Leadership Style di Era Digital Milenium: Fenomena Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini

Emil dan Risma

 

Konfrensi Asia Afrika telah usai, namun dibalik cerita Konfrensi Asia Afrika ada kehebohan yang terjadi menjelang perhelatannya. Tatkala Presiden Jokowi sedang meninjau persiapan pelaksanaan KAA di Bandung, yang di temani dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil, seorang netter mentwit percakapan dengan seorang turis dari Jerman yang menyangka bahwa Ridwan Kamil adalah sosok Presiden Indonesia, sontak percakapan tersebut menjadi trending topik di twitter dan ramai dibicarakan di sosial media dengan taggar “#PresidenYangTertukar”, meskipun belakangan muncul klarifikasi bahwa cerita tersebut adalah imajiner alias rekaan, namun seolah nettizen tidak bergeming dan tetap saja memberikan banyak pujian.

Pemandangan heboh di media sosial, soal Ridwan Kamil ini bukan yang pertama kali terjadi, sebelumnya juga pernah ada di tahun 2012, aksi Ridwan Kamil bertelanjang dada bersama suporter PERSIB saat tim kebanggaan Kota Bandung itu menghadapi Arema Cronus di Stadion Jaka Baring Palembang, hal itu dilakukan guna menenangkan massa agar tidak terjadi kerusuhan, meskipun tidak sedikit pula yang kemudian menyayangkan aksi tersebut karena tidak etis dilakukan.

Aksi lain yang tidak kalah heboh di media sosial yang dilakukan Kang Emil – begitu sapaan Walikota Bandung ini – yang menuai banyak pujian juga muncul, ketika sedang memberi hukuman dua orang yang merusak fasilitas KAA dengan cara push up dan mengepel jalan.

Setali tiga uang dengan Ridwan kamil, Tri Rismaharini  Walikota Surabaya juga banyak menjadi buah bibir dan ramai di perbincangkan di media sosial. Aksi herois yang dilakukannya kerap mewarnai dan berseliweran di youtube, path, instagram, twiter maupun media online lainnya.

Tentu anda semua masih ingat dengan aksinya yang terjun langsung dan memimpin proses penutupan lokalisasi Wanita Tuna Susila ( WTS ) terbesar se Asia Tenggara di Gang Dolly pada tahun 2014 silam, yang pada mulanya banyak di tentang namun dengan tangan dinginnya akhirnya berujung damai.

Aksi nyata lainnya yang banyak mendapatkan pujian dari nettizen adalah ketika Walikota Surabaya ini marah besar kepada panitia atas terjadinya perusakan taman bungkul akibat pembagian es krim gratis, atas kejadian itu pun ia langsung terlibat dalam pembersihan sampah dan tanaman yang rusak.

Aksi yang di tunjukkan Risma yang juga mendapatkan banyak simpati dan acungan jempol lainnya yaitu ketika ia menemani keluarga korban Air Asia dengan memberikan penguatan mental dan ikut mendata serta meminta pihak keamanan untuk menjaga rumah dari keluarga korban yang kosong.

Anda bebas memberikan penilaian atas aksi yang kerap dilakukan oleh kedua tokoh di atas apakah itu pencitraan atau pun bukan, namun satu hal yang pasti keduanya mampu menorehkan prestasi yang dapat membanggakan Indonesia dan juga di akui dunia, selain juga mendapatkan dukungan dan apresiasi dari masyarakat dan nettizen.

Ridwan Kamil tahun 2014 silam menjadi Walikota terbaik dunia bersama 11 Walikota dunia lainnya di Singapura dalam forum Young Leader Simposium World Cities Summit. Begitu pula dengan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya ini   juga di nobatkan sebagai Walikota terbaik ke tiga se-dunia versi City Mayors Foundation dalam anugerah World Best City Major 2014 dan masih banyak lagi torehan prestasi yang tidak bisa di tuliskan disini.

Keduanya aktif mengampanyekan program kerja dan aktivitasnya melalui youtube, path, facebook, instagram, twitter ataupun media online lainnya. Sehingga kita dengan mudah dan cepat mengetahui aksi-aksi mereka, ( sungguh personal branding dan story telling yang sangat efektif).

Fenomena diatas merupakan gambaran dari digital millenium yang 10 tahun belakangan ini mengalami quantum leap. Tercatat di Indonesia saat ini berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet ( APJI ) penetrasi internet user mengalami pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Jumlahnya mencapai 88,1 juta internet user pada tahun 2014, angka itu setara dengan 35% dari Jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 252 juta jiwa, dan bahkan angka itu terus bergerak naik di tahun 2015 ini dengan target 139 juta pengguna.

Dari data internet user tersebut di dominasi oleh generasi muda dari rentang usia 12-34 tahun dengan porsentase sebasar 58,4%. Sedangkan untuk penggunaan media sosial, berdasarkan data dari majalah Forbes, bahwa facebook di kota Jakarta menduduki nomor dua terbesar di dunia setelah  kota Bangkok dan bahkan lebih luar biasa lagi, twitter di kota Jakarta adalah pengguna yang terbesar di dunia, maka wajar jika berita dari Indonesia sering menjadi trending topic dunia, dengan penetrasi sebesar 25%  internet user di Asia-Pasific serta 47% internet user di dunia ada di Asia.  ( wow, inilah kenapa sensasi berita apa saja bisa menjadi viral di Indonesia ).

Kondisi di atas juga dipengaruhi adanya bonus demografi di Indonesia  ( pada tulisan saya terdahulu di Rise of The Middle Class, serta Digital Milenium dan Perubahan Perilaku Organisasi, hal ini sudah pernah kita bahas ). Berdasarkan data dari  Badan Pusat Statistik Indonesia  ( BPS ) tahun 2010 bahwa jumlah penduduk Indonesia secara piramida di dominasi oleh usia 15-34 tahun dengan porsentase sebesar 34,45%. Data ini juga diperkuat oleh riset Mc Kinsey Global Institute tahun 2012 yang menyebutkan bahwa consuming class di Indonesia mencapai 45 juta jiwa dan masih akan tumbuh mencapai 135 juta jiwa pada tahun 2030, hal ini disebabkan karena pertumbuhan penduduk produktif yang akan mencapai 280 juta jiwa.

Dari fakta-fakta digital milenium diatas, tentunya hal tersebut membawa perubahan besar dalam ladership style dari para tokoh, pemimpin organisasi maupun pemimpin bisnis. Ada perubahan mendasar dalam karakter dan gaya memimpin di era digital milenium ini, sebagaimana di jelaskan dalam bukunya William Bergquist yang berjudul The Post Modern Organization, dimana pemimpin digambarkan bukan lagi sosok yang aristokrat, mau tahu beres, hanya sekedar di belakang meja, berkarakter dan bermental bos, minta dilayani, memerintah serta kata-katanya bak titah raja.

Saat ini di era digital milenium dimana akses begitu mudah, informasi dengan cepat diketahui, masyarakat dan publik memiliki sikap kritis dan memiliki preferensi atau keterpilihan dalam berbagai sumber data serta  mudah berekspresi tanpa rasa takut bahkan cenderung dapat mencela.

Maka gaya pemimpin yang diharapkan adalah yang memiliki kemampuan komunikasi dan fleksibilitas yang tinggi, semangat melayani, execution winner atau cepat dan tepat dalam mengambil keputusan serta selalu memiliki inovasi atau yang dikenal saat ini dengan istilah Co-Creator. Ya Co-Creator inilah ledearship style  di era digital milenium yang memiliki karakter cerdas, inovatif, responsif, bermental melayani, pelibatan seluruh stakeholder dan juga selalu memberikan feedback atas apa yang mereka lakukan.

Sejatinya itulah kunci keberhasilan Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini dalam memadukan antara leadership style, kemampuan mengelola digital revolution dan rising consumer class yang saat ini sedang terjadi di negeri kita tercinta ini serta semangat perubahan dan pelayanan. Semoga akan tumbuh pemimpin-pemimpin negeri ini yang memiliki style co-creator, dan semoga itu adalah Anda.

Penulis: Adi Sumarno
Group Head Human Capital Trisula Corp.

1 Comment on "Leadership Style di Era Digital Milenium: Fenomena Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini"

  1. keren nih … kita butuh pemimpin

Leave a comment

Your email address will not be published.


*