Gerakan Sejuta Biopori dan Serapan Air Bawah Tanah di Bekasi

abdul-khoerr

 

Bekasimedia – Kota Bekasi yang belum lama ini meraih juara harapan 1 Tingkat Nasional untuk status lingkungan hidup daerah boleh berbangga pasalnya kinerja Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu mendapat apresiasi positif.

Program Sejuta Biopori yang dicanangkan Pemkot Bekasi menjadi salah satu program yang sangat signifikan dengan isu Go Green atau lingkungan hidup saat ini.

Akademisi UNISMA Abdul Khoir menilai bahwa Gerakan Biopori itu menjadi penting karena wilayah serapan air di Kota Bekasi semakin sedikit dan jika dirasionalisasikan yang seharusnya prosentase perimbangan wilayah untuk Kota Bekasi itu 70:30, 30% nya wilayah terbuka atau resapan. Tetapi saat ini semakin habis dengan dibangunnya mal-mal dan perumahan.

“Nah, karena lahan serapan air semakin sedikit maka program biopori signifikan,” ujar Abdul Khoir.

Lebih lanjut Abdul Khoir mengatakan bahwa Gerakan Pemkot Bekasi yang mencanangkan program 1 juta biopori itu bukan ukuran, “bahwa itu sejuta atau dua juta bukan itu ukurannya, ukuruannya ada pada semakin banyak biopori dibuat oleh warga masyarakat semakin baik karena implikasinya bukan hanya sebagai tandon air melainkan menjadi penyubur tanah,” ungkapnya kepada bekasimedia, Kamis (18/06).

Menurutnya hasil penelitian UNISMA tahun 2010 menyatakan bahwa hampir 20% perusahaan di Kota Bekasi mengambil air bawah tanah yang tidak diperbolehkan.

“Harusnya mereka menggunakan air dari PDAM atau membuat WTP sendiri seperti banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di wilayah Jababeka dan Lippo Cikarang,” tegas Abdul Khoir yang juga Akademisi Universitas Islam “45” yang baru menyelesaikan sidang program Doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta Senin (15/06) mengambil tesis Sejarah dan Budaya Bekasi. (dns)

Be the first to comment on "Gerakan Sejuta Biopori dan Serapan Air Bawah Tanah di Bekasi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*