Lagi Ramai di Bekasi: Vaksin Palsu dan #Bekxit

Yang lagi ramai di Bekasi sepekan jelang lebaran ini adalah vaksin palsu dan #Bekxit, vaksin palsu ini ramai tak hanya di Bekasi saja, tetapi memang lagi ramai di Indonesia, kebetulan saja salah satu tempat kejadian perkaranya terjadi di Bekasi, kota dengan sejuta pesona.
Pengungkapan kasus ini menyita perhatian masyarakat Indonesia. 9 pelaku sindikat berhasil diamankan oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, dan menjadi lebih menarik karena 2 orang pelaku adalah suami istri, berpenampilan saleh-salehah dan tinggal di perumahan mewah di kota tercintai ini, Bekasi!
Pengungkapan kasus ini cukup mencengangkan karena menurut kabar yang beredar, sindikat ini telah memproduksi vaksin palsu selama kurang lebih 13 tahun. Bukan waktu yang singkat, dan bisa dibayangkan, jika sudah 13 tahun maka pengkonsumsi pertama vaksin palsu ini kini telah duduk di bangku SMP.
Pengungkapan kasus ini juga disinyalir bakal lebih meramaikan lagi pertarungan antara 2 kubu yang selama ini berseberangan dan terkadang melahirkan debat-debat sengit di forum-forum media sosial yaitu antara pro vaksin dan anti vaksin.
Barisan anti vaksin akan berkata, “Alhamdulillah anak gua kagak divaksin,” sementara itu barisan pro vaksin menghadapi dilema besar dan pertanyaan dalam hati. “Vaksin yang dipakai anak gua aman gak ya?”
Dibalik itu, ada angin segar yang muncul bagi kalangan pro vaksin yang selama ini memvaksin anaknya di puskesmas atau rumah sakit milik pemerintah. Seseorang di kementerian kesehatan mengatakan bisa jadi vaksin di puskesmas atau rumah sakit pemerintah lebih aman karena pengadaannya langsung ke perusahaan BUMN Bio Farma. Bisa jadi! Bisa jadi iya, bisa jadi tidak! Bagaimana kalau orang puskesmas atau rumah sakitnya bermain?
Kerja-kerja pemerintah terutama Kementerian Kesehatan di pemerintahan pusat dan dinas kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten kota untuk mensosialisasikan penggunaan vaksin semakin berat. Dibalik pengungkapan kasus ini, pertanyaan besarnya adalah, “kenapa baru terungkap sekarang? Apa efeknya bagi perkembangan anak-anak yang mengkonsumsi vaksin palsu itu? Klinik mana saja yang memakai vaksin palsu ini?” Sementara itu yang lebih ramai di media adalah: pelaku pembuat vaksin palsu itu adalah berpenampilan saleh dan salehah dan rumahnya di Bekasi.
#Bekxit
Ketika di Eropa sana sedang diramaikan dengan referendum warga Inggris Raya yang memilih keluar dari Uni Eropa dengan hestek #Brexit, di jagat maya tanah air juga sempat muncul hestek #Bekxit alias Bekasi Exit. Kebetulan dalam waktu bersamaan di Bekasi sini, sempat ramai dan menggaung kembali ketegangan antar 2 daerah, DKI Jakarta dengan Kota Bekasi. Masalahnya tak lain dan tak bukan adalah soal pembuangan sampah DKI di Bantargebang Kota Bekasi. Rombongan mobil sampah DKI sempat dihadang warga tidak boleh masuk Bantargebang, DKI sendiri ingin pengolahan sampah di Bantargebang yang sebelumnya dikelola pihak swasta diambil alih sendiri atau swakelola. Pihak DPRD Kota Bekasi menyatakan Pemprov DKI banyak melanggar aturan main seperti jadwal truk sampah melintasi Bekasi dan lain-lain.
Maka #Bekxit mengemuka. Menurut budayawan Bekasi Komarudin Ibnu Mikam, #Bekxit jangan diartikan sebagai keluar dari NKRI tapi perhatian DKI Jakarta terhadap Bekasi yang selama ini dianggapnya hanya menjadi tempat sampah dan korban kebijakan. Salah satunya, Bekasi merawat dengan baik aliran Kalimalang yang mengalir ke Jakarta dan digunakan untuk air minum PDAM DKI Jakarta, sementara itu Jakarta membuat proyek reklamasi di pantai Jakarta yang berpengaruh rusaknya pantai-pantai di Bekasi.
Inilah yang lagi ramai di Bekasi sepekan terakhir, Vaksin palsu dan #Bekxit. Keramaian lain tentu saja ramainya pusat perbelanjaan dan persiapan mudik bagi sebagian warga Bekasi yang punya kampung halaman.

 

Bekasi, 27 Juni 2016

 

Enjang Anwar Sanusi
Bekasimedia.com

Be the first to comment on "Lagi Ramai di Bekasi: Vaksin Palsu dan #Bekxit"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*