Perlukah Anak Belajar Berbagi?

bayi-berbagi-gigisusu-net

Bekasimedia – Dalam keseharian, kadang-kadang anak tidak mau berbagi dengan kawannya, entah makanan atau pun mainan. Di sisi lain, ada beberapa orangtua yang kemudian merasa malu jika anaknya pelit alias tidak mau berbagi. Lantas, apakah makna berbagi sesederhana itu bagi anak?

Diah Karim, trainer senior dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyampaikan beberapa poin perlunya memahamkan anak tentang makna sharing atau berbagi.

Dalam talkshow-nya di Radio Smart FM pada Rabu (1/7), Diah mengatakan bahwa  tanpa disadari, kadang-kadang orangtua memaksa dan menuntut anak untuk berbagi.

Maka atas tuntutan itu, ada beberapa hal yang terjadi pada diri anak. Poin pertama, menurut Diah, anak yang dituntut untuk berbagi akan belajar bahwa merebut merupakan cara yang benar untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Kedua, anak akan berpikir bahwa Ibu tidak dapat melindungi kepentingannya. Ketiga, Ibu lebih sayang kepada anak orang lain. Keempat, Kepentingan bermain anak tidaklah penting. Kelima, berbagi artinya mengorbankan sesuatu yang anak suka. Keenam, Berbagi membuat anak marah dan kesal. Ketujuh, Anak tidak mau berbagi kecuali memang harus.

Oleh karena itu, menurut Diah, anak yang merebut dan menuntut untuk segera memakai milik orang lain pada akhirnya akan belajar beberapa hal berikut, yakni: anak bisa mendapatkan sesuatu yang ia inginkan dengan cara merebut milik orang lain, kalau anak merengek pasti diberi, keinginan anak lebih penting daripada keinginan orang lain, pokoknya anak harus cepat, harus berteriak, dan pokoknya “keukeuh” untuk mengalahkan orang lain, anak akan dibela orang dewasa jika menggunakan kata “sharing”, anak perlu orang dewasa untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Lalu, bagaimana konsep berbagi itu sebenarnya? Beberapa di antaranya menurut Diah adalah sebagai berikut:

1. Berbagi/sharing merupakan pilihan sosial

2. Berbagi haruslah dibangun atas dasar percaya (trust) & diperkaya dengan kesediaan untuk memberi.

3. Anak kita bisa diajarkan membagi makanan misalnya, tapi waktu bermain harus ada gilirannya

4. Orangtua harus melindungi hak anak untuk bermain tanpa interupsi.

Lantas, pada usia berapa idealnya anak belajar berbagi? Menurut pakar perkembangan anak, berbagi adalah proses bertahap. Tetapi anak bisa dilatih berbagi sejak usia 2 tahun. Sementara untuk tahap berbagi secara sukarela (alturistic sharing) mulai tumbuh sejak anak usia sekolah SD.

Intinya, bahwa memahamkan anak akan makna berbagi tidak akan sama dengan pemahaman orang dewasa tentang makna berbagi. Jangan menuntut anak untuk berbagi dengan menginterupsinya selagi asik bermain. (anr)

Be the first to comment on "Perlukah Anak Belajar Berbagi?"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*