Perusahaan Logistik dan UKM Dengan Visi Eksport

Peralihan (shifting) dari usaha perdagangan atau produksi yang massive (massal ,besar dan terkonsentrasi) menjadi perdagangan kecil-kecil yang tersebar, merupakan kata-kata kampanye yang dikeluarkan untuk membantah pernyataaan tentang kondisi ekonomi dalam negeri, dimana beberapa perusahaan retail besar tutup dan kondisi pusat-pusat perbelanjaan sepi pengunjung saat ini. Issue ini secara pergerakan pasar dibenarkan atau direspon oleh pengusaha raksasa ataupun pengusaha tingkat UKM sehingga sepertinya ramalan 8 tahun lalu tentang peralihan ini terbukti dengan Perdagangan di Indonesiapun bergerak ke arah yang sama. Perusahaan besar tetap ingin berperan sebagai pengelola usaha massal yang besar dan terkonsentrasi untuk tetap dapat mengontrol, mengawasi dan mengarahkan perdagangan agar tetap menjamin kepastian, stabil, seragam dan tetap termonitoring demi kepentingan usaha mereka. Sedangkan pengusaha menengah dan kecil bergerak ke segala arah dalam koridor pergerakan pasar yang sama, apakah koridor tersebut yang dirancang dan dimonitoring oleh Perusahaan besar atau koridor yang mereka buat secara komunitas tetapi arahnya adalah pasar yang terbentuk oleh Data Technology (digital market/e-commerce).

Perdagangan massive tetap muncul, hanya saja pasar berpindah ke elektronik, dan batas aturan antar wilayah/negara sudah tidak menjadi hambatan, sejauh tidak ada regulasi data transaksi elektronik, sehingga pasar jauh lebih luas, kompetisi yang lebih besar, kompleksitas yang tinggi dan tingkat kestabilan usaha yang rendah. Perusahaan besar yang tetap ingin mengontrol ini sebagai usaha yang massive mengembangkan asset, infrastruktur fisik dan teknologi agar terkonsentrasi dan termonitoring, bahkan semua lini kontribusi usaha seperti logistik (pergudangan, pengiriman/transfer barang, kurir/delivery) ataupun jasa keuangan harus terintegrasi atau terimplan dalam sistem perdagangan mereka. Perusahaan Menengah dan Kecil punya pilihan mereka masuk ke dalam lingkaran usaha besar ini atau tetap mempertahankan komunitas yang mereka bangun berdasar ramalan peralihan pergerakan pasar ini.

Tetapi Perusahaan besar yang saat ini lebih sering disebut e-commerce besar juga tetap melakukan blusukan/berkeliaran menjaring komunitas UKM yang berusaha mandiri ini, agar pasarnya dapat dikontrol oleh merekaļ¼Ž Mereka Tidak hanya menyediakan platform berupa marketplace, tapi juga pendanaan produksi dan pelayanan lainnya seperti pelayanan ambil, antar dan pembayarannya baik secara otomatis atau masih menggunakan kombinasi otomatis dan manual agar produsen UKM ini merasa semua beban biaya produksi dan penjualan mereka teratasi .

Perusahaan Logistik juga bagian yang harus bergerak sangat cepat, agar dapat dijadikan pilihan utama pasar e-commerce ini. Ketepatan strategi dari infrastruktur fisik dan teknologi, lokasi dan pelayanan merupakan porsi yang dipacu sangat cepat agar sejajar dengan perkembangan kebutuhan pasar. Perusahaan logistik besar pasti akan mengandalkan kekuatan finansialnya untuk menggenjot kebutuhan ini, dan Perusahaan logistik kecil berusaha turut terseret dalam arus yang dibangun oleh perusahaan logistik besar. Tapi karena Perusahaan kecil hanya berusaha terseret , muncul pertanyaan sampai berapa lama mereka akan bertahan dalam arus tersebut, karena mereka tidak berpijak di atas kemampuan dan kompetensi mereka sendiri

Melirik sebagian komunitas UKM yang masih berusaha mempertahankan idealis komunitasnya walau sudah berbasis data transfer, yaitu sebagian UKM yang yakin saatnya peralihan dari perdagangan massal ke perdagangan kecil yang tersebar, sebagian yang tetap yakin kalau pintu perdagangan terbuka lebar artinya besarnya peluang masuknya barang impor harusnya juga disertai besarnya peluang barang keluar untuk ekspor, sehingga mereka tetap mempertahankan visi dan misinya dari konsep tersebut dalam kebersamaan untuk pengembangan komunitasnya dengan target pasar yang lebih luas dalam dan luar negeri , ini sebenarnya peluang untuk Perusahaan Logistik domestik menengah (sulit disebut kecil sebenarnya karena kapital perusahaan logistik cukup besar untuk ukuran UKM) dengan menyelaraskan peralihan tren usaha ini dengan terus meningkatkan layanan pengiriman barang yang cepat, jadwal yang tetap, termonitoring dengan baik, jaminan pelayanan pengiriman ke tujuan, terintegrasi, biaya yang transparan, tingkat efisiensi yang tinggi, dan keuntungan yang dirasakan bersama dengan komunitas UKM tersebut (guarantee lead time, shuttle, traffic status, safety and quality, integrated service, efficient for service provider and user), baik di dalam komunitas (cluster terkecil), ke pembeli di dalam negeri (cluster menengah) ataupun tujuan ekspor di luar negeri (cluster yang besar) semua membutuhkan kecepatan, ketepatan, pemantauan proses dan informasi pengiriman sampai tujuan, karena hal ini sangat dibutuhkan dengan transaksi yang jauh bahkan sangat jauh antara penjual dan pembeli sehingga membutuhkan mediator yang dapat dipercaya dan memiliki catatan yang sangat baik di pelayanan jasa pengiriman barang-barang untuk jaminan finansial UKM tersebut

UKM ataupun komunitas UKM kebanyakan punya pendapat bahwa produk mereka adalah produk yang khas komunitas mereka, daerah mereka ataupun khas Indonesia, bahkan Pedagang Besar pun mengumpulkan produk dengan konsep spesifik atau khas tertentu selain barang umum, sebenarnya hal ini menjadi pelayanan tambahan ataupun Pekerjaan Rumah tambahan bagi penyedia jasa logistik untuk menciptakan pasar (ramai bikin platform dengan istilah e-logistic) sehingga tercipta hubungan yang saling menguntungkan yang lebih besar. Ada beberapa Perusahaan Logistik menengah semenjak 8 tahun yang lalu, mulai membuat jasa pelayanan ekspor ke negara tertentu secara khusus, privacy dan terfokus dengan memperhitungkan waktu keberangkatan, kualitas distribusi, kecepatan informasi, dan bukti penerimaaan yang bisa dimonitor langsung oleh Penjual dan pembeli yang mungkin saat itu belum mengerti tentang Term Perdagangan Komoditi Internasional khususnya Penjual dari Indonesia. Tapi jasa khusus ini sekarang masih dinikmati oleh industri besar yang melakukan ekspor impor rutin dan besar, dan diharapkan akan mulai dinikmati oleh Industri UKM yang melihat bahwa pasar mereka sangat luas di luar negeri dan jasa ini seharusnya memiliki visi membantu UKM/komunitas UKM dalam memulai, mengembangkan, memonitor, dan bahkan analisa pasar dan keuangan mereka , sehingga harus transparan dan terukur untuk skala perdagangan yang mulai bergerak dan mencari bentuk.

Perusahaan Logistik menengah juga harus terus mengembangkan diri dalam pemberian jasa pelayanan pengiriman secara fisik/barang juga terus mengembangkan teknologi agar peralihan dari massal ke kecil-kecil, dan dari konvensional ke otomatis, dari luasan pasar yang kecil menjadi pasar yang sangat luas dan tak terbatas tetap terlayani dan pelanggan tetap menikmati kemajuan teknologi dan pengembangan pelayanan jasa pengiriman barang. Menambah atau menciptakan pasar baru dan jaringan baru di negara negara yang menjadi tujuan dan memang memiliki keinginan untuk mengimpor barang barang unik/khas Indonesia seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Timur Tengah, dan Eropa, untuk melihat luasnya pasar yang terus berkembang dan mengembangkan teknologi untuk dapat memonitoring , memastikan status pengiriman dan bukti penerimaan pengiriman, dengan terus memfokuskan pelayanan secara lebih personal dan khusus dengan tetap memperhatikan tingkat efisiensi bersama dengan pengguna jasa dan penyedia jasa lainnya.

Perusahaan Logistik lokal dan UKM seharusnya bersama-sama memanfaatkan pintu yang terbuka, dan membuat jaringan yang sama seperti yang dilakukan investasi asing di Indonesia, dan membuktikan bahwa kita bukan hanya konsumtif tapi juga punya ketahanan produksi dan penjualan di pasar yang terbuka luas.

 

Oleh : Agus Hermawan, General Manager of Rayspeed Asia

Be the first to comment on "Perusahaan Logistik dan UKM Dengan Visi Eksport"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*