fbpx

Meski Di Coret oleh Presiden, Pesawat R80 Akan Tetap Diproduksi PT RAI

BEKASIMEDIA.COM – Manajemen PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan swasta yang didirikan oleh (alm.) Bapak B.J. Habibie melakukan klarifikasi yang dikirim ke Bekasimedia.com terkait keputusan pemerintah  memutuskan menghapus dua proyek pengembangan pesawat, yakni R80 dan N245, dari daftar proyek strategis nasional (PSN).

“Keluarnya R80 dari PSN menimbulkan banyak pertanyaan yang ingin kami klarifikasi agar tidak terjadi salah persepsi mengenai rencana RAI membangun pesawat kebanggaan nasional R80, apalagi pesawat terbang itu merupakan proyek terakhir yang direncanakan oleh (alm.) Bapak B.J. Habibie. Dalam kaitan ini, perlu diketahui juga bahwasanya pesawat terbang N245 pun yang direncanakan PT Dirgantara Indonesia (persero) sebetulnya berdasarkan konsep pesawat terbang CN235, rancangan lainnya oleh (alm.) Bapak B.J. Habibie,” tulis Manajemen dalam rilis yang diterima Bekasimedia, Rabu (03/6/2020).

R80 – proyek strategis dalam kesinambungan perkembangan industri dirgantara nasional

 

Bung Karno dan para pendiri negara kita telah menekankan perlunya enguasan teknologi dan industri dirgantara sebagai hal strategis bagi negara dan bangsa. Sebagai negara kepulauan dengan bentang dari barat ke timur sekitar 5,500 km serta populasi keempat besar di dunia, sektor dirgantara merupakan prasarana dan sarana dasar yang sangat vital untuk transportasi orang dan barang ; hal ini berbeda dengan negara-negara lainnya.

Tak dapat dipungkiri, pengembangan industri dirgantara bernilai strategis ekonomi yang sangat besar. Contohnya, Indonesia adalah pengguna pesawat ATR terbesar, yang sekelas dengan R80 di dunia. Jika kita sendiri memproduksi pesawat R80 maka akan memberikan dampak positif dan manfaat strategis bagi perekonomian nasional, daripada kita harus membelinya dari luar negeri.

Selain itu, nilai strategis yang diberikan oleh industri dirgantara nasional adalah memberdayakan dan mengembangkan SDM kita. Selaras dengan perluasan kapasitas industri maka kebutuhan dan penyerapan SDM pun akan terjadi. Kita akan memberdayakan SDM, putra/i terbaik bangsa kita sendiri yang juga tersebar di seantero dunia sesuai kompetensinya untuk bahu membahu mengembangkan industri dirgantara nasional kita.

Dalam sejarah negara kita, istilah strategis memang sejak awal Republik Indonesia digunakan untuk bidang, industri dan teknologi dirgantara. Dalam pidato Bung Karno saat Hari ulang tahun Penerbangan Nasional, 9 April 1962, Sang Proklamator menekankan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akan lebih diperkuat oleh komunikasi darat, laut dan udara yang terjalin dengan baik.

Begitu pentingnya industri dirgantara nasional, Bung Karno meminta agar dibuatkan Patung Pancoran sebagai monumen Patung Dirgantara. Patung yang menggambarkan manusia angkasa yang penuh semangat. Artinya, keberanian bangsa Indonesia menjelajah angkasa.

Gayung bersambut, di masa Orde Baru, pemerintah pun memasukan industri dirgantara nasional sebagai Industri Strategis, dan ketika masuk di Era Reformasi setelah persoalan politik terkait pengalihan kekuasaan mereda, maka di jaman pemerintahan SBY, industri dirgantara nasional meningkat menjadi Strategi Industri Pertahanan . Dan saat periode pertama  pemerintahan Jokowi (2014-2019), industri dirgantara nasional masuk dalam PSN, yakni termasuk R80.

R80 dimaksudkan untuk dapat mengisi pasar domestik dan regional menggantikan pesawat asing, melakukan regenerasi kemampuan teknologi bangsa, yang terhenti karena surutnya PTDI di tahun 2000an dan menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi. R80 mengisi amanah yang diberikan dalam UU No.1 Penerbangan 2009 dan RIPIN 2015.

Tahun 2017, R80 resmi masuk dalam PSN karena memenuhi kriteria strategis di atas. Sebuah rentang waktu yang sangat singkat dalam berkolaborasi mempersiapkan pembuatan pesawat R80. Sedari awal, sesuai visi dan misi pembuatan R80, pemerintah mendukungnya sehingga bisa masuk dalam PSN.

Ada tiga hal substansial yang perlu kami sampaikan dalam hubungan ini:

  1. PSN memberikan pesan bahwa pemerintah mendukung rencana bisnis pengembangan R80.
  2. PSN untuk R80 diberikan dengan catatan, a.l.,

a) pendanaan tanpa APBN,

b) tidak ada jaminan dari pemerintah, Pendanaan diupayakan melalui PINA (Pembiayaan non APBN).

     3. Selama fase design konsep, R80 sepenuhnya dibiayai oleh alm. Bapak BJ Habibie dan pemegang saham RAI          lainnya.

PT RAI menyampaikan terimakasih, selama kehadiran R80 dalam PSN, sudah dirasakan dukungan pemerintah dalam fase konseptual program R80, sebagai berikut:

  • Bappenas/ PINA (Pembiayaan Investasi Non APBN) memberikan

dukungan untuk fasilitasi kepada calon investor.

  • Kemenlu RI yang memberikan dukungan economic diplomacy.
  • BKPM yang memberikan kemudahan dalam mengurus perijinan.
  • Kemenristek memberikan dukungan program PPTI di bidang pengujian aerodinamika.
  • BP Batam memberikan dukungan lokasi Aerospace Park.

“Kami juga berterimakasih kepada masyarakat yang telah mendukung melalui jalur crowdfunding dengan menggunakan platform kitabisa.com. Donasi masyarakat dalam jumlah berapapun sangat berarti, mendukung dan menunjukan semangat rakyat terhadap proyek R80.”

Salah satu contoh pemanfaatan ekosistem di fase konseptual R80, kegiatan R80 menggunakan jasa laboratorium aerodinamika milik Pemerintah dalammelakukan perancangan model dan pengujian terowongan angin di Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika di Serpong.

RAI dalam upaya mendapatkan PSN di 2017 mengusulkan perlunya industri Penerbangan yang mempunyai visi strategis dimana R80 adalah salah satu ujung tombaknya. RAI bersinergi dengan stake-holder industri penerbangan nasional mengusulkan kepada Pemerintah untuk menyusun Roadmap Industri Penerbangan Nasional, yang awalnya dikoordinasikan oleh Kemenko Maritim RI dan saat ini dilanjutkan oleh Kemenristek BRIN.

Roadmap didorong oleh stakeholder industri, agar Indonesia mempunyai visi dan rencana strategis kedepan Industri Penerbangan sebagai ekosistem dan merupakan bagian dari perencanaan pembangunan nasional. Proyek R80 tetap menjadi salah satu penggerak utama roadmap ini. Dalam pandangan

Industri pesawat terbang angkut/ (large transport airplane) masih menjadi penggerak utama industri. Pengembangan wahana baru/ drone,

Berdasarkan data Boeing, market value industri pesawat terbang 2019-2038 adalah 6.8 Trilyun USD, untuk pesawat turbojet regional sampai dengan wide body. Sedangkan menurut ATR Market Outlook dan kajian RAI, market value pesawat regional turboprop untuk periode yang sama adalah sekitar 70 Milyar USD, dengan 3000 pesawat.

Ini merupakan pelengkap dan arah pengembangan teknologi masa depan  menggunakan prinsip otomasi dan sistem propulsi listrik.

Indonesia mempunyai visi di tahun 2045 menjadi lima pelaku ekonomi terbesar di dunia, hal ini mensyaratkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun, dan ini hanya bisa, jika Indonesia membangun industri berbasis  teknologi dan inovasi, tidak hanya mengandalkan komoditas sumber daya alam. Ini yang menjadi pesan utama kehadiran program pengembangan pesawat R80 di Indonesia tercinta ini.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa Industri Penerbangan/ Dirgantara mempunyai nilai strategis yang amat besar dan merupakan pekerjaan rumah/ tantangan Pemerintah dan bangsa ini. Pemerintah perlu mendayagunakan potensi yang ada, untuk meningkatkan perekonomian dan daya saing bangsa, mengejar ketinggalan. Industri Penerbangan harus menjadi salah satu Industri Prioritas di masa datang.

PT RAI berharap dengan penjelasan ini dapat sedikit menjawab dan mengobati kerinduan publik, anak-anak generasi muda Nusantara yang bercita-cita memiliki pesawat nasional bernama R80 yang dicetuskan Presiden Ketiga RI, alm. Bapak B.J. Habibie. Beliau menitipkannya kepada generasi penerus bangsa ini. Marilah kita bahu-membahu membangun negara ini secara konstruktif, strategis dan bergotong royong.Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.

%d blogger menyukai ini: