Mengapa “Ahmad Syaikhu”?

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan undangan untuk berbagi kiat sukses masuk universitas negeri di SMAN 1 Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Sebagai alumni sekolah tersebut dan rindu juga memang dengan sekolah yang dahulu menjadi tempat saya menimba ilmu tanpa pikir panjang saya konfirmasi kehadiran kepada panitia dan sahabat saya di Ikatan Alumni (IKA) SMANLA.

Dalam program “University Day 2018” beberapa alumni berbagi kiat sukses mulai dari metode belajar, cara mendapatkan beasiswa dan bermacam-macam kiat dibagikan kepada siswa kelas 12. Saya pun turut menyemangati adik-adik SMAN agar lebih mencintai ilmu, capai prestasi puncak, jangan pernah mencoba narkoba, kuatkan networking dan jangan lupa minta doa orangtua.

Tak sempurna rasanya bila ke Cirebon tidak mampir ke rumah orangtua saya di Ciledug, usai acara di SMAN 1 saya langsung tancap gas dengan semangat 45 ke rumah orangtua sambil menikmati awan yang berarak-arakan dan pemandangan kiri-kanan sawah, kebun jagung, tebu dan beton yang mulai banyak.

Sampai di rumah seperti tahu anaknya akan datang, tanpa memberitahu sebelumnya ibu saya sudah duduk di ruang depan rumah sederhana kami yang penuh kenangan masa kecil saya dengan senyum termanisnya, ahh meleleh… ?

Sungkem dengan beliau dan ngobrol ringan melepas rindu, dilanjutkan makan siang. Kata orang tempat terindah dan ternyenyak bila ingin istirahat salah satunya adalah di rumah ibumu, Alhamdulillah bisa melepas lelah sejenak dan memang ASYIK, silakan dicoba..

Setiap bersilaturahim di rumah orang tua saya, salah satu kegiatan saya adalah mengecek barang dan kebutuhan ibu saya apakah sudah lengkap atau ada yang perlu ditambahkan, memantau barang-barang yang masih ada dan telah tiada di rumah dan tiba-tiba pandangan saya tertuju pada foto lama Alm. Bapak saya, KH. Ma’soem bin Aboelkhoir dan ibu saya saat masih muda hingga membawa saya ke masa lalu.

Berdasarkan cerita Ibu saya, Bapak saya dulu sangat mengagumi sosok ulama NU yaitu Almaghfurlah KH. Ahmad Syaikhu, beliau adalah Ketua DPRS era bung Karno dan Warisannya yang kini masih ada adalah Ponpes Al-Hamidiyah di Depok.

23 Januari 1965 saat anak kelimanya lahir, Bapak memberikan nama saya “Ahmad Syaikhu”, jadi mengapa-nya sudah tahukan.. ?

Harapan beliau adalah agar anaknya dapat menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat bagi sesama, begitu doa kedua orangtua saya..

Allah menakdirkan dan saya hari ini pada doa-doa kedua orangtua saya, diawali dari menjadi santri di Buntet Pesantren, menjadi mahasiswa STAN bertemu dambaan hati, menjadi auditor keuangan, menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi, Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Barat dan saat ini menjabat sebagai Wakil Walikota Bekasi.

Dan jika Allah takdirkan, Insya Allah 2018-2023 bersama Mayjen (purn) Sudrajat memimpin Provinsi terbesar di Indonesia, Jawa Barat.

Doa dan harapan orangtua menjadi kiat dan semangat buat saya untuk terus menuntut ilmu dan bermanfaat bagi sesama, itulah alasan saya bisa masuk STAN.

“Kita yang sekarang adalah kita yang di masa lalu dan kita hari esok adalah hasil dari kita yang sekarang. Siapa yang meniti jalannya, akan sampai pada tujuannya..” begitu pepatah arab.

Ahmad Syaikhu

_Calon Wakil Gubernur Jawa Barat_

_____________________________

Refleksi Milad ke-53 Tahun

Be the first to comment on "Mengapa “Ahmad Syaikhu”?"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*