fbpx

Mengenal Sosok KH. Mochtar Tabrani, Ulama Berpengaruh asal Kaliabang

K.H. Mochtar Thabrani adalah salah satu ulama kenamaan Bekasi yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Thabrani adalah seorang petani. Lahir di Kaliabang Nangka, Bekasi (sekarang Bekasi Utara) pada tahun 1901, Ayahnya, Thabrani, hanya seorang petani kecil dengan penghasilan tak menentu. Kadang-kadang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Thabrani terpaksa harus berdagang daun sirih.

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, namun cita-cita Pak Thabrani amat tinggi. Ia bercita-cita menjadikan Mochtar seorang ulama. Mochtar kecil pun diserahkan kepada guru Mughni untuk belajar Al-Qur`an. Bukan hanya itu saja, konon, jika ada orang alim berkunjung ke Kaliabang Nangka, Pak Thabrani segera mendatangi orang tersebut untuk minta didoakan agar anaknya Muchtar menjadi orang yang alim kelak. Muchtar kecil kemudian diserahkan orangtuanya untuk meneruskan ngajinya ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Guru Marzuqi, Cipinang Muara.

Setelah menginjak dewasa, dan telah memiliki pengetahuan yang cukup memadai, ia kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan ilmu dan memulai perjalanan dakwah di kampungnya yang saat itu masih kental dan sarat dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Kaliabang Nangka waktu itu sarat dengan pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme. Persembahan untuk makhluk halus dan percaya bahwa benda-benda mati mempunyai kekuatan ghaib dan dapat menolong manusia, seperti sudah mendarah daging. Dari sinilah ia merasa terpanggil untuk membenahi aqidah orang kampungnya, yang sudah semakin jauh dari ajaran Islam yang benar. Sedikit demi sedikit ia mulai mengubah pola hidup keagamaan di kampungnya.

Menjelang usia 20 tahun, Mochtar telah menjadi tokoh pemuda yang paling disegani di kampungnya. Mochtar telah berhasil mengubah dan meluruskan masyarakat Kaliabang Nangka dari pola hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Saat itu juga terbersit di hatinya untuk berangkat ke tanah suci guna melaksanakan rukun Islam yang kelima. Namun keinginan itu tak langsung begitu saja terwujud. Mochtar membutuhkan waktu enam tahun untuk mengumpulkan uang sebesar tiga ribu enam ratus rupiah untuk ongkos berangkat haji yang kala itu masih menggunakan kapal laut.

Mochtar kemudian menimba ilmu kepada beberapa orang guru. Di antaranya adalah Syaikh Muchtar At-Atharid, Syaikh Ahyad dan beberapa orang guru lainnya. Namun guru yang paling dekat dan paling banyak mempengaruhi pola pikir dan perkembangan keilmuannya adalah Syaikh Ahyad.

Memasuk tahun ke-13 belajar di tanah suci, ia memutuskan kembali ke tanah air setelah mendapat restu dari guru-gurunya. Di saat perjalanan pulang menuju tanah air, ketika masih di dalam kapal laut, ia menerima kabar bahwa ayahnya Pak Thabrani telah berpulang menghadap Allah SWT.

Pada tahun 1950, KH. Muchtar yang telah berusia sekitar 41 tahun menikah dengan Hj. Ni`mah Ismail gadis berusia 14 tahun anak dari H. Ismail Kemayoran Jakarta. Ketika itu beliau meminta dua orang sahabatnya, KH. Noer Ali (Ujung Harapan) dan KH. Tambih (Kranji) yang membantu dalam proses lamaran hingga acara pernikahan. Dari pernikahan ini ia dikaruniai 4 putra dan 3 putri.

Suatu hari berkumpulah beberapa orang murid senior KH. Mochtar, di antaranya KH. Alawi, KH, Asmawi, KH. Anwar, KH. Abdullah, Guru Asmat dan Guru Jenih. Dari hasil musyawarah keenam ulama tersebut, tercapailah sebuah kesepakatan bahwa seluruh santri yang mengaji pada keenam ulama tersebut akan diseleksi secara khusus. Bagi santri yang lulus seleksi, maka santri tersebut dapat mengaji di bawah bimbingan langsung KH. Mochtar. Maka terpilihlah sekitar 20 orang santri (angkatan pertama) yang berhak mengaji langsung pada KH. Mochtar. Sementara santri-santri yang lain, yang masih tingkat dasar mengaji pada keenam ulama tadi. Di tahun yang sama, 1950, KH. Muchtar mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Kaliabang Nangka diambil dari nama kampungnya tersebut. Pondok Pesantren inlah yang nantinya menjadi cikal bakal berdirnya Pondok Pesantren Annur yang dikenal sekarang.

K.H. Muchtar biasa mengajar santri-santrinya sambil bekerja di kebun. Santri membaca kitab sementara KH. Mochtar menyimak bacaan santri sambil menyabuti rumput liar yang tumbuh di kebun kangkung, bayam dan jeruk miliknya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya KH. Muchtar memang mengandalkan hasil kebunnya. Jika panen tiba, santri-santrinyalah yang membawa hasil panen tersebut ke pasar.

Selama mengajar santrinya, KH. Mochtar dikenal cukup tegas dan keras. Hal itu sebagai bentuk gemblengan agar para santri belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun. Namun, ada saja santri yang akhirnya putus di jalan karena kurang sungguh-sungguh dan mentalnya yang loyo. Dari 20 orang santri angkatan pertama yang mengaji pada beliau, kini tinggal sekitar 10 orang santri yang betul-betul tekun mengaji hingga tuntas dan mendapat ijazah dari beliau. Dan terbukti, santri-santri yang benar-benar tekun mengaji pada beliau kini telah meneruskan perjuangan beliau dan telah banyak mendirikan Pondok Pesantren, madrasah dan majlis ta`lim.

Angkatan selanjutnya, termasuk di dalamnya putra-putri beliau, KH. Muchtar tetap konsisten dengan sikap tegas dan kerasnya di dalam mengajar. Boleh jadi, putra-putri beliau yang saat itu masih kecil-kecil telah dapat menghapal Al-Qur`an sebanyak 30 juz. Sehingga semua putra-putri beliau kini berhasil menjadi orang-orang yangalim, orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan meneruskan perjuangan beliau. Di antaranya yaitu KH. Aminuddin Muchtar; KH. Aminulloh Muchtar,BA; KH. Ishomuddin Muchtar, Lc; KH. Ishomulloh Muchtar, M.Ed; Ustj. Hj. Hannanah Muchtar, MA; Ustj. Hj. Nurhamnah Muchtar Lc, dan Ustj. Hj. Yayah Inayatillah Muchtar, SH. Pada Tahun 1971, beliau wafat dengan meninggalkan warisan berharga untuk umat, yaitu pondok pesantren dan kitab karangannya, yaitu Targhiib al-Ikhwaan fii Fadhiilah `Ibaadaat Rajab wa Sya`baan wa Ramadhaan dan Tanbiih Al-Ghaafil fii At-Taththawu`aat wa Al-`Ibaadaat Wa An-Nawaafil . Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di Kaliabang Nangka, Bekasi Utara. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki,
sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Jakarta Islamic Centre, 2011)

Source: muidkijakarta.or.id

Be the first to comment on "Mengenal Sosok KH. Mochtar Tabrani, Ulama Berpengaruh asal Kaliabang"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: