fbpx

Caleg Sukabumi dari Pemandi Jenazah Menuju Parlemen

BEKASIMEDIA.COM – Memandikan jenazah merupakan profesi yang mulia namun kurang diminati bagi sebahagian orang boleh jadi tidak bergengsi juga dianggap tak banyak keutamaannya.

Berbeda dengan Ibu Any Tri Hendarini warga Perumahan Mekarsari Permai, kelurahan Mekarsari, kecamatan Cicurug, kabupaten Sukabumi ini, meski rumahnya sangat dekat dengan pintu masuk tempat pemakaman warga RW 08 profesi memandikan jenazah sudah ia geluti sejak 2005 yang lalu.

“Berangkat dari pemahaman agama bahwa mengurus jenazah merupakan fardhu kifayah dan juga setelah melihat kondisi realita masyarakat disini yang mendasari saya terpanggil untuk terjun langsung menjadi salah satu pemandi jenazah warga,” ujarnya kepada bekasimedia.com

Any mengaku profesi sebagai tukang memandikan jenazah itu sangat jarang di masyarakat sini, mungkin bisa dikatakan 1000 berbanding 1, selain karena sudah usia tua biasanya memang ada anggapan masyarakat tidak semua orang boleh melakukan profesi ini.

Selain itu biaya pengurusan jenazah juga sangat mahal meskipun biaya ini meliputi biaya memandikan dan yang mengkafani, biaya untuk yang menggali makam, yang mengajikan dan lain- lain. Belum lagi biaya untuk pengajian sampai 7 hari.

“Saya justru tertantangnya adalah membuat tim janaiz (pengurusan jenazah) bukan sekedar tukang memandikan. Keterbatasan orang yang bisa mengurusi Jenazah khususnya memandikan itukan bahaya, karena kematian tidak ada batas waktunya dan jumlah yang meninggalpun tidak bisa diprediksi berapa,” lanjutnya.

Any merasakan banyak hikmah sebagai pemandu jenazah. selain dzikrul maut (selalu ingat dengan kematian) juga lebih bisa merasakan empati pada sesama.

“Di masyarakat kami masih ada fenomena sudah jatuh ketimpa tangga. Sudah Kena musibah masih harus menanggung beban biaya yang cukup besar terkait urusan jenazah dan pasca pemakaman,” lanjutnya.

Pada saat berhadapan dengan jenazah pun, Any bisa menyaksikan tanda-tanda kematian jenazah.

“Ada yang proses penanganannya mudah banget. Tuan rumah yang kooperatif sehingga perlengkapan yang kita butuhkan sudah tersedia, ketersediaan air pada saat memandikan, peran tetangga yang membantu sepenuhnya.
Ada juga yang prosesnya lama karena terkendala macam-macam, sedangkan kalau secara fisik tentu jenazah orang yang beriman biasanya selain bersih, harum dan wajahnya tersenyum dan sanak saudaranya ikhlas melepasnya, begitulah sebaliknya,” ungkapnya.

Any terus bercerita bahwa sebagaimana keyakinan umat Islam, memang sangat mungkin Allah menunjukkan kekuasaan-Nya termasuk yang pernah dialaminya.

“Ada orang yang dalam kesehariannya sering bermaksiat kepada Allah, Pada saat proses memandikan hujan sangat deras sekali dan rumahnya kebanjiran, akhirnya dipindah ke rumah saudaranya namun masih hujan deras juga dan baru bisa dimakamkan malam hari,” jelasnya.

Oleh karena itu ia merasa pekerjaan atau profesi semacam ini justru sangat dibutuhkan masyarakat. Kedepan ia berjanji jika masyarakat kota dan kabupaten Sukabumi mendukung dan memilihnya menjadi wakil rakyat, ia akan lebih memberi perhatian dan menguatkan program pelatihan pengurusan jenazah berbasis masyarakat dan memberikan perhatian kepada mereka yang berprofesi memandikan jenazah.

Tim janaiz Mekarsari kini sudah berjalan dan target saya mereka bisa mengajarkan ilmu ini kepada orang lain di luar komplek.

“Alhamdulillah di sini semua penanganan mulai dari memandikan dan mengafankan jenazah gratis dan selain itu keluarga musibah mendapat bantuan 200 ribu rupiah dari BUK (Badan Urusan Kematian) dan perlengkapan jenazah lengkap.” Pungkasnya. (dns)

Be the first to comment on "Caleg Sukabumi dari Pemandi Jenazah Menuju Parlemen"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*