Anies Baswedan: Jakarta Harus Pikirkan Pendidikan Anak-anak di Bantargebang

BEKASIMEDIA.COM- Kemajuan pembangunan fisik ibu kota Jakarta rupanya memiliki sisi kelam berupa produksi sampah yang telah menghasilkan bencana lingkungan dan menghancurkan perikehidupan warga sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Melihat hal ini, Anies Baswedan yang mengunjungi TPST Bantargebang pada Sabtu (15/10). Di masa depan, kata dia, pengelolaan sampah Jakarta tak boleh lagi dilakukan secara transaksional dengan tetap mengorbankan kehidupan warga pinggiran ibu kota.

Tahun 2016 ini menandai genap tiga dekade beroperasinya TPST Bantargebang, kawasan seluas 108 hektare yang setiap hari menerima kiriman sampah dari Jakarta sebanyak 7.000 ton atau 28 ribu kubik meter. Sebagai gambaran, kiriman sampah sebanyak itu cukup untuk membentuk tumpukan yang tingginya melebihi Candi Borobudur hanya dalam dua hari saja. (Catatan: volume Candi Borobudur 52 ribu meter kubik)

“Bantargebang kondisinya tidak bisa seperti ini terus. Ini masalah kita, bukan hanya masalah Bantargebang. Rasanya miris, harus lebih banyak lagi warga Jakarta melihat gunung sampah di Bantargebang,” kata Anies Baswedan seusai mengunjungi zona satu TPST Bantargebang, Sabtu (15/10).

“Sampah bukan sesuatu yang diletakkan lalu ditimbun. Kita ingin ada pendekatan baru dalam pengelolaan sampah di rumah tangga, lingkungan, dan tingkat wilayah.” imbuhnya.

Sebanyak 18 ribu KK atau hampir 200 ribu jiwa warga empat kelurahan yaitu Cikiwul, Cikeuting Udik, Sumur Batu, dan Bantargebang yang tinggal di sekitar TPST Bantargebang merasakan kehancuran peradaban. Pengelolaan TPST dengan teknologi sanitary landfill yang tanpa mengikuti kaidah telah membawa kerusakan lingkungan. Lapisan geo membrane TPST sudah mengalami kebocoran sehingga air lindi dengan bebas mencemari air tanah selama puluhan tahun. Bahkan, air limpasan di permukaan, misal dari hujan pun ikut tercemar.

Selain itu, metode open dumping menimbulkan pencemaran udara sehingga bau sampah Bantargebang bisa tercium sampai jarak 12 km. Itu berarti gas metana yang menguar dari gunungan sampah sudah meracuni udara wilayah Kota Bekasi dalam radius sejauh itu, bahkan sampai Kota Wisata, Tambun, Kabupaten Bekasi.

Dengan kekuatan anggaran yang ada, seharusnya, kata Anies sampah bisa dikelola di Kota Jakarta tanpa perlu mengorbankan wilayah lain. Anies Baswedan mengakui bahwa hal ini memang membutuhkan waktu. “Secara bertahap kita kurangi aliran sampah dari Jakarta ke Bantargebang melalui kebijakan tiga pintu di tiap rumah tangga yaitu sebelum mengonsumsi, meminimalisasi sampah saat mengonsumsi, dan memilah sampah sesuai jenisnya,” katanya.

Pemerintah Jakarta, kata mantan Rektor Universitas Paramadina ini harus menyediakan tempat sampah di tiap rumah sehingga bisa memilah mana yang organik dan nonorganik.
“Pengelolaan sampah harus menjadi gerakan, Jakarta harus bisa mengelola sampahnya sendiri. Perhitungannya sudah ada untuk mengurangi sampah yang dibuang ke Bantargebang.” imbuhnya.

Selama proses transisi menuju pengelolaan sampah Jakarta yang mandiri, Anies menyatakan bahwa Jakarta harus memikirkan pendidikan anak-anak Bantargebang. Dia menceritakan mengenai program sekolah garis depan yang pernah digagasnya ketika masih menjabat sebagai menteri pendidikan, yang salah satu sasarannya adalah Bantargebang. Kuncinya adalah peningkatan mutu pendidikan baik guru maupun sarana dan prasarana sekolah yang seharusnya bisa menjadi tanggung jawab Jakarta.

“Ini  bukan persoalan uang, tapi mutunya. Anak-anak boleh lahir di mana saja termasuk Bantargebang, tapi boleh bermimpi untuk menjadi apa saja,” tukasnya. (*/dns)

Be the first to comment on "Anies Baswedan: Jakarta Harus Pikirkan Pendidikan Anak-anak di Bantargebang"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*