Filosofi Layang-layang Koppaja Bekasi

filosofi layang-layang2

Bekasimedia – Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (Koppaja) Bekasi, Minggu (9/8/15) sore  mengadakan kegiatan melukis dan menerbangkan layang-layang.

Bertempat di pelataran Ruko samping Bekasi Cyber Park, beberapa relawan Koppaja dan sekitar 15 anak-anak jalanan dengan kisaran usia 9 hingga 15 tahun terlihat asyik melukis layang-layang dan menerbangkannya di area terbuka.

Menurut Krisna, Ketua Koordinator Koppaja Bekasi, sekaligus penanggung jawab tema belajar pada Minggu ini, edisi belajar bermain dan melukis layang-layang ini bermaksud menumbuhkan kreativitas anak-anak yang didiknya.

Selain itu, masih menurut Krisna, tema belajar kali ini juga melatih kekompakan anak saat menerbangkannya, pengenalan pencampuran warna dan juga mengetahui apa yang dirasakan anak atau ide anak lewat lukisan atau gambar yang dituangkannya dalam layang-layang.

“Ini memang bagian dari materi belajar Koppaja. Kebetulan saya PJ-nya,” ucap Krisna kepada Bekasimedia.

Di kertas layang-layang ada yang menulis lirik lagu kesukaan, gambar kartun kesayangan hingga bentuk-bentuk seperti hati, bunga, pelangi dan lain-lain.

Anak-anak pelajar Koppaja mengaku senang dapat belajar dan bermain bersama layang-layang.

Salah satunya Ipan (9), mengaku betah dan senang belajar dengan relawan Koppaja.

“Aku udah lama. Dari kelas dua SD. Belajar ngaji, belajar nulis, Iya. Seneng,” ucap Ipan malu-malu. (anr)

2 Comments on "Filosofi Layang-layang Koppaja Bekasi"

  1. Kenapa ya ada saja anak jalanan. Ke mana orang tua mereka? Inikah cermin dari masyarakat Indonesia. Begitu banyak pertanyaan ketika manusia seolah tidak bermakna

    • ya, itulah PR orangtua, lembaga pendidikan dan pemerintah melalui dinas sosial dan dinas terkait, juga kita bersama, sih sebenarnya. banyak faktor yang membuat mereka akhirnya lebih akrab dengan jalanan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*