Ormas Islam, alim ulama akan datang ke Lajnah Falaqiyah Al Husiyyah sore ini. Tempat tersebut sejak dari dulu menjadi tempat untuk melihat Hilal. Lajnah ini didirikan oleh KH. Abdul Hamid, bersama sepupunya KH. Muhajirin (Pendiri Pondok Pesantren An Nida, Bekasi), bersama ulama ulama lain seperti KH. Dzinnun, KH. Abdullah Azhari, KH. Abdul Salam, serta KH. Abdul Halim akhir tahun 50-an. Mereka menguasai ilmu falak.
Bertempat di Kampung Baru ini dulunya bertempat di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Karena lokasi sangat jauh dari tempat tinggal ulama ulama tersebut. Dipindahkan ke area persawahan Cakung. Kini bertahan sampai sekarang di Jalan Tipar Cakung, Kampung Baru, Rt. 03, Rw. 09 No.03, Cakung Barat, Jakarta Timur
Awalnya hasil melihat hilal yang mereka lakukan hanya diterima oleh keluarga dan tetangga dekat. Namun, suatu ketika KH. Dzinnun yang waktu itu sedang bertugas sebagai ketua hakim Pengadilan Agama Bekasi, mengusulkan untuk membawa hasil penelitian mereka ke Departemen Agama (sekarang Kemenag RI) Hasilnya, dalam sidang Isbât (penetapan awal dan akhir Ramadan) yang diselenggarakan oleh Depag, hasil penelitian tersebut dianggap tepat dan sesuai Dengan koridor disiplin keilmuan astronomi. Sejak itu pula, hasil penelitiannya dijadikan rujukan oleh Depag dan masyarakat luas, sehingga wilayah Cakung dikenal sebagai salah satu tempat hisab dan rukyat di Indonesia.
Sayangnya pada beberapa tahun lalu. Hasil penglihatan hilal Cakung dipertanyakan karena kondisi tempat ini tidak layak digunakan untuk observasi, terdapat banyak gedung tinggi yang dapat menghalangi medan pandang perukyat. Selain itu sering kali Cakung berhasil melihat hilal ketika hilal berada pada posisi dengan kemungkinan belum bisa terlihat, sehingga menimbulkan kontroversi di masyarakat.
Sedangkan dari aspek Astronomis, di Cakung merupakan daerah perkotaan yang banyak dijumpai aktivitas industri, bandara, dan terminal (Pulogadung), sehingga rawan polusi udara yang dapat mencemari kecerahan langit di Cakung yang dapat menyebabkan ketebalan awan, dan dapat merugikan pelaksanaan rukyat al hilal.
Dari segi peralatan tempat hilal Cakung masih tradisional dengan menggunakan kekeran kayu. Sekarang menurut berbagai sumber, Cakung sudah direnovasi, gedung sudah ditinggikan untuk menjadikan lebih ideal sebagai tempat melihat hilal. begitu juga peralatan pengamatannya.
Dibalik kontraversi, Pengamatan di cakung bersejarah, dan bagus sebagai tempat rujukan bagi yang ingin belajar melihat hilal secara tradisional dibandingkan di Bosscha Bandung yang sudah modern. (i)
The post Menunggu Celurit Cahaya (Hilal) appeared first on Bekasi Media.
Sumber Suara Jakarta











