Prostitusi dan Anak-Anak Kita

Foto : odishalahuddin.wordpress.com

Bekasimedia.com – Dulu saya berpikir remaja bau kencur yang terjebak di dunia prostitusi adalah mereka yang sengaja dijebak atau dijebloskan atau dijual oleh orang dekat mereka.

Beberapa tahun lalu saat saya mengajar di Fakultas Psikologi di Surabaya, anggapan itu runtuh. Mahasiswa saya adalah  relawan yang membina pelacur bawah umur di Gang Dolly. Anak-anak binaannya rata-rata berumur 13-15 tahun. Suatu hari dia minta waktu khusus curhat pada saya.

Dia merasa sedih sudah berjuang tapi angka pelacur bawah umur yang melahirkan bukannya menurun justru makin tinggi. Dulu hanya dua minggu satu orang yang melahirkan. Sekarang tiap minggu ada saja yang melahirkan. Seminggu terakhir bahkan dia mendampingi lima anak bersalin.

Kok bisa, tanya saya. Olala ternyata anak-anak ini tetap melayani tamu meski tengah hamil besar dan kemudian kembali lagi ke profesinya setelah nifasnya berakhir. Ada tamu yang memang menyukai anak-anak berusia kencur yang tengah hamil.

Dari obrolan tersebut, terungkap pula bahwa anak-anak ini melacur atas keinginan sendiri, bahkan meminta temannya untuk menjualkan mereka ke om-om senang, jadi bukan karena dijebak. Yang miris, sebagian besar orang tua mereka tak tahu anak-anaknya melacur.

Karena anak-anak ini pamit pada orang tuanya untuk belajar kelompok di rumah teman. Karena itu pelacur remaja ini mudah ditandai yaitu beroperasi tak lebih dari jam 21 malam karena mereka harus segera pulang ke rumah agar orang tua tak curiga.

Meski ada diantara anak-anak ini melacur karena alasan ekonomi, sebagian besar berasal dari keluarga yang masih mampu memberi mereka uang saku. Sehingga uang melacur yang didapat digunakan untuk keperluan tersier bersenang-senang seperti ganti handphone, pasang behel, beli kosmetik dan baju.

Apa yang diceritakan mahasiswa saya sejalan dengan riset putri saya, Thalia, dalam rangka pembuatan film dunia pelacuran remaja berjudul Tabu. Thalia menemukan data sekelompok remaja putri yang digerebek polisi ketika tengah beroperasi di sebuah hotel ternyata anak-anak SMP dari sekolah elit mahal. Bahkan salah seorang di antaranya adalah putri dari Kepala Sekolah sebuah sekolah agama terkemuka. Uang melacur yang mereka dapatkan digunakan untuk membeli barang-barang remeh seperti stocking, mentraktir teman dan kaca mata hitam. Mengapa? karena uang jajan yang diberikan orang tua mereka sendiri sudah berlimpah lebih dari cukup. Maka jika mereka suka dengan si pelanggan, layanan seks itu malah mereka gratiskan.

Kemudian, Saya dan Thalia sempat bertemu seorang wartawan film di Goethe. Saat tahu putri saya pembuat film Tabu, si wartawan bilang, “Mbak Thalia, saya dapat pesan dari teman-teman pelajar penonton film mbak. Mereka punya banyak cerita yang lebih heboh dan serem kalau mbak Thalia mau bikin edisi keduanya.”

Thalia geleng-geleng kepala. Film Tabu yang dijadikan film awareness tentang dunia seksual remaja oleh Yayasan Kita dan Buah Hati Bunda Elly Risman itu sudah cukup bikin orang tua ketar ketir ketakutan, ternyata masih ada yang lebih serem lagi !!!

Salam,

Nunki Suwardi

Pusat Studi & Pendidikan Komunikasi Bawah Sadar, Studi integratif bahasa tubuh – tulisan tangan – intuisi – fisiognomi

Rumah Tumbuh Kembang, Rumah konsultasi & terapi anak dan keluarga

www.nunkisuwardi.com

Be the first to comment on "Prostitusi dan Anak-Anak Kita"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*