Selasa, September 21, 2021
Beranda Opini Infodemi, Agama dan Sains

Infodemi, Agama dan Sains

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Kurva pandemi Indonesia hingga kini tak kunjung melandai. PPKM Darurat tak mempan. Malahan penambahan kasus Covid-19 dan kematian harian di republik ini mencapai rekor tertinggi dunia selama beberapa hari. Total terkonfirmasi positif per 20 Juli 2021 sudah mencapai 2,95 juta jiwa. Salah satu penyebab kondisi kita kian parah adalah adanya infodemi alias wabah informasi kesehatan. WHO mendefinisikannya sebagai “An overabundance of information –some accurate and some no – that makes it hard for people to find trustworthy sources and reliable guidance when they need it.”

Istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Gunther Eysenbach, pada tahun 2002 itu kini menjadi kenyataan yang menyulitkan penanganan wabah. Menurut Kemenkominfo, per 12 Juli 2021 terdapat 1.735 temuan isu hoaks seputar Covid-19 yang diunggah melalui di Facebook, Youtube, Instagram dan Twitter. Penyebarannya semakin cepat karena didistribusikan melalui aplikasi Whatsapp yang pada 2019 saja sudah digunakan 83% penduduk Indonesia, termasuk di dalamnya imigran digital dari generasi X dan baby boomer yang menurut Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) relatif lebih rentan terpapar hoaks. Apalagi yang dibumbui teori konspirasi dengan judul bombastis. Setiap hari hoaks menetas melalui grup keluarga, tetangga, organisasi hingga alumni sekolah.

Infodemi ini beragam kontennya. Mulai dari oknum dokter hewan yang menyatakan covid tidak berbahaya dan hanya seperti flu biasa sampai orang-orang yang mengklaim menemuan ramuan mujarab penyembuh covid. Pada tahun 2020, media mencatat munculnya Tri Dewa. Warga Solo ini mengaku menemukan ramuan herbal yang dapat menyembuhkan pasien positif covid-19 dari olahan 20 jenis empon-empon meski sama sekali belum pernah melakukan pengujian di laboratorium. Tersiar pula kabar bahwa Kementerian Pertanian akan memproduksi kalung eucalyptus yang aromanya diyakini bisa membunuh virus koronabaru. Kegegeran itu kemudian hilang sendiri seiring bertubinya kritik dari kalangan ilmuwan.

Setelah itu, muncul pula Profesor Hadi Pranoto. Lelaki yang belakangan ketahuan gelar profesornya abal-abal ini telanjur diwawancai penyanyi Anji di kanal Youtube-nya. Dia mengaku sudah menyembuhkan pasien covid, padahal itu semua bualan belaka. Kehebohan ini berujung dengan penangkapan keduanya oleh pihak kepolisian. Namun bagaimana dengan dengan 3,67 juta lebih pengikut Anji yang sudah terpapar informasi palsu tadi? Mereka sudah memengaruhi yang puluhan juta warganet lain yang tidak sempat menerima klarifikasi dari ahli.

Apa akibat dari distribusi hoaks ini? Publik menganggap enteng virus ini. Mereka enggan mematuhi protokol kesehatan, tak mau memakai masker hingga ogah mengikuti program vaksinasi. Bagi yang sudah terdoktrin teori konspirasi, semua yang terjadi hari ini hanyalah rekayasa elite global. Tidak jelas sebenarnya siapa elite global itu. Banyak yang menunjuk kepada Bill Gates sebagai dalang pandemi berbekal video orasinya di TedEx yang dipenggal. Kadang tuduhan ini diarahkan kepada persekutuan rahasia seperti Illuminati dan Freemasonry. Lain waktu dialamatkan kepada Komunis Cina karena dugaan virus ini sengaja dibiakkan di Wuhan, tapi ada kalanya juga disematkan kepada Zionis Yahudi. Secara sarkas mereka mempelesetkan covid dengan “kopet”, menyebut pandemi sebagai “plandemi” bahkan mengejek vaksin dengan istilah “fucksin”. Orang yang mengedukasi digelari scaremonger (penebar ketakutan).

Terakhir, masyarakat terdistraksi dengan viralnya pernyataan dari dr. Lois Owien yang menuding bahwa puluhan ribu kematian yang ada bukan disebabkan oleh virus koronabaru, melainkan karena interaksi obat bahkan salah obat. Hal ini merupakan tuduhan serius terhadap rumah sakit dan tenaga kesehatan. Kemudian setelah ditangkap pihak berwajib, Lois meminta maaf dan mengaku pernyataannya tanpa didasari riset, walakin para pengikutnya tetap ngotot bahwa pernyataan mutakhir sang idola yang diduga ODGJ itu adalah karena “suara kebenaran dibungkam oleh rezim”.

Setiap ada ahli yang memberi penjelasan ilmiah lekas-lekas dicap sebagai bagian dari konspirasi. Pasalnya, seperti diulas Mark Lorch di The Conversation, mereka sudah terkena bias informasi. Mereka hanya memercayai informasi yang mendukung gagasan awal yang dipercaya sekaligus menyingkirkan informasi lain yang bertentangan Maka grup-grup WA dan lini masa media sosial kita pun kini terasa seperti zaman kegelapan di Abad Pertengahan di mana masyarakat ramai-ramai menolak sains dan para saintis. Itulah sebabnya alih-alih herd immunity (kekebalan komunal), yang muncul menurut epidemiolog FKM UI dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D adalah herd stupidity (kebodohan komunal).

Mabuk Beragama

Di antara fakta menyedihkan dari fenomena infodemi ini adalah motif religius saat menolak berbagai anjuran ilmuwan. Saat ada pedoman agar menjaga jarak dalam shaf shalat berjamaah dimuntahkan tuduhan bahwa itu adalah “mazhab WHO dan antek Dajjal”. Ketika Majelis Ulama Indonesia menerbitkan fatwa untuk zona risiko tinggi agar shalat di rumah, maka beredar agitasi “hanya komunis, setan dan Iblis yang menutup masjid.” Di samping itu ada pula yang serampangan membandingkan dengan perjuangan membela masjid suci Al-Aqsha, “Di Palestina berani mati agar masjid dibuka, di sini takut mati sehingga masjid ditutup.” Mereka tidak tahu bahwa Al-Aqsha dan masjid lainnya di Palestina juga pernah ditutup saat angka covid-19 sedang meroket.

Terkait vaksin, masih banyak yang menyebar kebohongan bahwa vaksin tersebut mengandung babi sehingga haram digunakan. Padahal MUI sudah memberi fatwa halal. BOIM sudah tegaskan aman. Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Al-Washliyah telah keluarkan imbauan. Otoritas ulama dari negara muslim lain seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, Qatar dan Malaysia juga menyerukan umat untuk ikut vaksinasi. Tapi mereka tetap keukeuh dengan pendapat pribadinya. Sikap semacam inilah yang disebut Wasekjen MIUMI, Fahmi Salim sebagai mabuk beragama. Mengutamakan hawa nafsu daripada kepakaran para ulama. Buya Yunahar Ilyas menyindir tajam, “Jika cocok dengan keinginan, kalian ikuti, tapi jika tak cocok, kalian bantah. Sesunguhnya kalian tidak mematuhi ulama tapi memanfaatkan ulama.” Ke manakah yang dahulu mengaku pengawal fatwa ulama?

Lalu mengapa bisa demikian? Tidak bisa dipungkiri ada sejumlah oknum muballigh yang populer dengan pengikut banyak di media sosial mengeluarkan pernyataan kontroversial menolak rekomendasi para saintis. Meski sebagiannya bahkan bukan berlatar akademik pendidikan agama, para penceramah itu memiliki jamaah yang fanatik. Salah satunya mengatakan haram menggunakan masker karena merupakan aturan Yahudi. Padahal di Israel sana, sejumlah covidiot menuduh pandemi ini adalah konspirasi Muslim agar semua warga memakai cadar.

Bila saja Imam Syafi’i masih hidup hari ini, tentu beliau akan berlepas diri dari pendapat yang mengingkari sains tersebut. Dalam Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, beliau menulis “Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” Artinya untuk perkara kesehatan, beliau menyerahkannya kepada pakar di bidangnya yaitu dokter. Hal ini selaras dengan sikap Nabi Muhammad Saw saat ditanya seorang sahabat tentang cara mengawinkan kurma, maka beliau menjawab “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR Muslim).

Bagaimana dengan narasi yang terkesan bijak seperti “takutlah kepada Allah bukan takut kepada virus korona”. Ketua Majelis Tabligh PP KH Fathurrahman Kamal tegas menyebut itu sebagai akidah Neo-Jabbariyah yang menyimpang dari ahlussunnah wal jamaah. Pernyataan itu, tulis beliau, tergolong qaulu haqqin u’ridha bihi al baathil atau sekilas benar tapi ditujukan kepada suatu kebatilan karena sesat dalam meletakkan dalil dan keliru memahami maknanya secara komprehensif. Di samping itu, pernyataan tersebut juga fragmentatif, miskin wawasan realitas serta buta maqashid syariah. Termasuk pula hadits Anas bin Malik yang menyebut bahwa Allah menjauhkan ahli masjid dari penyakit yang banyak disebar untuk menentang kebijakan pemerintah. Ternyata menurut Al-Munawiy dan Al-Albani itu adalah hadits dhaif, sedangkan Ad-Daruquthni menyebutnya gharib (asing). Lagi pula ada kaidah ushul fiqih darul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih. Menghindari bahaya didahulukan daripada mewujudkan kemaslahatan.

Kembali ke Sains

Menyikapi musibah infodemi ini, seyogianya para ulama, da’i dan muballigh mengambil peran dalam mengedukasi ummat. Para jamaah majelis taklim serta pengikut di media sosial harus diarahkan untuk tidak mempertentangkan agama dengan sains. Ibnu Rusyd (w. 1198) memandang wahyu dan akal adalah dua hal yang saling berkaitan sehingga agama dan sains bukanlah musuh bebuyutan. Sejarah kegemilangan peradaban Islam justu menjulang dengan cahaya sains yang gemerlap di Baghdad hingga Cordoba. Untuk mengulangi masa kejayaan itu, tidak cukup sekadar bernostalgia dalam romantisme saja tapi kita wajib meniti langkah serupa untuk memadukan pengetahuan dan iman.

Di masa lalu, manusia sudah pernah menghaapi wabah. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya, Badzlul Ma’un fi Fadhli At Tha’un mengisahkan pada tahun 749 H, kota Damaskus diserang wabah. Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian. Namun orang-orang mengabaikannya, “Kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para petinggi negara. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit.”

Lebih lanjut Ibnu Hajar menceritakan wabah yang menjangkiti Kairo pada tahun 833 H. Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang setelah melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan shalat istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing. “Tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang per hari dan terus bertambah,” tulis ulama kelahiran Palestina itu.

Belajar dari sejarah itu, kepercayaan umat kepada para ahli perlu dikembalikan agar kita selamat melewati badai ini. Para tokoh agama dan pendakwah juga perlu diakselerasi kemampuan literasi informasi, literasi media dan literasi medsosnya karena dunia maya hari ini adalah rimba belantara yang memperlukan peta dan kompas penunjuk arah. “Internet, “ tulis Tom Nichols dalam The Death of Expertise” mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok.”

Jika kita ingin segera hidup normal seperti semula, pemahamat umat harus diubah. Tak boleh lagi ada yang tidak percaya covid, tapi masih jualan obat covid dan menagih bantuan sosial covid. Miris sekali menyimak realitas bahwa Jeff Bezos dan Elon Musk sudah berebut mendarat ke Mars, sedangkan saudara kita masih ada yang percaya terdapat chip dalam vaksin. Fa’tabiru ya ulil albab.

Penulis adalah Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena.

RELATED ARTICLES

Most Popular