Pengurus JSIT: Perkuat Pendidikan Akhlak, Kasus Guru Budi Tidak Boleh Terulang

ilustrasi penganiayaan/Google

BEKASIMEDIA.COM – Kabar duka di dunia pendidikan kembali terjadi, viral di media sosial, seorang guru honorer di Sampang, Madura, meninggal dunia akibat dipukuli oleh siswanya sendiri dari kelas XII SMA Negeri I Torjun berinisial HI.

Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia merasa miris dengan kondisi yang terjadi di Sampang Madura, Jawa Timur ini.

“Kami dari JSIT Indonesia mengucapkan duka yang sangat mendalam atas kejadian ini. Salam dari kami untuk keluarga almarhum dan dunia pendidikan di Madura,” ujar Ketua Divisi Advokasi DPP JSIT Indonesia, Kadarusman kepada bekasimedia.com, Ahad (4/2/2018).

Pegiat Sekolah Islam Terpadu di Jakarta dan Bekasi ini mengingatkan pentingnya pembinaan akhlak dalam proses pendidikan di tanah air. “Inilah mengapa pembinaan akhlak kepada siswa sangat penting. Pendidikan tak sekadar angka prestasi akademik. Tetapi tak hanya itu, harus ada juga pembinaan akhlak. Bagaimana peserta didik harus bersikap.” katanya.

Kemudian, Kadarusman mengingatkan pentingnya peran serta pihak terkait dalam proses penanaman akhlak yang baik pada anak didik.

“Tak hanya guru, tanggungjawab penanaman akhlak yang baik juga harus diperhatikan pihak sekolah, pemerintah daerah, lingkungan masyarakat dan tentu saja orangtua anak itu sendiri,” ujar Direktur Pendidikan Sekolah Islam Terpadu Insan Rabbani Bekasi Barat ini.

Terakhir, Kadarusman berharap hal serupa tidak terulang lagi di dunia pendidikan tanah air. “Pendidikan yang baik adalah masa depan bangsa. Kondisi saat ini memang harus lebih ekstra. Banyak pengaruh-pengaruh negatif yang sampai ke anak didik melalui berbagai media. Semoga kejadian di Madura tidak terulang, jangan sampai terulang. Semoga Allah mengampuni segala dosa Pak Budi dan segala amal ibadahnya diterima,” pungkasnya.

Seperti banyak diberitakan media, Guru Budi dianiaya oleh muridnya berinisial HI di lingkungan sekolah. Kasus pemukulan oleh siswa HI terjadi saat guru Budi menyampaikan pelajaran kesenian.

Saat itu, HI tertidur di dalam kelas, dan Budi langsung menghampiri yang bersangkutan, mencoret wajahnya dengan tinta. Namun, HI tidak terima dan langsung memukul guru Budi mengenai bagian pelipis wajahnya. Budi tidak melawan. Ia mengalah atas perlakuan siswanya HI.

Namun aksi HI tidak sampai di situ. Seusai pulang sekolah, siswa itu menunggu guru Budi di Jalan Raya Jrengik dan kembali menganiaya sang guru. Sesampainya di rumahnya, Budi tiba-tiba pingsan dan langsung dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya.

Hasil diagnosa dokter menyebutkan yang bersangkutan mengalami mati batang otak dan semua organ dalam sudah tidak berfungsi. (eas)

Be the first to comment on "Pengurus JSIT: Perkuat Pendidikan Akhlak, Kasus Guru Budi Tidak Boleh Terulang"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*