Ramadhan dan Nikmat Duniawi

Nikmat Ramadhan telah dilalui penulis kurang lebih 40 kali dalam hidup, semoga Allah masih berkenan dan memberikan waktu dan usianya untuk penulis dan juga para pembaca untuk kembali berjumpa dengan tamu agung Ramadhan berikutnya.

Selama itu pulalah pelajaran demi pelajaran penulis dapatkan. Meskipun kurikulum, materi pelajaran atau kaifiyat Ramadhan yang dijalankan oleh baginda nabi kita akhir zaman Muhammad SAW adalah sama pada dasarnya. Tidak ada perubahan atau perbedaan pada tujuan, metode, media dan lain sebagainya. Begitu juga syarat, rukun dan batalnya adalah masih sama dari sejak zaman kenabian, sahabat, tabiin, tabiut- tabiin, masa khalifah, masa daulah, sampai masa sekarang ini.

Apa sebenarnya inti atau substansi yang membedakan antara Amaliah Ibadah Ramadhan pada masing kurun waktu kekuasaan tadi? Sejauh pengetahuan penulis yang membedakan antara Ramadhan kita dengan mereka para pendahulu kita yaitu dalam hal penyikapan, pengagungan atau perlakuan kita terhadap bulan suci tersebut, baik dengan amalan lahir (fisik) atau bathin (keimanan/keyakinan).

Yang kedua yang membedakan Ramadhan kita dengan mereka pada zaman dahulu (salafus shaleh) dengan zaman kita sekarang adalah suasana geografi, demografi dan sosiologi alam dan lingkungannya.
Disitulah bagaimana kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan syariat ini yang menjadi salah satu rukun dari 5 rukun Islam.

Hikmahnya adalah keberkahan Ramadhan ternyata bukan hanya dirasakan oleh setiap manusia tetapi oleh setiap alam dan lingkungannya. Jika di Barat ada tiga atau empat musim (panas, dingin, semi/pancaroba, gugur) maka sepanjang tahun sepanjang masa Ramadhan akan menyapa semuanya.

Begitu juga di nusantara kita yaitu Indonesia, sebagai wilayah tropis dengan dua musim (hujan dan kemarau) maka sepanjang tahun sepanjang masa Ramadhan bergerak terus untuk menemui semuanya. Itulah yang dimaksud penulis Ramadhannya boleh sama penyikapan dan cara kita menyambut, memuliakan dan berpisahnya yang berbeda. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, yang menyambut, mengisi dan mengakhiri Ramadhan dengan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT, dicontohkan oleh Rosulullah SAW dan dinasehatkan dari para Salafus Shaleh dan para Ulama.

Diantara nasehat-nasehat mereka adalah antara lain:

1. Nasehat Ibnu Rajab Rahimahullah

قال ابن رجب رحمه الله تعالى :
يا عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah : “Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa saja yang sudah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menyudahinya dengan yang terbaik”

2.Nasehat Imam Al Jauzy Rahimahullah
قال ابن الجوزي رحمه الله :
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…

Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata :
“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.. Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Untuk itu, jika kamu termasuk dari yang tidak baik dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan”

3. Nasehat Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah 

وقال ابن تيمية رحمه الله :
العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
“Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan…”

4. Nasehat Imam Hasan Al Basri Rahimahullah

وقال الحسن البصري رحمه الله :
أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله…
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
“Perbaiki apa yang tersisa bagimu, maka Allah akan mengampuni atas apa yang telah lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih”

Yaa Allah jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya.

بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم

Selamat menikmati hidangan Allah Swt yg terbaik di “Malam 10 hari trakhir” semoga Allah takdirkan keberuntungan di akhir perjalanan”

Taqobbalallaahu minnaa waminkum taqobbal yaa Kariim”

Siapa yang tidak mengetahui dan tidak mau untuk mendapatkan kenikmatan dunia karena kenikmatan dunia Allah sengaja ditampakkan dari sekarang, makanya semua orang pada berebut kenikmatan dunia, tidak perlu diajari karena dengan sendirinya akan ada dorongan langsung secara otomatis. Berbeda dan sangat jauh berbeda dengan kenikmatan akhirat atau yang diberi nama pahala, kenikmatan itu sengaja Allah sembunyikan atau dirahasiahkan, Allah siapkan dan sediakan hanya bagi mereka yang taat, patuh dan taqwa kepada-Nya.

Itu semua tidak akan ada yang tahu dan tidak akan berebut, kecuali hanya diantara mereka saja yang tahu atau yang berilmu yakni mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, beriman kepada yang ghaib dan beriman kepada kitab-kitab Allah terutama kitab sucinya yang paling akhir sebagai pembenar atas kitab sebelumnya dan sebagai penyempurna seluruh kitab suci yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya.

Masihkan kita mau menyia-nyiakan keutamaan Ramadhan?

Dikarenakan kita sibuk hanya untuk kenikmatan sesaat di dunia.

Sebagai bahan tadabur THR-20 ini mari kita perhatikan ayat berikut ini :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS.3/Ali Imran ayat 133)

Ayat ini :

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). QS. Ad-Duha/93 ayat 4

Dan ayat berikut ini :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. 28/Al-Qososh ayat 77)

Wallahu’alam.

Masjid Al-Ihsan (I’tikaf Bersama Komunitas Pemuda BEKEN)
25/06/16

@dimyat1

Be the first to comment on "Ramadhan dan Nikmat Duniawi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*