Mega Trishuta Pathiassana: Raup Inspirasi di Taiwan untuk Kembangkan Pertanian di Kampung Halaman

BEKASIMEDIA.COM – Anak muda yang berkeinginan, aktif, kreatif, inovatif dan tak lupa memiliki rasa empati dan mau bekerja keras meraih cita-cita idealnya adalah aset penting sebuah negara. Seperti para pelajar Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri yang berlomba-lomba menuntut ilmu sambil mengharumkan nama baik bangsa dan negara melalui ragam prestasi.

Di universitas-universitas dunia, saat ini tidak sedikit pelajar asal Indonesia, salah satunya Mega Trishuta Pathiassana. Gadis kelahiran Jakarta, 4 Juli 1989 ini boleh dikatakan salah satu anak muda Indonesia yang semangat meraih cita-cita dengan menempuh studi di luar negeri. Ia menyatakan tujuannya ke sana bukan hanya demi memuaskan keinginan dirinya atau keluarganya namun karena semangat ingin pulang kembali ke kampung halaman, membagi ilmu dan pengalaman demi kemaslahatan hidup masyarakat banyak.

Perempuan muda ini adalah alumni SMAN 1 Kota Bekasi. Kini ia tengah menempuh pendidikan pasca sarjana di National Chung Hsing University, Taichung City, Taiwan. Program studi yang ditempuh juga tidak sembarangan. Banyak diminati tapi juga tidak sepopuler program lainnya. Ia mengambil program International Master Program of Agriculture Horticulture Departement di universitas tersebut karena menyangkut pertanian dan pengembangan pedesaan.

Lantas, bagaimana Ega, demikian ia biasa disapa bisa mewujudkan impiannya berkuliah di luar negeri dan mengapa ia mengambil program studi favorit namun cukup langka yang menginginkannya?

Mimpi Kuliah di Luar Negeri Sejak Kecil

Sejak di bangku sekolah dasar, Ega mengaku termasuk tipe pemimpi. Barangkali sama dengan anak seusianya yang ingin menjadi dokter, pilot dan lain sebagainya, Ega punya cita-cita menjadi dokter. Ega ingin menjadi dokter saat itu lantaran melihat di desanya, orang-orang, terutama para lansia sering terkena wabah penyakit tertentu.

Di sisi lain, Ega cilik adalah gadis kecil penggemar sosok Merie Curie, salah satu tokoh perempuan berpengaruh di dunia, penemu radioaktif, ahli kimia dan fisika Perancis yang sampai sekarang merupakan satu-satunya orang yang pernah mendapatkan hadiah nobel di dua bidang yang berbeda, yaitu fisika dan kimia. Ia sangat mengidolakannya sejak kelas 3 SD sehingga keinginan untuk sekolah ke luar negeri pun muncul, terutama ke negara Perancis. Seiring bertambah usia, keinginan itu semakin kuat karena sewaktu Ega memasuki sekolah menengah pertama, ia juga mengidolakan KH. Agus Salim, salah satu pahlawan nasional juga salah satu tokoh berpengaruh di Indonesia yang menguasai 5 bahasa. Akhirnya ia bergerilya mencari info beasiswa dalam dan luar negeri.

Namun, yang namanya hidup tidak akan selalu berjalan dengan mudah. Ada saja ujian saat menjalani upaya mewujudkan cita-cita. Bukan hanya dari sulitnya mendapatkan beasiswa yang diharapkan tapi dari ekspektasi orang-orang terdekat tentang makna kesuksesan yang mereka lihat dari diri Ega.

“Hampir nyerah waktu itu. Awalnya nggak pernah kepikiran di Taiwan. Ibuku juga malah tahunya aku pengen ke Perancis sama Jepang. Dulu mikirnya Taiwan apaan, sih? soalnya aku tahunya Secara de facto Taiwan ada, tapi secara de jure aku tahunya itu masih bagian dari Cina. Waktu SD pengennya malah ke Perancis sama Jepang,“ kata Ega saat dihubungi Bekasimedia beberapa waktu lalu.

“Sebenernya udah pengen kuliah di luar negeri, tuh, dari kelas 3 SD. Lalu mulai cari-cari informasi beasiswa kuliah ke luar negeri sejak SMP kelas 1, suka cari info-info gitu, waktu SMA sering banget ke Expo beasiswa dalam negeri maupun luar negeri,” lanjutnya.

Ega mengaku sempat minder sebelumnya karena di usianya sekarang ia merasa sangat terlambat menempuh pendidikan yang ia inginkan. Ia sudah berburu beberapa beasiswa di Eropa, di antaranya di UK, Copenhagen, Oslo, New Zealand dan Perancis, karena keinginannya sangat kuat ke Eropa. Hanya, dari beberapa upaya itu, ada yang baru berupa waiting list dan ada beberapa yang sudah diterima namun tidak diiringi dengan pengajuan beasiswanya, hingga akhirnya ia bisa ke Taichung, Taiwan. Terkait pengajuan beasiswa, Ega mengaku sempat mengajukan namun memang belum beruntung waktu itu. Namun Ega menyatakan tidak hanya fokus ke negara Eropa, karena pernah juga mendaftar di AAS (Australian Award Scholarship) dan beasiswa Kasetsart University, Thailand, akan tetapi tidak lolos saat wawancara via skype lantaran masalah teknis.

Berbicara masalah persiapan, sebelum itu Ega pergi ke Pare untuk kursus kilat bahasa Inggris, namun harus dikebut cepat karena keterbatasan dana juga. Namun nyatanya ia lulus dengan hasil yang baik, setelah sebelumnya optimis menyatakan kesanggupannya kursus kilat di hadapan tutornya. Tes TOEFL dan IELTS pun dijalani untuk melengkapi persyaratan.

“Terakhir beasiswa Taiwan itu juga waiting list. Sebenarnya pilih daftar beasiswa di Taiwan itu karena aku pengen lahap semua. Aku merasa kurang puas hanya dengan S1, di umur segini merasa lambat juga tapi inilah jalan hidup yang aku pilih,” jelas Ega.

Kesulitan Biaya hingga Kerja Paruh Waktu di Taiwan

Kesulitan lainnya sangat klasik, yakni biaya. Ega mengaku biaya untuk menempuh semua usaha itu ia ambil dari tabungannya, hasil dari pekerjaannya juga beruntung banyak yang membantunya, mulai dari dosen hingga orang-orang terdekat.

“Ya, namanya beasiswa kan nggak banyak, namun aku tambah-tambahin dari tabungan aku dan bantuan-bantuan dari oranglain misalnya salah satu dosen aku juga bantu. Katanya kamu kuliah aja, bawa hasil baik dan berkontribusilah. Ada banyak yang bantu.” ucap gadis 26 tahun yang sejak kecil sudah terlatih berwirausaha sendiri. Ega mengatakan, sejak kecil memang sudah gemar berjualan. Di Taiwan pun ia sempat bekerja di restoran Indonesia.

“Ya bantuin masak, bersih-bersih, dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam. Gajinya perjam, 110 ntd perjam, sekarang 120 ntd. Sepekan bisa 3000 sebulan 11.000 ntd dan bahkan bisa kirim ke rumah. Dari kecil udah terbiasa cari uang sendiri. Dulu jual hasil gambar yang aku gambar sendiri aku jual ke teman-teman, aku buat gelang-gelang dan cincin dan manik-manik sampai SMP aku terus kerja jual jilbab, kuliah pernah bisnis olahan korma coklat udah jalan tapi berhenti. Nah, dari perjalanan itu aku belajar tentang kerja keras dan nggak malu ngelakuin sesuatu pekerjaan tertentu. Aku belajar juga dari ibu, bahwa hidup butuh berjuang maka bukan berjuang namanya jika tidak ada kesulitan atau kepayahan.” terang Ega.

Saat ditanya bagaimana kehidupan di Taiwan, Ega mengaku Taiwan terbilang kota yang bersih dan rapi dan tertib. Menurut Ega warga masyarakat di Taiwan itu terbilang kreatif, karena industri kreatifnya berjalan dengan baik, “Cuma belakangan mereka punya masalah di diri orang-orang mudanya, ada di antara mereka (sedikit) yang terlihat mulai malas. Itu hanya sebagian kecil, nggak semua,” kata Ega.
Menyoal dunia pendidikan di sana juga cukup menarik karena anak sekolah itu beban belajarnya lebih berat dari negara Indonesia. Namun, rata-rata pelajarannya menyenangkan dan seru. “apalagi, banyak pelajaran yang mengasah bakat dan minat anak-anak,” terang Ega. “Misalnya jam 10 malem baru bisa pulang. Bisa 50 mata pelajaran. Kalau lelah, mereka kadang tidur di sekolah.” Lanjutnya. Kendati demikian, kata Ega, biaya pendidikan di kota yang jadi surganya vegetarian tersebut, terbilang murah. Tranportasi cepat dan mudah juga cenderung murah.

Terkait biaya hidup, alumni UI Fakultas Ekonomi ini menyatakan sudah sering bertanya kepada para seniornya yang sudah lebih dulu merasakan hidup di negeri orang. Ega mengaku awalnya sempat pesimis, khawatir tidak masuk kualifikasi saat hendak melanjutkan pasca sarjana di Taiwan.

“Sempet pesimis waktu sebelum berangkat karena beasiswanya nggak banyak. Khawatir nggak cukup ketika hidup di luar negeri. Dalam hati, antara yakin dan tidak. Apalagi itu di negara orang aku khawatir aku pulang dalam keadaan tanpa bawa apapun. Senior terus menyemangati untuk terus maju dan lakukan prosesnya karena jaminan itu ada di Allah. Waktu itu aku yakin karena itu. Selain itu beasiswa nggak nanggung biaya terbang juga, visa itu juga nggak ada. Aku keluarkan dari tabungan aku. Butuh uang banyak buat tempuh beasiswa itu. Tes ini itu dan IELTS juga udah expired. Tanggungan keluarga banyak, dan sempat mau menyerah. Omongan orang-orang dari kiri dan kanan juga banyak yang nggak enak. Aku sih bukan buat prestise, ya, aku ingin mengejar itu untuk bisa berbakti kembali,” ujar Ega kemudian.

Ingin Kembangkan Pertanian di Kampung Halaman

Kembali ke tujuan Ega berkuliah di luar negeri, saat ditanya akan ke mana dan pada sektor apa ilmu pengetahuan dari univeritas Taichung akan dibawa? Ega berencana akan kembali ke kampung masa kecilnya di Wonogiri. Tempat ia belajar, mencermati segala sesuatu dari kondisi masyarakat sekitar sejak kecil.

“Aku berencana ke Wonogiri. Di sanalah mimpi aku terbangun. saat usia 3 tahun aku di Wonogiri. Dan orang-orang di sanalah yang turut membangun mimpiku,” katanya.

Di Wonogiri, kata Ega, dulu aksestabilitas kesehatan kurang. Belum lagi saat ia kecil dulu TBC mewabah.

“Dulu akses ke RS jauh sekali. Fasilitas kesehatan juga tidak ada yang dekat. apalagi transportasi publik sangat terbatas. Oleh karena itu dulu pengen banget jd dokter,” lanjut Ega.

Ega mengaku dulu ingin menjadi dokter. Tapi kemudian, guru sejarah sewaktu ia SMA membuka paradigmanya tentang segala hal. Bahwa untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain tidak hanya dengan menjadi dokter.

“Membantu orang tidak hanya jadi dokter, kita juga bisa bangun rumah sakit, jadi diplomat yang mengoptimalkan adanya OKI misalnya dan masih banyak lahan yang perlu diisi, dari sana aku berpikir bisa menjadi sesuatu,” harap Ega.

Ega mengenang, dulu sering diajak berkeliling kampung oleh Biyungnya. Melihat kondisi desa saat itu, membangun rasa empati Ega. Dulu, kata Ega, di kampungnya ada yang kena polio, finansial terbatas hingga tidak bisa sekolah tinggi. Oleh karena itu sekarang Ega berpikir ingin berkontribusi dalam pembangunan.

“Dari data Menteri Pembangunan sebelum ini, masyarakat Indonesia 56 persen tinggal di daerah perkotaan, sedangkan 80 persen wilayah Indonesia itu masih berupa pedesaan dan identik dengan kemiskinan apalagi disparitas di timur dan barat yang tinggi karena pembangunan yang kurang merata. Aku ingin menyiapkan sistem yang bisa aku bawa, aku adopsi dari sini (Taiwan) karena sistem pertanian di sini oke banget, dan program pengembangan desa sangat didukung pemerintah. Setiap petani diberikan pelatihan FGD dan ditanya terkait apa yang ingin dikembangkan. Mereka harus buat proposal perencanaan dan anggaran dana terus diawasi dan terus dilatih hingga mandiri. Semua sih teratur kurang lebih.” Lanjutnya.

Mengingat semua kesulitan-kesulitan selama perjalanan menempuh pendidikan, kami sempat bertanya mengapa Ega tidak kuliah di dalam negeri saja? Apalagi banyak pertanyaan bernada ironi dari kiri-kanan. Ega menjawab bahwa dia percaya di manapun itu bisa, “sebenarnya kita bisa kuliah di mana saja. Termasuk di dalam negeri. Tapi ketika kita di luar negeri dan mengenal lingkungan yang baru dan jauh berbeda dari apa yang kita hadapi , aku bisa lebih bijak walaupun memang tidak mudah, walaupun masih bisa ketemu teman senegara, ketemu advisor, sering kena masalah-masalah juga. Kalau kita kembali ke impian kita dan kita percaya Allah akan kasih jalan, maka kita kuat,” imbuhnya, “seperti salah satu potongan nasihat Imam Syafi’i: orang yang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing 9di negeri orang),” lanjut Ega.

Di universitas di Taichung, Taiwan sana, berbagai rupa pengalaman dirasakan Ega. Apalagi jika menyangkut penelitian Ega yakni membangun desa dengan ecotourism. “Penelitianku di beberapa komunitas di salah satu wilayah di Taiwan yang mengembangkan ecotourism.” Jelasnya.

Field trip sudah jadi makanan sehari-hari bagi Ega, dan Ega bersyukur penelitian yang ia lakukan di Taiwan, karena ia memang ingin meraup banyak inspirasi dari penelitiannya sehingga membawa inovasi baru untuk diaplikasikan saat pulang ke tanah air.

Ega berharap Indonesia kedepan lebih mapan, walaupun, kata Ega Indonesia itu jauh lebih kompleks. Dengan seribuan suku bangsa, dan segala keberagamannya, “dan pasti penanganannya agak berbeda, tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan.” Tandasnya.

Ani Rohimah

Leave a comment

Your email address will not be published.


*