Mengenal Almarhum KH. Noer Ali, Singa Karawang-Bekasi

image

Bekasimedia – Namanya Kiai Haji Noer Alie (lahir di Bekasi, Jawa Barat 1914) putera dari Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin, selain menjadi seorang ulama  ia juga bergerilya memimpin perang melawan penjajah hingga dijuluki ‘Singa Karawang-Bekasi’.

Sejak berumur tujuh tahun, Alie berguru agama Islam ke ulama-ulama tersohor, seperti Guru Maksum di Bekasi dan Guru Mughni di Jakarta. Dari kedua gurunya di Bekasi dan Jakarta itu, Haji Noer Alie mendapat pondasi ilmu agama Islam yang kuat. Selepas belajar dari Guru Maksum dan Mughni, dia kembali menimba ilmu dari ulama Betawi bernama Guru Marzuki di Klender, Jakarta.

Menginjak remaja Noer Alie menyempurnakan ilmu agamanya dengan ‘nyantri’ ke Kota Mekkah berguru ke beberapa ulama di lingkungan Masjidil Haram.Usia Haji Noer Alie masih 20 tahun saat menuntut ilmu di Madrasah Darul Ulum (Mekkah). 

“Dia berguru hampir di semua ilmu keislaman, Hadist, Fiqih, Nahwu atau sastra, dan ilmu mantiq,” kata Sejarawan Bekasi, Ali Anwar sebagaimana dikutip dari merdekacom.

Selain memperdalam pemahaman agama Islam, Haji Noer Alie juga mempelajari ilmu-ilmu ketangkasan seperti : beladiri, berkuda dan berburu musang, pada zaman itu musang masih menjadi hama di kalangan para petani. 

Noer Alie muda memutuskan kembali ke Tanah Air pada 1939 setelah mendapat kabar negerinya ditindas kaum penjajah. Perjuangannya dimulai dengan membangun pesantren, pendidikan formal dan agama Islam untuk melawan kebodohan dari para penjajah.

Gebrakan yang dibuat oleh Noer Alie yaitu dengan mengirimkan beberapa orang santrinya untuk bergabung dengan pasukan musuh dengan tujuan mencuri ilmu bertempur Heiho (pembantu prajurit) dan ilmu Keibodan (barisan pembantu polisi).

Bahkan seorang santrinya bernama Marzuki Alam, dipersilakan mengikuti latihan kemiliteran Pembela Tanah Air (Peta). Beliau terus menggelorakan kepada santrinya untuk mengangkat senjata melawan penjajah.

Saat Rapat Ikada (rapat akbar memperingati 1 bulan kemerdekaan) digelar pada pada 19 September 1945 di Lapanga Ikada Gambir (Monas sekarang), Noer Alie datang dengan mengendarai delman. Nama Noer Alie kian dikenal di kalangan pejuang saat Bung Tomo meneriakkan namanya beberapa kali dalam siaran radionya di Surabaya, Jawa Timur.

Pada bulan November 1945, KH Noer Alie membentuk Laskar Rakyat. Seluruh pasukan dan santrinya diperintahkan menghentikan proses belajar-mengajar untuk mendukung perjuangan. Kondisi negara sedang berada dalam puncak posisi kemerdekaan. Namun, beberapa ancaman mulai terlihat.

Dia kemudian mengeluarkan fatwa ‘wajib hukumnya berjuang melawan penjajah’. Dalam waktu singkat, Laskar Rakyat berhasil menghimpun sekitar 200 orang yang merupakan gabungan para santri dan pemuda sekitar Babelan, Tarumajaya, Cilincing hingga Muaragembong. 

Mereka dilatih mental oleh KH Noer Alie dan secara fisik dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bekasi dan Jatinegara. “Perang fisik tak bisa dihindarkan, Karawang dan Bekasi hampir seluruhnya dikuasai Belanda,” ujar Ali Anwar dikutip dari merdekacom.

Nama Kiai Haji Noer Ali memang tersohor sebagai pejuang melawan penjajahan. Dia pun dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 melalui Keppres No.85/TK/2006.

Kiai Haji Noer Alie lahir pada 1914 di Desa Ujung Harapan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ujung Harapan Bahagia merupakan nama baru yang diusulkan Menteri Luar Negeri Adam Malik ketika berkunjung ke pesantren Attaqwa pada 1970-an. 

Saat Noer Ali lahir, Ujung Harapan Bahagia masih bernama Desa Ujung Malang, Onder distrik Babelan, Distrik Bekasi, Regentschap (Kabupaten) Meester Cornelis, Residensi Batavia. (*/mk)

* dari berbagai sumber

Be the first to comment on "Mengenal Almarhum KH. Noer Ali, Singa Karawang-Bekasi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*