Sepakbola Sebagai Sarana Bagi Wanita Rwanda Meningkatkan Kesejahteraan

image

Bekasimedia – Pada 2011 lalu Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) asal Korea Selatan Ban Ki Moon berujar,  “Olahraga adalah sarana yang paling kuat manusia untuk saling mempersatukan, serta meningkatkan perkembangan masyarakatnya.”

Pasca genosida yang terjadi Rwanda, Felicite Rwemalika benar-benar mempraktekan apa yang dikatakan sekjen PBB. Ia memberikan kesempatan yang membawa banyak wanita meningkatkan kesejahteraan bagi diri dan keluarganya serta skill yang semuanya ia lakukan dengan memberikan kesempatan mereka  bermain sepakbola.

Sebelum membantu wanita Rwanda bermain sepakbola, Rwemalika menjalankan bisnis salon, dimana ia menerima banyak curahan hati dari banyak wanita Rwanda yang masih merasakan betul trauma akibat genosida.

“Wanita adalah makhluk paling rentan dengan trauma yang terjadi setelah genosida. Mereka diperkosa sekian kali, dan suami serta anak-anak mereka dibunuh, maka mereka tidak punya harapan sekali untuk menghadapi masa depan,” kata Rwemalika seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Maka, Rwemalika mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu yang bisa mengganti mindset mereka yang betul betul masih merasakan trauma.

Sebelum terjadi genosida, wanita bermain sepakbola adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikiran. Pada awalnya ia pun kesulitan untuk mengajak kesemuanya bermain sepakbola, untungnya ia mendapatkan dukungan dari pihak berwenang yang juga menginginkan perubahan bagi masyarakat sekitar.

Tak berhenti disitu saja, berkat bantuan dari kota Kigali, ia bisa membuat tim sepakbola wanita yang bahkan memberikan gaji bagi para pemainnya yang kemudian bisa memberikan edukasi bagi mereka di sekolah-sekolah.

Proyek Rwemalika ini diberi nama AKWOS, akronim dari bahasa inggris yang berarti Asosiasi Olahraga Wanita Kigali, karena bukan sekedar sepakbola. Di negara yang hanya 15 pesen dari gadis-gadisnya bisa bersekolah, pemain sepakbola ini diberikan kesempatan langka ini.

Salah satu pemainnya pun menuturkan awal mula perkenalannya dengan sepakbola.

“Pada awalnya kita bermain dengan menggunakan rok. Kita sangat malu untuk menggunakan celana pendek. Bahkan banyak yang bermain dengan penutup kain. Tetapi lama-kelamaan kita bisa menyingkirkan rasa malu tersebut dan menjadi terbiasa dengan itu serta meningkatkan kepercayaan diri,” jelas Veneranda. (frb)

Be the first to comment on "Sepakbola Sebagai Sarana Bagi Wanita Rwanda Meningkatkan Kesejahteraan"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*