#HariSantriNasional dan Al Maidah 51

Entah kebetulan atau tidak, meskipun saya meyakini bahwa hal ini bukanlah kebetulan. Pada saat ini hampir semua pandangan dan perhatian kita sedang tertuju kepada Al-Qur’an surat Al-Maidah (5) ayat 51, suatu kondisi yang kita maknai secara positif. Apalagi ini surat namanya surat Al-Maidah yang artinya hidangan.

Hidangan bagi umat yang beriman, hidangan bagi umat Islam dan hidangan bagi umat manusia khususnya bangsa Indonesia. Al-Qur’an bagi saya adalah hidangan yang tidak boleh disia-siakan.
Pada saat yang sama saya sedang mendapatkan tugas berat dari kampus yakni menyusun tulisan akhir (tesis) yang bertemakan “Pendidikan Berbasis Al-Qur’an di Indonesia”. Tema ini adalah tema yang menarik bagi saya, bukan karena Al-Qur’annya tapi karena realita dan kehidupan masyarakat kita saat ini yang seolah-olah sedang kehausan, sedang lapar, sedang sakit, dan sedang menunggu-nunggu hidangan yang lezat untuk membangun jiwa dan raganya. Itulah yang menjadi dasar saya mengambil tema tersebut.

Saya melihat dan memperhatikan banyak peristiwa yang pada awalnya merupakan skenario dari mereka yang notabene musuh agama (Islam) atau pobhia terhadap Islam, pada akhirnya terkadang menjadi berbalik akibatnya bagi pembuat skenario, apa yang terjadi adalah malah menjadi berkah tersendiri bagi umat yang hendak mereka dzalimi. Contoh yang tidak jauh adalah peristiwa WTC di Amerika Serikat. Setelah kejadian beberapa tahun kemudian banyak orang Barat yang tertarik mempelajari dan tidak sedikit dari mereka mau atau memutuskan untuk masuk agama Islam.

Bermula dari pernyataan kontroversi AHOK yang ia sampaikan bukan pada acara informal atau pertemuan biasa tetapi pada saat kunjungan kerja atau formal selaku Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 27 September 2016 di Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Pernyataan lengkap secara keseluruhan atau potongannya yang diinsert atau diunggah melalui jejaring media sosial yang lagi ngetrend saat ini yaitu youtube oleh orang yang inisialnya di facebook berinisial SBY (Si Buni Yani), telah menimbulkan reaksi keras dari umat Islam.

Bola terus bergulir, petisi untuk Ahok pun hadir dibanjiri oleh pendukung petisi, ILC TV One pun akhirnya digelar (Selasa, 11 Oktober 2016) setelah sebelumnya Ahok minta maaf akibat banyak desakan dari sana sini. Desakan untuk mengakhiri konlik dan konfrontasi akibat pernyataan pun datang tidak hanya dari umat Islam sendiri tetapi dari etnis yang kebetulan sama dengan Ahok, intinya Ahok harus minta maaf, meskipun sebagian lainnya meminta agar proses hukum dilakukan juga sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

Maksud TV One dengan ILC nya selain ingin mengklarifikasi pihak-pihak terkait, mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat apa langkah selanjutnya setelah Ahok minta maaf. Apakah persoalan selesai begitu saja dengan pemberian maaf atau proses hukum tetap dilanjutkan dan berlaku bagi Ahok? Namun apa yang terjadi saat ini adalah adanya kontroversi baru antara Nusron Wahid dengan ummat Islam. Sehingga seolah-olah antara komponen umat Islam sendiri tidak kompak dalam menyikapi kontroversi atau fenomena Ahok ini.

Lagi-lagi saya ingin agar kita, tokoh umat dan mereka sama-sama mengembalikan solusinya kepada Al-Qur’an sebagai rujukan kita bersama, rujukan umat islam, rujukan yang paling qoth’I diantara sumber-sumber hukum yang ada. Karena diantara sumber-sumber yang ada Al-Qur’an adalah sumber yang mutawatir, sumber yang qoth’I tidak dzhonni, meskipun di dalamnya ada ayat yang muhkamat dan mutasyabihat. Disitulah kita sebagai manusia beriman diberi ruang perbedaan yang dibingkai dengan ilmu tafsir, bukan menafikan tafsir apalagi mencampur adukkan tafsir antara tafsir jalalain dengan tafsir jalan lain atau tafsir yang liberal.

Sehingga ILC yang semula akan memberi pencerahan dan endingnya baik, malah menimbulkan kekeruhan baru dan kontroversi baru, yang tadinya Ahok tetapi sekarang beralih dengan Nusron alias Nusron Purnomo. Wajar jika ada pakar hukum yang menjadi pembicara akhir ILC tidak suka melihat umat dan tokoh umat ini saling bertentangan atau menjatuhkan, meski dibantah oleh Nasir Jamil politisi dari PKS, bahwa tidak ada yang namanya antar tokoh umat Islam saling menjatuhkan tetapi yang ada adalah silaturahmi, klarifikasi atau tabayyun dalam Islam.

Semoga dengan hidangan lezat yang mengandung mukjizat itu bangsa ini segera keluar dari krisis mentalnya, krisis imannya, krisis moralnya, sehingga krisis-krisis yang lainnya sebagai turunan dari krisis yang foundamental tadi akan segera teratasi. Langkah pak Presiden Jokowi dengan konsep “Revolusi Mental” nya sebenarnya sudah tepat. Tinggal bagaimana konsep dan pelaksanaanya. Dan menurut hemat penulis adalah saatnya kita mengambil dasar-dasar pendidikan kita dari dasar yang paling mendasar yakni dari sisi pendidikan terlebih dahulu. Yakni pendidikan yang berbasis Al-Qur’an.

Apalagi kalau secara idiologis, filosofis dan realitasnya saat ini surat Al-Maidah adalah surat yang lagi naik daun dari surat Al-Quran yang jumlahnya 114, sebenarnya bukan hanya Ahok yang menjadi penyebab ngetrendnya surat tersebut tetapi seharusnya kita juga memanfaatkan momentum ini untuk lebih mengetrendkan Al-Qur’an. Bukan hanya tahsin dan tahfidznya saja tetapi tafhim dan tanfidznya juga kita perhatikan, mungkin itu maksud kecil dari hati yang dimiliki Ahok dan Nusron.

Politik jalan lurus, yakni politik yang bukan hanya menjadikan ayat Al-Quran sebagai ayat yang hanya digunakan saat kampanye, tapi konsisten dan konsekwen dilaksanakan sepanjang hayat. Sebab selain Ahok Tahun 1998 juga ada komponen yang secara baik meninggikan ayat dalam surat ini yaitu surat Al-Maidah (5) ayat 8;

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

22 Oktober ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Ayo kembali kepada tradisi santri. Mempelajari Al Quran dan menjadikannya pedoman hidup, penuh 24 jam dalam segala bidang. Keseluruhannya, termasuk Al Quran surat Al Maidah Ayat 51.

Wallahu muwaffiq ila aqwamithariq.
Wassalamu’alaikum warokhmatullah

Dimyat Muqsith
@dimyat1

Be the first to comment on "#HariSantriNasional dan Al Maidah 51"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*