Hati Yang Terbuka VS Hati Yang Terkunci

Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali berkata dalam salah satu bukunya bahwa setiap tentara ada panglimanya, dan setiap sesuatu ada kunci-kuncinya. Panca indra atau anggota tubuh manusia mulai dari pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, kepala, muka, badan dan srbagainya adalah tentara, panglima dari semuanya itu adalah hati.

Para konsultan pendidikan, pembangunan dan manajemen sumber daya manusia berpendapat bahwa persoalan paling penting dalam kehidupan manusia yang harus pertama kali dibentuknya adalah alam pikirannya alias mindsetnya.

Para ahli psikologi manusia atau dokter jiwa atau bengkel rohani atau pemerhati akhlak dan yang lainnya berpendapat bahwa kesehatan jiwa sangat berpengaruh kepada kesehatan fisik seorang manusia. Meskipun para ahli, pemerhati dan praktisi kesehatan jasmani tidak mau kalah pendapatnya menurut mereka bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (mensana in korforesano).

Sedangkan dienul Islam sebagai agama penyempurna ajaran atau syariat para nabi dan rasul sebelumnya, sebelum diutusnya Rasul akhir zaman Muhammad SAW, memandang bahwa manusia terdiri dari unsur langit (ruh) dan bumi (tanah). Sebagaimana telah dibahas sebelumnya pada tulisan saya edisi sebelumnya .

Pada Tadabur Harian Ramadhan (THR) keempat ini saya ingin membahas tema tentang hati yang terbuka VS hati yang tertutup atau hati yang terkunci.

Ustadz Dr. Ahmadi Usman, MA pada Wisuda Al-Quran LPIT (SDIT) Thariq Bin Ziyad Tambun Selatan (4/6/16) ketika menjelaskan ayat tentang tadabur Al-Quran:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

Mengutip salah satu hadits Rasulullah SAW :

ان القلوب له ابواب لاقفال حديد الذي يفتحها الله تعالى با القران…

Artinya :
“Sesungguhnya hati itu memiliki pintu-pintu ada (hati) yang memiliki pintu yang keras (terkunci) yang bisa dibuka oleh Allah SWT dengan Al-Qur’anul Kariim”.

Semoga dengan tahsin, tahfidz, tadarus, dan tadabbur Al-Quran yang kita lakukan secara sehari khususnya di bulan Ramadhan tahun ini menjadikan kita dan hati kita terbuka terhadap berbagai macam kebaikan, hidayah, iman, islam dan ihsan yang datang dari syariat agama atau dienul Islam.

Jika kita berperan sebagai da’i maka jadilah da’i yang mampu menyentuh dan menembus hati manusia dengan sikap, nasehat dan perilakunya.

Kita juga berdoa semoga di bulan yang penuh berkah dan doa-doa kita diijabah ini kita diberikan kelapangan dada dan keterbukaan hati untuk memerima setiap ajaran Islam. Sehingga di bulan inilah kita dilatihnya sebagai bulan ketaatan dan ketaqwaan.

Terakhir mari kita tadaburi ayat berikut ini :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
Q.S. Al-Anam (6) ayat 125

Sampai bertemu kembali pada tulisan saya edisi berikutnya. Wallahu a’lam.

Bekasi, 09/06/16

Dimyat, S.Ag
@dimyat1

Be the first to comment on "Hati Yang Terbuka VS Hati Yang Terkunci"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*