Puasa Ramadhan dan Keseimbangan Hidup

Suatu kebahagiaan manakala kita telah menunaikan kewajiban atau amanah yang di pundak kita masing-masing. Baik amanah dari dunia maupun amanah akhirat.
Amanah dunia seperti amanah orang tua kepada anaknya, amanah pimpinan kepada bawahannya atau amanah majikan kepada pembantunya.
Amanah akhirat seperti amanah Allah kepada para Malaikat-Nya, amaah Allah kepada para Nabi dan Rosul-Nya, atau amanah Allah kepada makluk yang lainnya seperti jin, manusia, gunung dll.
Setelah penulis berbicara tentang Obor dan Senter pada rubrik THR (Tadabur Harian Ramadhan) edisi perdana kemarin, maka pada edisi kedua THR ini penulis mengangkat tema Puasa Ramadhan dan Keseimbangan Hidup manusia.
Sebagaimana dijelaskan oleh para ahli pendidikan bahwa manusia sebagai makhluk yang mulia terdiri dari beberapa unsur utama yakni akal, jasad dan ruh.
Puasa Ramadhan yang kita lakukan sebulan penuh diyakini oleh kaum muslimin adalah sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) yang disediakan khusus oleh Allah sebagai salah satu rukun Islam.
Sebagai suatu ibadah dan selaligus sarana atau media pendidikan robbani yang melekat pada rukun Islam dampaknya sangat signifikan dalam kehidupan seorang muslim yang beriman.
Jika kita menjalankannya dengan mengikuti kaifiyat puasa yang telah ditentukan oleh syariat Islam dan dicontohkan oleh nabi dan Rosul-nya serta  diajarkan oleh para ulama, maka puasa sangat efektif dalam membentuk pribadi taqwa.
Pribadi bertaqwa adalah pribadi yang memperhatikan aspek keseimbangan antara akal, jasad dan ruh. Secara bahasa Ramadhan artinya adalah membakar atau mengasah.
Para ulama menjelaskan bahwa dari sisi bahasa saja kita dapat memahami bahwa puasa akan membakar dosa-dosa yang pernah kita lakukan sebelumnya, membakar penyakit fisik (lemak, kolesterol dll), membakar prilaku buruk (psikis), membakar semangat dan keimanan serta menghindarkan kita dari nerakan yang akan membakar (na’udzubillahi min dzalik).
Ramadhan secara bahasa juga mempunyai arti mengasah, mengasah aqidah dan keimanan (keyakinan), mengasah akal pikiran kita agar lebih jernih, cerdas dan bersih. Mengasah akhlak dan budi pekerti, mengasah jiwa dan perasaan agar lebih peka kepada sesama, serta mengasah jasmani (fisik) kita agar sembuh, sehat, kuat serta bugar.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim di bawah ini menjadi landasan penguat apa yang menjadi penjelasan ulama di atas :
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه…
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena Iman dan mencari Ridho Allah, maka dosanya yang telah lalu diampuni”
Sebagai akhir dari renungan ini mari kita tadabburi ayat Al-Quran berikut ini :
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Q.S Al Baqoroh (2) ayat 201-202
Semoga dengan ibadah puasa Ramadhan kita mampu menjadi pribadi yang bertaqwa yaitu pribadi yang mampu menyeimbangkan kehidupan kita untuk dunia dan akhirat, serta menyeimbangkan kebutuhan akal, jasad dan ruh.
Wallahu a’lam.
Dimyat S.Ag
@dimyat1

Be the first to comment on "Puasa Ramadhan dan Keseimbangan Hidup"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*