Politik Jalan Lurus, Ihdinas Shirotol Mustaqiim…

Saya bukan politikus, tapi saya mempelajari dan memperhatikan para politikus atau para fungsionaris partai. Saya kurang suka dengan partai politik, meski saya punya ghiroh untuk terjun ke dunia politik. Saya kurang ‘sreg’ dengan cara-cara demokrasi saat ini, tetapi saya sangat terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam perbaikan masyarakat dan negeri ini. Wajar jika masyarakat saat ini ada yang apolitik, dan sebaliknya ada yang berpolitik secara buta atau gila. Hal ini bisa jadi disebabkan karena ulah para aktornya yang bermain di dunia politik.

Lalu bagaimana sikap saya atau kita seharusnya dalam menghadapi dunia politik yang semakin cenderung membabi buta dan menghalalkan segala cara?

Mari kita kembalikan kepada aslinya atau kepada ‘asholah’nya (back to basic), yakni berpolitik secara fair,objektif, sopan, santun dan wajar demikian kira-kira ajakan dari sebagian tokoh atau warga. Saat dimana Pemilukada Serentak tahap ke-2 tahun 2017 akan digelar khususnya di Ibukota negeri terbesar jumlah umat islamnya ini. Apalagi dengan menjadi trending topiknya Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51, beberapa hari terakhir ini.

Ide diatas meski hal ini terlihat menjadi sesuatu yang aneh atau absurd. Menurut mereka yang tidak tertarik dengan ide saya ini, yang namanya politik itu harus ada intrik dan kejutannya. Selain itu masih menurut mereka tidak ramai yang namanya politik kalau lurus-lurus saja. Ya saya setuju dengan pernyataan itu. Tapi jika ingin demikian tetap harus mengikuti koridor syariat (ayat suci) dan aturan yang ada (konstitusi). Sebagaimana junjungan kita mencontohkan dalam sejarah perjuangannya.

Peristiwa hijrahnya yang baru saja sama-sama kita peringati seharusnya menjadi pelajaran berharga bagimana Islam mengajarkan politik, karena politik adalah bagian dari ajarannya maka kita akan mendapatinya pelajaran dari peristiwa tersebut, yang oleh para sahabat melalui ijtihad dan ijma’nya pada saat itu, peristiwa agung tersebut dijadikan sebagai titik tolak perubahan, titik mula perhitungan tahun baru Islam, yakni tahun Hijriyah atau tahun Qomariyah (karena dihitungnya berdasarkan garis edar bulan).

Hijrah menjadi salah satu model atau contoh politik yang elegan dan bernilai dalam Islam, yakni politik jalan lurus berdasarkan doa “Ihdinas Shirotol Mustaqiim” Tunjuki kami Ya Allah kepada jalan (politik) yang lurus. Bagaimana rasulullah SAW pada saat itu terdesak secara politik di Makkah, kemudian melalui petunjuk dan wahyu Ilahi, dia berhijrah ke Madinah, lalu mengkonsolidasikan ummat dan komponen utamanya yakni antara kaum muhajirin dan kaum anshor dipersatukan atau dipersaudarakan. Hal itu dilakukan untuk tugas dan tujuan mulia yang lebih besar yakni “Fathu Makkah”.

Mari kita pelajari ayatnya dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Fath (48) ayat 27-29:

“27. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat[1].

28. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.

29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[2].

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

[1] Selang beberapa lama sebelum terjadi perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad SAW bermimpi bahwa beliau bersama Para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam Keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah Maka orang-orang munafik memperolok-olokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota Khaibar. andaikata pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah itu kaum Muslim memasuki kota Mekah, Maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang Menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

[2] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

Agar politik kita atau pilkada serentak kedua di tahun 2017 nanti khususnya dalam Pilkada DKI Jakarta berjalan sesuai yang kita harapkan marilah kita kembalikan politik kita kepada warna aslinya yakni politik yang berdasarkan PANCASILA dan UUD 1945 yakni politik santun, politik jalan lurus dan politik yang berdasarkan pada nilai-nilai “Ihdinas Shirotol Mustaqiim” agar bangsa ini mampu mempercepat prosesnya munuju masyarakat, bangsa dan Negara yang “Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofuur”.

Negara yang gemah ripah, repeh, rapin. Negara yang adil, makmur dan sejahtera. Atau gemah ripah loh jinawi dan istilah-istilah baik yang lainnya yang diyakini oleh segenap masyarakat dan bangsa Indonesia. Ingat beberapa hari ke depan kita akan menghadapi hari besar nasional, diantaranya adalah Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober 2016 (Tahun kedua setelah pemerintahan presiden Jokowi menetapkannya), dan Hari Sumpah Pemuda yang ke-88 yaitu tanggal 28 Oktober 2016.

Politik jalan lurus juga berarti politik yang berdasarkan IMAN, HIJRAH dan JIHAD dengan harta dan jiwa di Jalan Allah SWT.

QS. Attaubah (9) ayat 20:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Wallahu a’lam.

Dimyat Muqsith

Be the first to comment on "Politik Jalan Lurus, Ihdinas Shirotol Mustaqiim…"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*