Mantan Ketua Pramuka Peduli Konfirmasi Kasus Asusila di SMPN 10 Bekasi

Bekasimedia- Mantan Ketua Pramuka Peduli, Icang Rahardian, menyambangi SMPN 10 Tambun Selatan, Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, untuk mengonfirmasi perihal kasus asusila terhadap 8 orang anak didik yang dilakukan oknum pelatih pramuka.

“Saya menanyakan isu yang beredar tentang kelakuan pelatih Pramuka yang sudah tidak aktif dan diberhentikan. Dia bukan guru, hanya pelatih. Saya ingin berikan support agar mereka para korban mau kembali bersekolah,” tukasnya seusai keluar dari ruang guru, Senin (4/4).

Ia sendiri mengaku tidak kenal dengan yang bersangkutan selama masih berada di Pramuka Peduli dulu. Menurutnya, hal tersebut merupakan kegagalan Kwarcab Kabupaten Bekasi.

“Ini kegagalan Kwarcab Kabupaten Bekasi, pembina, pelatih, mendidik dan mengajar perlu moral yang bagus. Bagaimana kalau moral gurunya tidak bagus lalu mengajar siswa?” kata pria yang sekarang aktif di Gerakan Bekasi Bersih.

Sebelumnya sempat diberitakan, guru pramuka beristri berinisial DS (40) diduga telah melecehkan 8 anak didiknya. Modusnya, DS berpura-pura mengajarkan siswa bermain gitar, sambil itu tangannya menggerayangi bagian tubuh korban-korbannya.

Hal itu terungkap setelah salah satu korban NH (14) menceritakan hal tersebut ke orangtuanya, Priyo Santoso.

Priyo mengatakan, kasus tersebut terungkap lantaran puterinya beberapa hari terakhir kerap berubah. Korban selalu murung dan menangis jika hendak diantar orang tuanya ke sekolah. Korban mengaku tidak ingin bersekolah lagi.

Melihat hal itu, Priyo langsung mendesak korban untuk bercerita hingga akhirnya ia kaget jika anaknya telah diperlakukan tak senonoh oleh pelaku.

Icang mendukung proses penegakkan hukum pelatih pramuka tersebut. Menurutnya hukuman harus diberikan untuk memberi efek jera kepada oknum pelatih Pramuka tersebut.

“Beri pelatihan, dong, dari Kwarcab, Kwaran, Gugus Depan. Semua mesti diarahkan. Kalau saya lihat dengan kejadian di SMPN 10, Kwarcab tidak pernah bina pelatih. Mereka para pelatih terkesan liar. Kalau kemampuan mereka sedikit, itulah mereka, apa adanya,” tegasnya.

Lanjutnya, menurut Icang tidak ada garis hierarki antara pelatih, pembina ke Kwarcab. Kedepannya ia mengusulkan harus ada basis data untuk para pelatih dan pembina di Kwarcab.

“Para pelatih harus udah kursus mahir dasar, mahir madya. Kalau sekarang kita lihat faktor kedekatan dan komunikasi bisa asal jadi aja pelatih,” tutupnya. (SL)

Be the first to comment on "Mantan Ketua Pramuka Peduli Konfirmasi Kasus Asusila di SMPN 10 Bekasi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*