Tiga Pengemudi Grab Car Dijebak dan Diintimidasi Petugas Keamanan Bandara Soekarno Hatta

image
Bekasimedia – Komunitas Solidaritas Pengemudi Online menyatakan pengemudi online selalu dijadikan target penangkapan di Bandara. Ini terjadi karena upaya menjebak pengemudi online oleh oknum Dinas Perhubungan dan Keamanan Bandara.
Hal ini disampaikan Humas Komunitas Solidaritas Pengemudi Online, Hidayat kepada media, Jumat (18/3/16).
Hidayat mengatakan, tiga orang pengemudi online yaitu Bima Alan Buana (29), Sutrisno (32) dan Salman (29), Kamis kemarin dijebak dan dilecehkan secara fisik dan psikis oleh oknum petugas keamanan dibantu oknum Angkatan Laut Bandara Soekarno Hatta.
Ketiganya adalah pengemudi online yang menggunakan aplikasi Grab Car. Hidayat menerangkan Bima Alan Buana adalah anggota komunitas solidaritas pengemudi online yang berlokasi di tangerang, kendaraannya adalah Xenia B 1219 SYS. Bima melayani konsumen yang minta diantar ke Bandara Soekarno Hatta pada kamis sore pukul 17.00 WIB.
Setiba di Bandara, Bima yang baru saja menurunkan konsumen mendapatkan order online Aplikasi Grab di Parkiran Terminal 1B. Bima kemudian mengambil order tersebut dan berencana menjemputnya di halte dekat lokasinya berada, setiba di halte yang dimaksud, Bima kemudian ditelepon oleh tamunya.
“Setelah diangkat tiba-tiba tamunya adalah dua petugas keamanan bandara. Kedua petugas itu mau menangkapnya, karena panik Bima melaju kencang kendaraannya dan hendak keluar area parkiran. Dua petugas tadi memanggil temannya yang menggunakan motor sudah standby,” ujar Hidayat.
Terjadilah aksi kejar kejaran antara keduanya. Mobil Bima akhir berhasil dihentikan petugas yang lain dipintu pembayaran parkiran. Petugas keamanan beralasan Bima mencoba keluar parkiran tanpa membayar parkiran. Dia mencoba menabrak petugas dengan mobilnya. Petugas kemudian mengamankannya.
Sedangkan menurut keterangan Bima, Ia menyatakan dirinya sengaja dijebak dengan order fiktif dari petugas keamanan tersebut, karena panik dan tidak mau ditangkap, ia melesatkan kendaraannya dan tidak sengaja mau menabrak petugas yang menghadang didepannya.
“Petugas itu memukul kendaraan Bima dan memaksanya keluar dengan mengunci leher. Lalu dia teriak,” imbuh Hidayat.
“Setelah itu ada seorang petugas polisi lalu lintas didekatnya merelai dan akhirnya Bima pun diamankan oleh polisi ke Pos Polisi terdekat. Bima berterima kasih kepada petugas polisi yang mengamankan karena menurutnya apabila ia dibawa oleh petugas kepada Pos WK Bandara, Ia akan lebih disakiti oleh petugas dan oknum AL yang sudah menunggu disana,” lanjut Hidayat.
Korban Intimidasi Tak Hanya Bima
Kejadian lain dialami oleh Sutrisno (32), dirinya baru saja menurunkan konsumen di Bandara pada Kamis (17/3/16) pukul 18.30. Tiba-tiba melalui aplikasi Grab dirinya mendapatkan konsumen yang minta diantar pulang dari Bandara.
Ternyata bukan konsumen yang datang melainkan petugas yang sudah menunggu. Sutrisno menceritakan bahwa dirinya dijebak oleh oknum petugas yang hendak melakukan sweeping kepada pengemudi online baik Uber maupun Grab.
Khususnya pengemudi Grab, mudah sekali menangkap pengemudi tersebut jika oknum petugas sengaja menjebak dengan menyamar sebagai konsumennya.
Sutrisno di bawa ke kantor Pos OD terminal 1B Kedatangan, dirinya ditanya-tanya oleh petugas keamanan di kantor OD selama 45 menit dan kemudian dibawa ke kantor WK bandara.
Setiba di kantor WK Bandarajam 20.00, Sutrisno mengalami pelecehan fisik oleh oknum tentara disana yang didampingi oleh petugas keamanan Angkasa Pura. Setelah ditanya-tanya tentang statusnya sebagai pengemudi online. Dirinya tidak boleh meninggalkan kantor WK selama 4 Jam.
Hidayat menuturkan, selama disana dia harus mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dirinya seperti jalan jongkok beberapa ratus meter, membawa dan mengelidingkan ban mobil bekas, push up dan shit up seperti halnya perpeloncoan taruna baru. Dirinya baru diizinkan pulang pukul 00.00 malam.
Sutrisno tidak bisa mengelak itu semua, dan dia kini merasakan sakit dibagian lutut kirinya akibat tindakan yang tidak menyenangkan tersebut. Sutrisno mengatakan bahwa apabila dirinya menolak maka akan dihukum yang lebih berat lagi.
Kejadian serupa dialami oleh Salman (29). Salam adalah pengemudi aplikasi Grab yang sedang tertidur pada pukul 11 malam pada Kamis (17/03/16) itu juga karena terlalu lelah bekerja.
Dirinya mengaku tertidur di halte shutel kosong di Bandara. Dirinya lupa mematikan aplikasi grabnya, dan petugas menemukannya melalui aplikasi grabnya dengan berpura-pura sebagai konsumen.
Petugas keamanan Angkasa Pura, Yatno (38) yang merupakan Komandan Regu bandara menerangkan bahwa Salman sudah dibangunkan dua kali namun dirinya tidak juga bangun.
Yatno kemudian menggembok roda kendaraannya karena menganggu jalan. Saat itu pukul 11.30 malam, Salman dibangunkan dan dibawa ke kantor WK Bandara. Disana dirinya ditanya-tanya tentang pekerjaannya sebagai pengemudi online.
Dan kemudian Salman harus melakukan tindakan yang tidak menyenangkan dirinya karena diperintahkan oknum berseragam AL yaitu harus berdiri tegak sambil mengangkat sebuah benda berat selama 30 menit. Salman dijanjikan akan diizinkan pulang setelah 4 jam dikantor WK.
Penangung jawab Petugas Keamanan Bandara, Bapak Nawi menjelaskan bahwa Angkasa Pura Soekarno Hatta mengizinkan pengemudi online menurunkan penumpang di Bandara namun untuk membawa penumpang di Bandara, hanya pengemudi yang terdaftar dan membayar iuran ke koperasi yang dizinkan. Semua pengemudi yang membandel akan diamankan selama 4 jam di kantor Petugas Bandara (ed Kantor WK).
Ini berlaku untuk semua, baik taksi konvensional maupun taksi aplikasi online. Ketika ditanya mengenai tindakan yang tidak menyenangkan yang diberlakukan kepada pelanggar. Dirinya menjawab tidak ada seperti ini.Yang melanggar hanya diminta berada dikantor pengamanan Bandara selama 4 jam untuk dimintai keterangan.
Choki Manulang salah satu perwakilan pengemudi online menyatakan bahwa peraturan tersebut harusnya disosialisasikan kepada pengemudi online.
“Pengemudi online akan marah apabila pelaksanaan aturan tersebut dilakukan melalui upaya berpura-pura menjadi konsumen online. Ini namanya menjebak bukan mendidik,” ungkap Hidayat.
“Petugas keamanan tidak berhak menegakkan aturan dengan cara menjebak pengemudi online. Pengemudi online pastinya siap ikut aturan. Tapi kalau dijebak, siapapun akan tertangkap dan hal tersebut sama sekali bukan prestasi petugas keamanan,” tambahnya.
Terkait tindakan pelecehan yang dilakukan oknum tentara berseragam AL, Hidayat menyatakan hal itu harus dihentikan karena sudah melanggar hak asasi manusia.
“Oknum harus dihukum. Ini negara hukum bukan negara main aturan sendiri. Menindak pengemudi online dengan cara seperti sudah tidak dibenarkan lagi,” pungkasnya.
Komunitas pengemudi online yang terdiri dari 5000 pengemudi Grab dan Uber terus melakukan advokasi untuk keselamatan dan kesejahteraan para pengemudi online. Komunikasi real time antar pengemudi online tersebut dilakukan melalui grup telegram di telegram.me/pengemudionline. Grup tersebut sangat efektif karena setiap kejadian langsung tersebar kepada seluruh 5000 anggotanya. (ak/eas)

1 Comment on "Tiga Pengemudi Grab Car Dijebak dan Diintimidasi Petugas Keamanan Bandara Soekarno Hatta"

  1. Driver online bukan teroris bukan PKI dan bukan organisadi terlarang, seyogyanya anggota TNI-AL serta petugas satpam bandara tdk melakukan kebodohan terutama khususnya TNI AL ingat kalian dibentuk oleh rasapta marga waha

Leave a comment

Your email address will not be published.


*