Full Day School Masih Bisa jadi Solusi Alternatif bagi Pembentukan Karakter Anak

Bekasimedia- Wacana Full Day School (FDS) yang sempat digulirkan Menteri Pendidikan RI, Muhadjir Effendi menuai pro dan kontra beberapa waktu lalu. Muhadjir menyatakan penerapan Full Day School ini sudah diterapkan di beberapa negara dan sukses, salah satunya di Finlandia.
Akan tetapi, konsep Full Day School yang menuai kritik dari beberapa pihak akhirnya dibatalkan sendiri oleh Menteri Pendidikan pada 9 Agustus 2016 tak lama setelah wacana bergulir.
Berbicara terkait Full Day School, konsep ini sebenarnya sudah lama ada dan dipelopori oleh Sekolah Islam Terpadu sejak puluhan tahun yang lalu di Indonesia. Beberapa yang kontra menyatakan dengan pemberlakuan FDS, tidak ada waktu bagi anak untuk beristirahat. Ada juga yang mengatakan bahwa dengan diberlakukan konsep Full Day School maka waktu bermain anak-anak akan banyak terpangkas sehingga ini sudah menyalahi hak-hak yang dimiliki anak.
“Konsep Full Day School yang sudah diterapkan puluhan tahun oleh Sekolah Islam Terpadu sangat jauh dari anggapan miring para orangtua atau praktisi pendidikan. Karena Full Day School yang diterapkan oleh Sekolah Islam Terpadu adalah bagaimana menghasilkan product peserta didik yang memiliki outcome jangka pendek, jangka menengah dan impact jangka panjang. Salah satu impact jangka panjang adalah mencetak generasi yang memiliki
Awareness (kesadaran), Knowledge (pengetahuan), Attitudes (sikap), Skill (keterampilan) yang berkesinambungan dan terus menerus. Dan inilah yang akan berproses membentuk konsep diri pada anak,” terang kepala Sekolah Islam Terpadu Gameel Akhlaq, Agung Nursidik seperti dilansir jsitkotabekasi.org.
Full Day School, kata dia bukan berarti hanya belajar seharian di kelas. Full Day School yang digagas oleh Sekolah Islam Terpadu memiliki prosentase 60 % pembentukan karakter yang melahirkan konsep diri anak, dan 40 % pembelajaran akademis.
“Salah satu pembentukan karakter yang digagas oleh Sekolah Islam Terpadu Gameel Akhlaq adalah membiasakan sholat dhuha, sholat dzuhur dan Ashar di sekolah, dzikir, Muhadoroh, tadarus Al – Qur’an, mengantre saat mengambil makanan, mencuci piring, membersihkan sisa makanan, Market Day dan lain – lain. Kegiatan seperti ini dilakukan dengan suasana menyenangkan, sambil bermain dan penuh ketauladanan dalam rangka pembentukan karakter,” imbuhnya.
Ia melanjutkan, anak–anak membutuhkan ruang ekspresi dan ruang gerak yang banyak. Jika anak-anak pulang cepat maka sisa waktu tersebut dikhawatirkan akan digunakan untuk mengakses hal-hal negatif seperti ke warnet, main PS atau sekadar main gagdet.
“Di zaman era digital seperti sekarang ini menjadi tantangan besar para orangtua untuk dapat mengarahkan dan mendampingi anak- anaknya memiliki karakter positif sesuai dengan yang diharapkan. Apalagi orangtua yang memiliki kesibukan dalam bekerja. Anak- anak kita memang butuh sosok ayah dan ibunya yang bisa mengarahkan mereka. Tapi pada kenyataannya kesibukan orang tua yang hidup di kota memiliki sedikit waktu untuk mendampingi anak – anaknya. Atau jika orangtua yang berada di pedesaan yang memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya tetapi belum tahu pentingnya mendidik anak di rumah. Maka yang terjadi adalah anak-anak kita yang menjadi korban perusakan moral di era digital saat ini.” tukasnya.
Jadi, kata dia, Full Day School saat ini masih bisa menjadi solusi alternatif bagi pendidikan anak. (*)

Be the first to comment on "Full Day School Masih Bisa jadi Solusi Alternatif bagi Pembentukan Karakter Anak"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*