BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban Dishub Kota Bekasi Batasi Operasional Kendaraan Besar, Khusus Kendaraan Sumbu Tiga Keatas

Gaya Hidup · 29 Des 2023 15:31 WIB ·

Mengenal Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya


 Mengenal Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Mengobatinya Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Penyakit hati atau (psychoses) adalah kelainan kepribadian yang ditandai oleh mental dalam, dan gangguan emosional yang mengubah individu normal menjadi tidak mampu mengatur dirinya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Seseorang yang diserang penyakit hati kepribadiannya terganggu yang dapat menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar.

Penyakit hati merupakan gejala yang umum terjadi pada manusia, sekalipun dalam kadar yang berbeda-beda. Karena hati merupakan inti manusia, hati adalah seonggok daging yang jika ia baik, maka baik juga jasadnya secara keseluruhan, dan jika ia rusak, maka rusak juga daging tersebut seluruhnya.

Dalam perspektif Islam, penyakit hati sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela, seperti iri hati, dengki, arogan, emosional dan seterusnya. Hasan Muhammad Asy-Syarqowi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi, membagi penyakit hati dalam Sembilan bagian, yaitu: pamer (riya), marah (al-ghodob), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was was (al-was-wasah), frustasi (al-ya’s), rakus (tamak), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-‘ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd). Dalam konteks ini penulis ingin menekankan pada empat jenis penyakit hati yang menonjol, yaitu: riya’, marah, membanggakan diri, iri hati dan dengki. Selain empat sifat yang disebutkan dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene), sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia.

Riya’
Riya’ berasal dari bahasa arab ra’a-yara-ruyan wa ru’yatan yang artinya melihat. Sedangkan menurut istilah riya adalah memperlihatkan diri kepada orang lain agar keberadaannya baik ucapan, tulisan, sikap, maupun amal keberadaannya itu diketahui oleh orang lain. Orang yang memiliki sifat riya’ tidak akan pernah puas untuk memperlihatkan amal perbuatannya di khalayak umum sampai ia merasa senang jika ada yang memberikan apresiasi. Allah swt. tidak suka terhadap orang-orang yang berbuat riya’.

Faktor yang menjadi penyebab seseorang berbuat ria ialah karena kurangnya iman kepada Allah swt., ingin dianggap sebagai orang yang merasa paling bisa dalam segala urusan, dan juga tamak terhadap suatu materi yang ada pada orang lain. Terdapat berbagai dampak negatif jika seseorang melakukan perbuatan riya’, yaitu: hidupnya akan menjadi sempit dan gelisah, akan tertutup hidayah dan pertolongan Tuhan, termasuk ke dalam orang yang terlaknat, dan ia telah melakukan perbuatan syirik kepada Tuhannya. Menurut Al-Ghazali, riya’ adalah perbuatan syirik tersembunyi.

Marah
Marah adalah emosi yang ditandai oleh pertentangan terhadap seseorang atau perasaan setelah diperlakukan tidak benar. Hal ini dapat disebabkan karena sesuari hal yang tidak diinginkan, merasa direndahkan. dipojokkan, dan frustasi. Marah juga bisa disebabkan oleh stress, kurang tidur, merasa terancam, dan ingatan yang menyakitkan. Orang yang sedang marah biasanya menimbulkan beberapa pelampiasan, misalnya akan memunculkan caci-makian, kata-kata yang kotor atau keji, melakukan tindakan tindakan yang salah. Apabila orang yang marah tidak dapat mengendalikan dirinya, dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya atau orang lain.

Tidak selamanya sifat marah pada manusia berkaitan dengan hal yang negatif. Ia pun juga bisa berkaitan dengan hal yang positif, seperti marah karena syari’at Allah dilanggar dan marah karena mencegah kemungkaran. Adapun dampak negatif yang ditimbulkan oleh sifat marah yaitu: menjadi pintu bagi setan untuk masuk ke dalam tubuh manusia, mendapatkan murka dan laknat dari Allah, dan mendapatkan kerugian. Dan juga marah bisa berdampak buruk pada kesehatan manusia, seperti gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi, peningkatan resiko penyakit jantung dan masalah mental dan emotional.
Membanggakan diri (‘ujub)
‘Ujub secara bahasa berarti kebanggaan (azzahwu) atau kesombongan (al-kibr). Menurut Ibnul Mubarok sifat ujub ialah ketika seseorang merasa bahwa dirinya mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ujub adalah sifat tercela yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun Rasulnya. Rasulullah bersabda; “Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.
Sifat ‘ujub ini bisa hadir pada diri setiap individu. Terlebih mereka yang mempunyai kelebihan baik itu kelebihan harta, ilmu, jabatan dan sebagainya. Jika kelebihan ini tidak dikelola dengan hati-hati, maka akan mendatangkan sikap bangga dan gampang meremehkan orang lain. Banyak kerugian yang didapatkan.

Iri Hati dan Dengki
Iri hati dan dengki merupakan sikap seseorang yang merasa tidak senang terhadap apa yang orang lain peroleh itu lebih baik darinya. Terdapat banyak penyebab jasad yang bisa datang dari lingkungan, maupun dari dalam diri sendiri. Salah satunya karena kurangnya rasa syukur terhadap apa yang telah ia dapatkan. Dan di antara gejala-gejala yang nampak adalah marah dengan segala bentuknya mulai dari memukul, mencela, menghina, membuka aib orang lain dan lainnya.

Terdapat banyak bahaya dari sifat iri hati dan dengki. Di antaranya merusak ketaatan, menghalangi diri dari syafa’at, menjerumuskan diri ke dalam neraka, dan terhalangnya kesuksesan.

Cara Mengobatinya
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai manusia agar terhindar dari penyakit tersebut. Di antara nya: memperbanyak baca Al-qur’an dan perbanyak tafakur, membiasakan diri untuk selalu menerima apa yang telah ia peroleh walaupun itu sedikit, memperbanyak dzikir kepada Allah, bergaul bersama dengan orang-orang yang saleh, dan selalu membiasakan untuk muhasabah diri sendiri. Semoga kita semua bisa terhindar dari macam macam penyakit hati tersebut. Aamiin. (Halimatus Sa’diyah/Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah)

Artikel ini telah dibaca 127 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Grand Opening Jus Masaki Signature Bekasi Meriah Bagi-bagi Voucher Makan Kepada Pengunjung

22 Juli 2024 - 19:36 WIB

Samsung Galaxy S24 Hadir dengan Galaxy AI, Platform Kecerdasan Buatan Generatif

20 Februari 2024 - 16:25 WIB

Panduan Lengkap untuk Menjelajahi Wisata Ancol: Wahana dan Harga Tiket

12 Februari 2024 - 14:38 WIB

Menyulam Budi Pekerti : Menggali Makna dan Pentingnya Pendidikan Karakter

2 Januari 2024 - 19:01 WIB

Peran Media Sosial X Terhadap Generasi Muda Wanita

29 Desember 2023 - 16:32 WIB

Tips Pola Makan Sehat dalam Keseharian

29 Desember 2023 - 12:00 WIB

Trending di Gaya Hidup