Selasa, September 21, 2021
Beranda Opini Marak Generasi Kecanduan Gawai, Begini Cara Islam Menyelesaikannya

Marak Generasi Kecanduan Gawai, Begini Cara Islam Menyelesaikannya

Oleh : Siti Susanti, S.Pd.
Pengelola Majlis Zikir Assakinah Bandung

Pandemi belum juga usai. Berbagai masalah malah bermunculan menimpa negeri ini, tidak terkecuali Jawa Barat. Berbagai solusi yang selama ini ditempuh, ternyata belum efektif menanggulangi permasalahan yang terjadi. Apalagi saat ini muncul problem baru yang harus diselesaikan oleh pemerintah yaitu berkaitan dengan masalah kejiwaan yang dialami oleh generasi muda khususnya anak-anak dan remaja.

Kebijakan sekolah online, menimbulkan banyak anak hingga remaja mengalami lepas kendali dalam penggunaan gawai terutama handphone. Akibatnya, muncul kecanduan hingga menyebabkan masalah kejiwaan. Dilansir inewsjabar.id, berdasarkan catatan RSJ Cisarua pada Januari-Februari 2021, tercatat ada 14 anak mengalami kecanduan gawai sehingga harus menjalani rawat jalan. Sementara, di sepanjang 2020, total terdapat 98 anak yang menjalani rawat jalan di RSJ Cisarua akibat kecanduan gawai (22/3/2021)

Betapa miris, generasi muda sebagai harapan masa depan bangsa, seharusnya memiliki tubuh yang sehat dan mental yang kuat. Namun fakta yang terjadi justru sebaliknya.

Masalah ini muncul akibat penerapan sekulerisme kapitalisme, yang menjauhkan peran Sang Pencipta (sebagai Almudabbir) dari kehidupan. Agama hanya diberi porsi sempit dalam ranah ibadah ritual. Adapun kehidupan, diserahkan pengaturannya kepada akal manusia yang serba lemah dan terbatas. Maka wajar, jika berbagai masalah bermunculan seperti jamur di musim penghujan.

Sekulerisme juga menyebabkan manusia termasuk generasi muda memiliki prinsip hedonisme, yakni menghalalkan segala cara. Produk teknologi yang sejatinya ada untuk memberi manfaat bagi kehidupan manusia, justru dijadikan alat sebagai pemuas kesenangan. Akhirnya, bahagia hanya dimaknai sebagai terpenuhinya kesenangan duniawi. Dan manusia berlomba untuk mengejarnya, seolah dunia adalah kehidupan yang abadi tanpa akan menuju kehidupan akhirat.

Arus sekulerisme ini juga sampai ke keluarga, institusi pendidikan, dan lingkungan. Menyebabkan mereka keliru dalam melakukan pola asuh dan pendidikan. Menjadi fenomena yang mudah disaksikan, orang tua yang memberi handphone, padahal anak belum cukup umur atau belum diberi bekal yang cukup tentang manfaat/mudaratnya.

Kehidupan kapitalistik saat ini menjadikan pertimbangan dalam segala hal adalah untung rugi secara material. Jumlah penduduk Indonesia yang besar, menjadi lahan basah yang menggiurkan bagi para kapitalis global. Mereka membuat produk-produk yang penting untung tanpa memerhatikan keselamatan generasi. Keberadaan aplikasi-aplikasi game online saat ini, tentu para kapitalis besar sebagai penyokong dananya.

Di sisi lain, kebijakan-kebijakan negara lebih memihak kepentingan para kapitalis, dibandingkan keselamatan generasi. Sekaliber negara, sebenarnya akan mudah untuk melakukan counter terhadap aplikasi-aplikasi yang tidak mendidik bahkan membahayakan generasi. Namun ternyata hal ini seolah nampak sulit untuk dilakukan.

Adapun Islam, sebagai agama yang diturunkan oleh Pencipta manusia, memberikan syariah Islam yang akan menjaga akal generasi. Kehidupan kaum muslimin akan diarahkan menuju kebahagiaan hakiki, yaitu kebahagiaan akhirat. Kehidupan dunia akan dipelihara. Individu, masyarakat, dan negara akan saling mendukung ke arah tujuan ini. Halal haram akan dijadikan sebagai patokan dalam menjalani kehidupan, termasuk penyikapan terhadap gawai.

Islam memandang, gawai adalah produk madaniah yang merupakan produk budidaya hasil pemikiran manusia, yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah urusan kehidupan manusia. Maka seorang muslim akan berusaha menguasainya dalam rangka mempermudah kepentingannya, baik urusan keseharian, ibadah, hingga urusan kenegaraan. Keberadaan gawai akan difungsikan sesuai kegunaannya. Yaitu sebagai harta benda yang akan mempermudah manusia dalam memenuhi kebutuhan, bukan alat pemuas lahwun (kesenangan).

Secara individu, seorang muslim akan menjauhi hal yang sia-sia. Mereka menghiasi dirinya dengan firman Allah Ta’ala, di antaranya:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Surat Al an’am ayat 32)

Kehidupan masyarakat pun akan dihiasi suasana amar ma’ruf nahi mungkar. Maka tidak akan ditemukan tempat-tempat hiburan yang akan merusak fisik maupun akhlak masyarakat. Mereka sangat takut akan firman Allah Ta’ala dalam surat Al Anfal ayat 25:
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Ibarat pisau, gawai bisa memberi manfaat atau mudarat. Maka, kebijakan-kebijakan yang jelas akan dibuat negara, terkait menjauhkan konten-konten yang berbahaya bagi kehidupan masyarakat. Misalnya memberikan batasan usia minimal penggunaan gadget, pemblokiran situs/konten yang bertentangan dengan syariat Islam, hingga pemberian hukuman bagi yang melanggar. Kondisi seperti ini sangat mungkin diwujudkan, karena Islam memosisikan negara sebagai perisai masyarakat, sebagaimana hadits Nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang imam(kepala negara) itu laksana junnatun (perisai).” [Hr. Bukhari dan Muslim]
Seorang ulama terkenal, Imam Nawawi RA menjelaskan makna perisai tersebut, yakni seperti pelindung, karena imam mencegah musuh dari perbuatan mencelakai kaum muslimin, dan mencegah sesama manusia (melakukan kezhaliman), memelihara kemurnian ajaran Islam, rakyat berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.

Tiga pilar kehidupan yaitu individu yang bertaqwa, masyarakat yang melakukan amat ma’ruf nahi mungkar, serta negara sebagai perisai, akan mencegah penyakit sosial baik berupa kecanduan gawai, maupun penyimpangan-penyimpangan lain. Bukan hanya untuk generasi muda, tapi untuk seluruh kalangan masyarakat. Dan hal ini mungkin terwujud ketika syariah Islam diterapkan secara kafah (komprehensif).

Demikianlah, penyelamatan masa depan generasi mendesak untuk segera dilakukan. Secara prinsip dan diperkuat dengan realitas, sekulerisme kapitalisme tidak mampu melakukannya. Saatnya, beralih kepada solusi Islam secara kafah. ***

RELATED ARTICLES

Most Popular