Kupas Tuntas Terorisme Menurut Rakyan Adibrata

BEKASIMEDIA.COM – Dari banyak pengamat dan peneliti tentang kontra terorisme dan security issue yang ada di Indonesia, Rakyan Adibrata merupakan salah satunya yang tidak punya latar belakang militer.

Memiliki sertifikasi international dari Lembaga yang memiliki reputasi sebagai pemberi sertifikasi terkait kontra terorisme dan security issue yang berpusat di Singapura yakni Certified Counter Terrorism Practicioner (CCTP) menjadikan Rakyan Adibrata, S.H., CCTP sebagai Ahli Kontra Terorisme Pertama di Indonesia.

Berbagai undangan pertemuan, konvensi, penelitian, seminar dan workshop telah diikutinya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini memberikannya banyak pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisis dan memberikan masukan baik untuk penanganan maupun pencegahan terkait kontra terorisme dan security issue, dan pernyataannya kerap dikutip oleh berbagai media baik nasional maupun internasional.

Senin (11/12/17) koresponden bekasimedia.com berkesempatan mewawancarai Rakyan Adibrata, berikut petikannya;

Bisa anda ceritakan awal mula sebagai peneliti dan pengamat kontra terorisme?

Rakyan Adibrata: Ketertarikan terhadap isu terorisme sudah dimulai sejak sebelum kasus 9/11 di AS. Saat itu saya tengah kuliah di Fakultas Hukum UII Jogjakarta dan sedang berminat dengan isu separatisme bersenjata yang dilakukan oleh Irish Republican Army di Irlandia Utara.

Awal minat itu mengantar saya menemukan sebuah tulisan karya Professor Magnus Ranstorp berjudul “Terrorism in the name of religion” terbit tahun 1996

Saat itu tahun 2000, Indonesia baru saja mengalami aksi teror di malam natal 2000, yang dilakukan oleh Jemaah Islamiyah, Ditahun 2001 kemudian terjadi terorisme 911, yang makin mendorong saya mendalami isu ini

Disaat yang bersamaan di Indonesia terjadi konflik sekterian di Ambon, dimana Laskar Jihad dibentuk di Jogjakarta. Ratusan orang berangkat ke Ambon dibawah bendera laskar jihad dari berbagai latar belakang.

Dilanjutkan bom bali di tahun 2002, tepat satu hari, satu bulan, satu tahun dari aksi teror di menara kembar WTC, Semua ini menjadi landasan awal bagi saya untuk kemudian memutuskan membuat riset akademis tentang terorisme. Dimana kemudian saya merampungkan kuliah hukum saya dengan skripsi berjudul “Pengkategorian GAM sebagai organisasi terorisme internasional (studi banding dengan IRA sebagai organisasi teroris Internasional)”. Sejak itu saya tidak pernah berhenti meneliti aksi demi aksi terorisme didalam dan di luar negeri

Dari hasil riset akademis yang anda lakukan mengenai IRA dan GAM, hal menarik apa yang anda temukan?

Rakyan Adibrata: Bahwa politik mempengaruhi kebijakan negara terkait dengan aksi terorisme. Misalnya, saat itu saya mengkaji aksi-aksi teror yg dilakukan oleh IRA seperti pemboman, penculikan, fundraising. Kemudian mengkomparasikan dengan aksi teror yang dipakai oleh GAM, kedua organisasi menggunakan “terrorism as a tool to achieve their political agenda”.

Bedanya, politik negara Inggris lebih memudahkan mencap IRA sebagai organisasi teroris internasional, sedangkan Indonesia memilih pendekatan yg lebih ‘sederhana’ agar masalah separatisme tidak menjadi konsumsi politik di tingkatan Internasional.

Membandingkan isu terorisme dan keamanan yang ada di Indonesia, menurut anda hal apa membedakan suatu aksi bisa disebut terorisme, separatis dan aksi kriminal biasa?

Rakyan Adibrata: Intention-nya. Alias niat awal, dalam bahasa hukum disebut mens rea, Ingat, terrorisme itu hanya alat, alat untuk mencapai tujuan.

Terorisme sebagai alat bisa dipakai oleh organisasi atau individu manapun, tapi yang pasti pelaku memiliki tujuan dibalik serangan, a political agenda. Aksi kriminal tidak memiliki tujuan politik. Dendam pribadi tidak memiliki tujuan politik

Namun dendam saat melihat seseorang berseragam polisi dan melakukan serangan fisik atau dengan senjata karena pelaku penyerangan ingin membuktikan eksistensi ideologinya, itu masuk sebagai political agenda

Menurut anda penyanderaan 1300 warga oleh kelompok bersenjata OPM dan Penyerangan Kantor Polres Dharmasraya di Sumbar, manakah yang tergolong aksi terorisme dan aksi kriminal?

Rakyan Adibrata: Dua-duanya masuk dalam kategori terorisme. Namun kesensitifan sebuah isu terkadang mendorong pemerintah memutuskan untuk hati-hati dalam menggunakan cap terorisme dalam suatu kejadian. Jangan sampai urusan dalam negeri malah menjadi konsumsi negara-negara asing dalam level internasional.

Sama halnya AS misalnya yang ‘sangat berhati-hati’ dalam penggunaan istilah teroris untuk sebuah insiden yang pelakunya adalah kulit putih dan bukan beragama Islam, Karena menyangkut dengan politik dalam negeri.

Menurut anda apa pilihan politik dalam negeri bagi Pemerintah saat ini?

Rakyan Adibrata: Pemerintah saat ini, pemerintah sebelumnya, bahkan pemerintah era orba.. semua kebijakannya sama terkait separatisme. Itu isu dalam negeri, urusan ‘rumah tangga’. Oleh sebab itu memilih tidak menjadikan spearatisme sebagai obyek pelaku terorisme adalah pilihan diplomasi ke internasional.

Bagaimana dengan isu terorisme yang ada saat ini dan pandangan dunia luar terhadap indonesia? apa pilihan politik pemerintah Indonesia?

Rakyan Adibrata: Terorisme yang menggunakan dalih agama adalah musuh bersama, komitmen Indonesia sama seperti komitmen global. Indonesia mengecam aksi terorisme dimanapun aksinya, di Paris ataupun di Madinah, di Turki ataupun di Marawi.

Saat ini di indonesia beberapa kalangan dari Islam merasa Pemerintah tendensius terhadap Islam karena selalu menyudutkan Islam terkait terorisme, yang mana ada dari statementnya salah satu aparat penegak hukum adalah bahwa menandakan seseorang teroris atau bukan adalah kata takbir, apa pendapat anda?

Rakyan Adibrata: Itu adalah stereotyping yang amat salah.

Bisa anda jelaskan?

Rakyan Adibrata: Bahwa menilai perilaku yang identik dengan terorisme tidak dapat diidentikkan dari satu variabel semata, misalnya: celana isbal, berjenggot, atau berteriak takbir. Sama halnya di eropa tahun 70-80an, saat itu terorisme sangat identik dengan gerakan ultra leftist movement, seperti Irish Republican Army, Baader-meinhoff, Red Army Faction, Brigade Rosse, Japannese Red Army. Jargon-jargon yg identik dengan idiologi kiri diawasi, tapi tidak semata-mata bahwa seseorang dengan kaos bergambar Che Guevara pasti adalah Ultra Leftist Movement.

Apa bisa dikatakan statement aparat tersebut salah?

Rakyan Adibrata: Salah bila hanya menggunakan takbir sebagai variabel tunggal

Variabel standard apa yang perlu digunakan aparat?

Rakyan Adibrata: Tidak ada variable acuan standard yang berlaku secara global. Tapi pakai logika saja lah. Kalau orang teriak takbir di masjid dengan teriak takbir dijalan sambil menggenggam pistol atau pisau, tentunya berbeda kan?

Menurut anda variabel yang digunakan aparat tersebut apa dapat menyinggung Umat Islam?

Rakyan Adibrata: Saya belum mendengar langsung bagaimana kalimat asli yang disebutkan oleh polisi tersebut, apakah slip of the tongue atau benar-benar memiliki pemikiran demikian.

Kalau benar-benar memiliki pemikiran demikian, maka sudah jelas pasti akan menyinggung Umat Islam

Pelaku radikalisme ataupun teroris yang ada di negara kita ini, seperti apa polanya dari rekrutmen, strategi dan apa tujuannnya?

Rakyan Adibrata: Merekrut untuk aksi terorisme tentunya berbeda dengan merekrut untuk tujuan meradikalisasi pemikirannya.

Berapa contoh terkini misalnya, kasus Dian yg ingin melakukan aksi bom bunuh diri dengan Pressure Cooker, proses radikalismenya melalui aplikasi telegram antara Dian dengan Bahrun Naim namun untuk membantu proses amaliyah harus ada pria yang membantu Dian, oleh sebab itu ia menikah dengan Nur Solihin.

Kasus lain adalah kasus penyerangan polisi oleh Sultan Aziansyah, ia di cekoki pemikiran radikal sejak 2015, ia pernah menjadi santri di Pesantren Ansyarullah Ciamis, Jawa Barat. Pesantren itu dipimpin Fauzan Al Anshori, orang yang berafiliasi dengan ISIS. Setahun kemudian Sultan melakukan aksi penyerangan dengan senjata tajam kepada tiga orang polisi setelah memasang stiker ISIS di sebuah pos polisi.

Banyak kasus sejenis dimana doktrinasi dilakukan bertahap agar seseorang bersedia melakukan aksi terorisme. Konsep paling sederhana memahami cara mereka mendoktrin adalah menanamkan konsep takfiri, dimana mudah memberikan sebutan kafir kepada sesama muslim.

Tujuan dari radikalisme tentu saja menyebarkan sebuah paham secara meluas dimana paham tersebut menghalalkan irhab kepada ‘musuh-musuh Allah, dimana kategori ‘musuh-musuh Allah’ juga jatuh kepada kita semua yg tidak sepaham dengan mereka.

Kasus radikalisme ataupun terorisme seperti gak ada habisnya, apa yang membuatnya seperti ini? apa awal mulanya?

Rakyan Adibrata: Macam-macam alasan orang menerima paham radikal. Namun satu hal yang pasti, bila saja orang memiliki pendidikan agama yang benar sejak kecil, potensi bisa teradikalisasi anak menjadi sangat minim, karena saat ia besar dihadapkan dengan orang yang berusaha meradikalisasi, ia mampun membantah narasi-narasi yang disampaikan karena ia memiliki pondasi pengetahuan agama yang cukup baik.

Sekarang informasi bisa diakses dengan mudah, seberapa besar pengaruhnya dalam penyebaran paham radikalisme?

Rakyan Adibrata: Sangat berbahaya, karena targetnya secara massal, bagi orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup, saat dihadapkan dengan propaganda yang sangat masif seperti itu, dapat dimungkinkan akan terpengaruh

Tindakan preventif apa yang efektif untuk menangkal paham tersebut?

Rakyan Adibrata: Pendidikan agama sedini mungkin, tidak hanya baca tulis Qur’an. Namun hal-hal prinsip dalam Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Profil Rakyan Adibrata, S.H., CCTP
Pendidikan : Sarjana Hukum Universitas Islam Indonesia (1999-2003)
Riwayat Pekerjaan :

· Tenaga Ahli Komisi 3 DPR RI (Keamanan, Hukum dan HAM) (2010-2012)

· Tenaga Ahli Pimpinan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) (2013-2015)

· Tenaga Ahli Komisi 1 DPR RI (Bidang Intelijen, Militer dan Hubungan Internasional) (2015-sekarang)

· Partner di Haryoko R Wirjosoetomo Risk Management Consulting Firm (Sekarang)

Organisasi :

· Dewan Pendiri IOSI (International Organization for Security and Intelligence) yang berpusat di Kanada

· Anggota Dewan Penasihat Dewan CCTP (Certified Counter Terrorist Practicioner) di Singapura

**

Pewarta/Pewawancara dan Penulis : Dedie Utama

Be the first to comment on "Kupas Tuntas Terorisme Menurut Rakyan Adibrata"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*