fbpx

Muntok, Kota Kecil Di Pulau Bangka

DSC01889

Muntok atau Mentok adalah sebuah kota kecil di ujung barat Pulau Bangka, Ibukota kabupaten Bangka Barat. Ini adalah perjalanan pertama kali bagi saya keluar pulau Jawa, seorang diri. Tak ada satupun yang saya kenal di Muntok. Tidak ada saudara, teman bahkan kerabat jauh. Hanya seorang kenalan baru yang hanya saya dengar suaranya lewat telepon.

Saya memesan tiket pesawat pagi hari, supaya bisa sampai di Muntok saat siang hari. Sayangnya, pesawat yang akan saya tumpangi delay sehingga saya harus menunggu sampai sore. Akhirnya jam tiga sore saya baru take off, sampai di bandara Depati Amir kira-kira pukul empat sore. Alhamdulillah, travel terakhir ke Muntok masih ada.

Oya, jadwal penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang hampir selalu ada setiap jam. Harga tiketnya pun relatif murah jika dibandingkan tiket ke daerah lain. Dari bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, kita bisa naik travel jurusan Muntok-Pangkal Pinang.Tarifnya Rp 60.000,00. Perjalanan dari bandara Depati Amir memakan waktu 2,5-3 jam dengan kondisi jalanan bagus dan tidak ada macet. Nyaris tidak ada lampu merah, kecuali di kota Pangkal Pinang.

Penumpang yang ingin naik, bisa menyetop dijalan atau langsung menelepon ke sopir travel. Kondisi kendaraan cukup nyaman seperti halnya travel di Jakarta. Selain travel, angkutan umum yang menghubungi Pangkal Pinang adalah bis tiga perempat.

Travel yang saya tumpangi melewati kota Pangkal Pinang yang lumayan ramai. Sampai ke perbatasan kabupaten Bangka Tengah, saya melewati rumah-rumah berjejer di pinggir jalan yang diselingi tanah kosong. Begitu pun saat sampai di kabupaten Bangka Barat.

Deretan pohon- pohon, kebun-kebun sawit dan tanah kosong menyambut saya. Perkampungan hanya terkonsentrasi di beberapa titik saja, selanjutnya kembali diselingi pohon-pohon dan kebun sawit. Beberapa kali, saya menjumpai tanah-tanah gundul dan rusak bekas penambangan timah.

 

Hal unik selama perjalanan ke Muntok; selama perjalanan, sopirlah yang benar-benar menentukan lamanya perjalanan. Sopir bisa berhenti kapan saja dimana saja untuk beristirahat, makan atau sekedar ke toilet. Penumpang harus sabar menunggu. Tidak hanya travel Pangkal Pinang-Muntok saja, Sopir bis tiga perempat jurusan Muntok-Pangkal Pinang pun melakukan hal yang sama. Mereka sangat sering berhenti. Hal ini ada baiknya bagi penumpang yang akan melaksanakan sholat, karena warung-warung itu dilengkapi musholla.

Saya mulai khawatir saat hari matahari perlahan mulai menghilang. Saya sama sekali tidak pernah ke Muntok. Hanya tahu titik hitam di peta yang bertuliskan Muntok di ujung barat pulau Bangka. Hanya tahu cerita tentang kota itu dari internet. Bagaimana saya tahu jalan dan harus berhenti dimana? Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak.DSC01906

Namun ternyata, seisi travel adalah orang-orang yang baik dan ramah. Kami berkenalan dan bercerita dari mana hendak kemana. Ada seorang ibu dengan anak yang masih bayi dengan bawaan yang sangat banyak datang dari Riau, kampungnya. Ia naik pesawat supaya lebih nyaman, sedangkan suaminya naik kapal laut supaya lebih irit. Bayangkan, ibu dengan sang bayi yang masih tiga bulanan itu, terbang dari Riau, transit di Jakarta dan ganti pesawat ke Pangkal Pinang.

Travel mengantar ibu dan bayinya itu ke rumah dinas guru yang sederhana, dipinggir sekolahan, di daerah Simpang Teritip, kabupaten Bangka Barat. Rumahnya ternyata jauh dari jalan raya utama, masuk ke jalan kecil berbelok-belok. Gelap, tidak ada penerangan kecuali sinar-sinar kecil dari kejauhan. Para penumpang travel membantu ibu tersebut turun sampai ke dalam rumah. Tetangganya membantu membukakan pintu dan menyalakan lampu. Lalu travel kembali melaju dan kali ini mengantar ke rumah dinas kecil, mengantar istri seorang polisi yang baru berbelanja di Pangkal Pinang. Rasa khawatir saya perlahan menghilang.

Rasa keberanian muncul untuk mengalahkan rasa penasaran. Perjalanan menantang ini membuat saya semakin paham, ada banyak orang yang mengabdi di pelosok Indonesia.

Akhirnya, di perbatasan kota Muntok, sang sopir mengatakan bahwa sebentar lagi saya akan tiba. Travel yang saya tumpangi, memasuki gerbang kota kecil Muntok. Sepi. Hanya ada suara jangkrik. Jam hampir menunjukkan angka sembilan malam saat saya sampai di lobi hotel Pasadena, tempat saya menginap.

Saya disambut kru hotel yang ramah. Saya akan tinggal dua pekan disini. Selain melakukan penelitian, saya juga ingin mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota Muntok. Saya masih ingat pelajaran sejarah, Soekarno – Hatta pernah dibuang Belanda di pulau ini.

 

Herti Windya
Traveller
Tinggal di Bekasi Barat

Be the first to comment on "Muntok, Kota Kecil Di Pulau Bangka"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: