Kasus HIV/AIDS Meroket: Potret Kehidupan Sekuler

Oleh: Novita Fauziyah

HIV AIDS adalah dua kata yang dulu terdengar menyeramkan bagi kebanyakan orang. Yang mengerikan, kini HIV AIDS bukan hanya nyata di Bekasi, melainkan semakin hari semakin mengancam kehidupan masyarakat, terlebih generasi mudanya. Menurut data yang bersumber dari gobekasi.pojoksatu.id, Dinas Kesehatan Kota Bekasi mendata jumlah pengidap HIV di Kota Bekasi berjumlah 6.493 orang, sedangkan pengidap AIDS mencapai 1.383 orang. Jumlah kasus HIV AIDS di Kota Bekasi diproyeksikan naik hingga penghujung tahun 2017. Di Bekasi penularan lebih dominan melalui jarum suntik pemakaian narkotika.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang masuk ke golongan Retrovirus, yakni virus yang memiliki materi genetik berupa RNA tunggal. Untuk melakukan replikasi ia menggunakan enzim reverse transcriptase hingga membentuk DNA untai ganda seperti inangnya. Virus ini termasuk tipe virus yang memiliki selubung. Saat menginfeksi manusia, virus ini akan menyerang sel limfosit T, salah satu anggota dari leukosit yang berperan dalam pertahanan tubuh. Orang yang terkena HIV/AIDS akan mengalami penurunan sistem imun.

Jika kita amati kasus yang terjadi di Bekasi, ada dua kategori yakni orang yang terinfeksi HIV dan orang mengidap AIDS. Jumlah yang terinfeksi HIV hampir lima kali dari orang yang mengidap AIDS. Orang yang terkena HIV berarti ia telah terinfeksi virus HIV. Sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kondisi terparah dari infeksi HIV. Untuk sampai pada tahap tersebut tentu tidak sebentar, namun membutuhkan proses atau waktu yang cenderung lama.

Penanganan sebagai upaya pencegahan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bekasi saat ini adalah berupa klinik voluntary counseling dan testing di wilayah Kota Bekasi. Untuk upaya pengobatan yang dilakukan saat ini lebih bertujuan untuk menekan perkembangbiakan virus karena belum ada obat yang dapat menghentikan penyakit tersebut. (gobekasi.pojoksatu.id).

Upaya pencegahan tentu tidak bisa dilakukan sendiri, namun dibutuhkan kerjasama berbagai pihak.
Salah satu penularan HIV/AIDS adalah penggunaan jarum suntik. Kasus yang terjadi Bekasi lebih dominan disebabkan karena penggunaan jarum suntik saat pemakaian narkotika. Narkotika menjadi penyumbang utama kasus HIV AIDS di Bekasi, di samping seks bebas dan transfusi darah. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penggunaan narkotika pun naik. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Korban rata-rata adalah golongan usia produktif. Mereka adalah tonggak peradaban justru malah menorehkan kerusakan bagi generasi dan peradaban. Inilah potret kehidupan yang bebas dan sekuler. Saat agama dipisahkan dari kehidupan untuk mengatur urusan keduniaan. Saat itu pula lah kerusakan terjadi, salah satunya adalah kerusakan generasi peradaban ini.

Pola hidup dan gaya hidup yang semakin liberal mendorong kondisi menuju terjadinya kasus HIV/AIDS. Narkotika dan seks bebas seakan menjadi hal yang biasa dalam kehidupan yang sekuler. Kebebasan individu terjamin meski tidak lagi memperhatikan apakah sesuai dengan aturan agama atau tidak. Maka kasus HIV/AIDS ini sejatinya bukanlah kasus yang berdiri sendiri, namun berkaitan dengan yang lain dan bersifat sistemik. Untuk itu penanganan yang harus dilakukan pun harus sistemik juga, tidak bisa hanya bersifat parsial.

Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan memiliki solusi dalam menangani kasus HIV/AIDS. Upaya penanganan kasus ini berupa pencegahan dan pengobatan. Pada upaya pencegahan, maka dilakukan dengan menutup hal-hal yang menjadi celah atau pintu masuk penyakit ini. Semua hal-hal yang menjadi pintu masuk terdapat dalam aturan Islam.

Islam mengatur bagaimana hubungan antara laki-laki dan perempuan sehingga mencegah adanya pergaulan bebas, bahkan Islam mengharamkan adanya perilaku seksual yang menyimpang seperti homoseksual yang bisa mengarah ke seks bebas. Islam juga mengharamkan narkotika. Penggunaan narkotika melalui jarum suntik yang bergantian selain menjadi penyebab langsung kasus HIV/AIDS, juga menjadi pengantar seseorang akhirnya bisa kehilangan kesadaran dan bisa mengarah ke seks bebas. Sementara seks bebas sendiri juga menjadi faktor penyebab tertularnya HIV/AIDS. Di bidang pendidikan, Islam memiliki kurikulum yang akan mencetak generasi yang takwa, menjauhkan diri dari hal-hal yang menyimpang dari syariat. Di bidang hukum, Islam mengatur sanksi yang tegas atas perilaku yang menyimpang dari syariat seperti di atas, baik dalam hal narkotika maupun seks bebas. Pada upaya pengobatan, Islam mengatur bahwasanya setiap individu dijamin kesehatannya. Penderita HIV/AIDS mendapat jaminan pengobatan tanpa diberikan beban ekonomi kepada mereka.

Segala solusi yang terdapat dalam Islam tidak akan terwujud manakala tidak didukung oleh berbagai pihak. Aturan-aturan tersebut akan berjalan jika ada tiga pihak yang menopang. Pihak pertama adalah individu. Setiap individu harus memiliki kesadaran yang penuh untuk menjalankan aturan Islam dalam segala aspek kehidupan. Pihak kedua adalah masyarakat. Masyarakat berperan sebagai kontrol atas pelaksanaan aturan kehidupan. Ditumbuhkan rasa saling peduli dan menjamin bahwa aturan tersebut dapat berjalan di lingkungan sekitar. Pihak yang ketiga adalah negara. Negara bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan aturan dan penerapan sanksi yang berlaku. Maka dengan tiga pihak yang saling bekerja sama inilah kasus HIV/AIDS dapat ditangani dengan aturan islam.

Penulis adalah pendidik asal Brebes Jawa Tengah, saat ini tinggal di Rawalumbu Kota Bekasi. Penulis bisa dihubungi di novitafauziyah04@gmail.com

Be the first to comment on "Kasus HIV/AIDS Meroket: Potret Kehidupan Sekuler"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*