Lukas Kustaryo; Pahlawan dari Jawa Timur Yang Dijuluki Begundal Karawang-Bekasi

image

Bersama Rengasdengklok, Rawagede adalah nama daerah di Kabupaten Karawang yang tertulis dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Jika Rengasdengklok dikenal dengan peristiwa 16 Agustus 1945, saat Soekarno-Hatta “diculik” kaum muda dan diasingkan di kota kecamatan ini, Rawagede dikenal dengan peristiwa pembantaian rakyat sipil oleh Belanda pada masa perang pasca kemerdekaan.

Pasca Proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Belanda yang datang kembali ke Indonesia dengan memboncengi tentara Sekutu ingin menguasai kembali wilayah yang pernah dijajahnya selama 300 tahun lebih. Maka perlawanan rakyat Indonesia terhadap pasukan Belanda terjadi dimana-mana, termasuk di daerah Karawang-Bekasi. Perjuangan sengit ini pula yang menginspirasi Chairil Anwar menulis puisi “Antara Krawang Bekasi”.

Selasa pagi, 9 Desember 1947, Kampung Rawagede yang terletak di Rawamerta, utara Kota Karawang diserang pasukan Belanda. Malam hari sebelum penyerangan, pasukan Belanda telah mengepung kampung yang sunyi senyap ini.

Sejarawan yang juga wartawan Kompas yang tinggal lama di Karawang, Almarhum Her Suganda dalam bukunya, “Rengasdengklok, Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945”, menuliskan bahwa penyerbuan Batalyon Ke-3 Resimen Infanteri ke-9 tentara Belanda yang dipimpin oleh Mayor Wijman ini bertujuan untuk mencari Kapten Lukas Kustaryo, komandan Kompi Batalyon I Sudarsono, Brigade III/Kian Santang, Tentara Keamanan Rakyat.

Serbuan Belanda itu tidak mendapatkan hasil, orang yang dicari Belanda tak berhasil ditemukan. Kemudian Belanda mengumpulkan penduduk Rawagede dalam kelompok-kelompok kecil antara 10-30 orang. Untuk kesekian kalinya, tentara Belanda kembali bertanya dimana keberadaan Lukas Kustaryo, namun tidak ada penduduk yang buka mulut.

Masih dari buku Her Suganda, Surya, seorang veteran Rawagede mengatakan bahwa eksekusi demi eksekusi terus dilakukan Belanda, namun ia berhasil meloloskan diri dan loncat ke Kali Rawagede yang lebarnya sekitar 10 meter dengan kedalaman 1,5-2 meter. Ia bersama beberapa rekannya menyembunyikan diri diantara rumpun eceng gondok yang tumbuh subur di sungai itu.

Berjam-jam, Surya berhasil mengelabui Belanda dengan berendam di sungai dan bernafas dengan pelepah eceng gondok, Namun, karena patroli Belanda menggunakan anjing pelacak, keberadaan mereka diketahui. Setiap eceng gondok diberondong peluru. Seketika, air sungai berubah warna menjadi merah darah. “Saya tidak tahu berapa korban meninggal akibat pembantaian di Kali Rawagede, tetapi saya kira cukup banyak,” ujar Surya kepada Her Suganda.

Beruntung Surya selamat. Ia bersama 10 rekannya yang tersisa diminta naik ke darat lalu digiring ke salah satu halaman rumah penduduk. Namun, Surya kembali menolak saat ditanya dimana Lukas Kustarjo. Karena ingin selamat, Surya nekad melarikan diri. Ia berhasil meloncati pagar dan berlari, Ia selamat walaupun sebutir peluru bersarang di pinggul kirinya. Dikemudian hari, Surya menambah namanya dengan Suhanda, yang berarti “Musuh Belanda”.

Her Suganda menuliskan bahwa dari catatan yang ada, 431 jiwa menjadi syuhada di Rawagede. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran kampung pada saat itu. Lukas Kustarjo sendiri mengakui bahwa sehari sebelum penyerbuan, ia sempat singgah dan bermalam di daerah ini, namun di Pasirawi, tetangga desa Rawagede.

Siapakah Lukas Kustaryo?

Dari namanya saja, terdengar bahwa tokoh pahlawan yang satu ini bukan orang Karawang asli. Ia dilahirkan di Magetan Jawa Timur, pada tahun 1920. Ia yang sedari kecil senang berkelahi, menembak dan senang berperang kemudian memilih PETA, setelah kemerdekaan, ia menyalurkan panggilan jiwanya dengan bergabung kedalam TKR.

Menurut sejarawan Bekasi yang juga wartawan Tempo, Ali Anwar yang pernah mewawancarai Lukas pada tahun 1992 di kediamannya yang sederhana di Jalan Gadog I, Cipanas Cianjur, Jawa Barat, perjalanan karier militer Lukas berawal dari Madiun, pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Pada saat itu, Lukas menjabat Chudancho (komandan seksi) heiho di Madiun. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Lukas dan rekan-rekannya mendatangi markas tentara Jepang untuk meminta senjata.

Lantas mereka dipanggil Presiden Soekarno ke Jakarta, untuk menjaga keamanan. Sekitar 120 tentara dari Madiun diberangkatkan menggunakan kereta api pada 26 September dan tiba di Jakarta pada 29 September.

Bentrokan antara pejuang dengan tentara Sekutu-Inggris tak terelakkan. Terjadilah pertempuran sporadis, terutama di Senen, Kramat, dan Klender. Sebagian besar pasukan Madiun ditarik ke Surabaya paska peristiwa 10 Nopember 1945.

Yang tersisa di Jakarta tinggal sekitar 20 orang, yakni Seksi I Lukas Kustaryo di bawah Komandan Kompi I Banu Mahdi. Selanjutnya Kompi I ditempatkan di bawah komando Resimen VI/Cikampek.

Pada 13 Desember 1945, kota dan kampung kampung di Bekasi dibom dan dibakar tentara Sekutu-Inggris. Penyebabnya, 26 tentara Sekutu-Inggris yang pesawatnya melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel, Cakung, pada 23 Nopember, dibunuh oleh para pemuda Bekasi pada awal Desember.

Lukas yang marah atas tindakan biadab tentara Sekutu-Inggris tersebut, membawa pasukannya dibantu pemuda pejuang Bekasi untuk menyerbuan markas Sekutu-Inggris di Cililitan. “Kita bisa menekan moril pasukan Sekutu-Inggris dan Belanda, sehingga mereka tidak bisa keluar dari Cililitan, menimbulkan kekalutan mereka,” kata Lukas dalam wawancaranya dengan Ali Anwar pada  tahun 1992.

Dari Bekasi, Lukas dan pasukannya ditugaskan ke Karawang. Pasca Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Kapten Lukas Kustaryo dan pahlawan nasional asal Bekasi, KH Noer Alie sama-sama menempatkan pasukannya di Karawang dan sekitarnya.

Secara alami, mereka saling berbagi wilayah operasi gerilya. Lukas memegang wilayah dari Rengasdengklok, Rawa Gede, Karawang, ke selatan hingga hutan Kamojing. Adapun KH Noer Alie (Pimpinan Umum Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah Jakarta Raya) dari Karawang ke utara, membujur dari Rawa Gede, Rengasdengklok, Batujaya, hingga Pakis.

“Semua pejuang berpakaian seperti rakyat. Tak ada yang berani menggunakan pakaian dan uniform TNI, karena Karawang-Bekasi sudah dikuasai Belanda sejak Agresi Militer Belanda I,” kata Lukas kepada Ali Anwar.

Di Karawang pula Lukas melepas masa lajang dan menikah dengan Sri Soesetien, anak Kepala Stasiun Cikampek, Soekirno, pada 15 Oktober 1946. “Kedua orangtua bapak (Lukas), Djojodihardjo dan Prapti Ningsih, beragama nasrani. Saat menikah dengan ibu saya, beliau (Lukas) sudah muslim,” kata Lusiati Kushendrini Purnomowati, putri pertama Lukas kepada Ali Anwar.

Pada akhirnya, Lukas mendapat julukan Begundal Krawang Bekasi karena kecerdikannya dalam perang gerilya sehingga selalu mampu meloloskan diri dari sergapan Belanda. Lukas juga dikenal sebagai pejuang yang mampu berkawan dengan segala kalangan. Kyai Noer Ali adalah salah satu yang paling dekat dan selalu melindungi Lukas.

“Pasukan Kyai Noer Alie membantu. Mereka kasih makan, penunjuk jalan. Kalau saya mau mundur ke mana, semua diatur Pak Kiai,” kata Lukas.

Lukas juga termasuk tentara yang lebih senang turun berperang. Ia terlibat dalam penumpasan pemberontakan PKI 1948 di Madiun dan ditugaskan pula untuk menumpas pemberontakan RMS di Maluku Selatan.

Pasca kehidupan mulai tenang dan Belanda benar-benar angkat kaki, bersama AH Nasution, Lukas sempat masuk ke dunia politik dengan mendirikan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IP-KI). Organisasi yang didirikan para tentara pada 20 Mei 1954. Meraih empat kursi di parlemen dalam pemilihan umum 1955, Lukas pun menjadi anggota DPR dari Fraksi IP-KI. Namun hal ini tidak berlangsung lama, pada 1960-an, Lukas lebih memilih kembali ke barak militer.

Pada masa orde baru, Lukas bersama perwira-perwira yang kritis terpinggirkan. Lantas ia lebih memilih menyepi di Cianjur dan rajin mengunjungi sahabat-sahabat lamanya di Karawang-Bekasi.

8 Januari 1997, Begundal Karawang Bekasi itu wafat di Cianjur dalam usia 77 tahun. Dalam catatan Ali Anwar, ribuan orang dari berbagai kelompok dan kelas yang melayat, menangisinya. Warga Cianjur yang mengenalnya sebagai jenderal yang ramah dan bersahaja itu, mengikhlaskan jalan-jalan utama mereka macet total. Keluarga memutuskan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa yang terletak di belakang Istana Negara Cipanas.

Lukas, lelaki pendek bertinggi 160 cm. Kelahiran Magetan Jawa Timur yang mampu beradaptasi dan berasimilasi dengan baik saat ditugaskan perang gerilya di Karawang-Bekasi. Ia yang disambut dan dilindungi layaknya saudara sendiri di Karawang-Bekasi telah pergi menghadap Sang Khalik, meninggalkan warisan merdeka dari penjajahan.

Hubungan baik Lukas Kustaryo, Kyai Noer Ali, dan masyarakat Karawang-Bekasi pada masa itu, patut dijadikan contoh dan teladan bagi anak muda Karawang-Bekasi saat ini, yang kedatangan banyak pendatang dari segala penjuru negeri. Penduduk asli dan pendatang harus punya semangat yang sama untuk Indonesia tercinta.

Enjang Anwar Sanusi
Putra Karawang, tinggal di Bekasi
@enjang_as

Be the first to comment on "Lukas Kustaryo; Pahlawan dari Jawa Timur Yang Dijuluki Begundal Karawang-Bekasi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*