Gunakan Bahasa Isyarat, Komunitas Teman Ngopi Diskusi Bareng Tuna Rungu

BEKASIMEDIA.COM – Komunitas Teman Ngopi (KTN) Kembali mengadakan diskusi rutin bulanan. Dengan mengangkat tema “Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia”, diskusi kali ini melibatkan Komunitas Bambu Tuli Bekasi yang merupakan kelompok masyarakat penyandang tuna rungu.

Ada yang menarik pada suasana diskusi, meskipun di antara kedua komunitas ada perberbedaan, namun interaksi keduanya berjalan baik, bahkan terlihat akrab dengan menggunakan bahasa isyarat ala penyandang tuna rungu. Selain diskusi, mereka juga saling berbagi cerita dan pengalaman hidup.

Founder Komunitas Teman Ngopi, Syahrul Ramadhan, mengatakan, Tuna Rungu baginya bukan kaum minoritas, mereka sama dengan masyarakat lainnya. “Mereka bagian dari kita. Saya banyak belajar dari keterbatasan mereka, meski tidak dapat mendengar tapi mereka memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, cita-cita yang besar serta semangat yang kuat,” katanya pada Sabtu (15/10).

Ia melanjutkan, dirinya sangat tertarik mempelajari bahasa isyarat penyandang tuna rungu, dapat berkomunikasi dengan mereka, Kata Syahrul, merupakan kebahagiaan tersendiri. “Bahasa mereka, bahasa kita juga. Berbahasa satu, bahasa indonesia. Mereka menggunakan bahasa isyarat Indonesia, kebetulan saya baru belajar bahasa isyarat tuna rungu. Kemudian saya tularkan kepada kawan Teman Ngopi yang lain, ternyata semua merespons baik. dan sangat antusias dapat bergaul, berdiskusi dengan para penyandang Tuna Rungu,” ungkapnya.

Dirinya menceritakan, ternyata banyak dari pemuda- pemudi  penyandang disabilitas, yang berpendidikan tinggi dan bercita-cita besar. Dengan kekurangan mereka, tidak menyurutkan langkah dalam mewujudkan apa yang mereka impikan. “Salah satunya Sarah, dia kuliah di Institute Kesenian Jakarta jurusan Design Grafis. Ternyata dia tidak minder dengan kekurangannya. Ini harus menjadi motivasi kita yang normal,” tuturnya.

Ditemui di tempat yang sama, perwakilan Komunitas  Bambu Tuli, Umam dengan bahasa isyaratnya mengungkapkan kebahagiannya dapat berdiskusi dan bertemu dengan Komunitas Teman Ngopi.
“Ini yang pertama kalinya, kami bisa ngobrol dan diskusi dengan Komunitas. kami bahagia kawan Komunitas Teman Ngopi mau berdiskusi dan belajar bahasa kami. Biasanya kami cuma kumpul dengan Komunitas tuna rungu. Karena jarang orang normal mau ajak kami diskusi, karena keterbatasan kami,” ceritanya  dengan bahasa isyarat.

Umam berharap ada perhatian khusus dari Pemerintah terhadap para penyandang tuna rungu. “Karena kami juga bagian dari warga Bekasi serta rakyat Indonesia,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Mereka juga menyampaikan keluh kesah dan aspirasinya kepada Komunitas Teman Ngopi agar disampaikan kepada pemerintah.

“Teman Ngopi adalah saudara kami, mereka kami anggap sebagai penyambung lidah rakyat buat kami. Jarang komunitas atau organisasi yang memiliki rasa persahabatan dan persaudaraan. Kami sangat bahagia bisa menjalin keakraban dengan Komunitas Teman Ngopi. Mereka tidak ada batasan pergaulan.” tutupnya. (*)

Be the first to comment on "Gunakan Bahasa Isyarat, Komunitas Teman Ngopi Diskusi Bareng Tuna Rungu"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*