Sebuah Catatan tentang Sekolah Masa Depan; Refleksi Hari Pendidikan Nasional

hardiknas

Viva FIP viva FIP Fakultas Ilmu Pendidikan
Viva FIP viva FIP ada enam jurusan
AP, KTP dan PLS, PBB, PLB, PGSD
Semuanya……So’ pasti mutunya!!!

Sebait yel-yel atau lagu di atas adalah sebuah kenangan bagi penulis saat mulai masuk pertama kali di jenjang pendidikan tingkat perguruan tinggi. Pengalaman itu penulis alami sendiri saat diterima sebagai mahasiswa angkatan ke-4 D2 PGSD IKIP Jakarta. Kenangan itu sekaligus mengingatkan penulis ketika ingin membuat catatan pendidikan tentang sekolah masa depan di Hari Pendidikan, yang jatuh setelah peringatan May Day, yaitu pada hari ini, 2 Mei 2015.

Sebagian besar aksi untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di kalangan masyarakat kita kadang-kadang sering tertukar makna dengan Hari Guru Nasional (25 November). Sama halnya dalam tradisi memperingati hari buruh, orang langsung teringat dengan aksi demo buruh, atau tradisi hari Kartini rata-rata masyarakat kita langsung teringat dengan aksi karnaval dengan beragam pakaian adat daerah semisal kebaya atau sejenisnya.

Bagaimana dengan Hari Pendidikan Nasional seperti saat ini? Apa yang melekat dari masyarakat kita dengan peringatan hari pendidikan ini? Adakah framing yang sudah melekat?

Jika sudah ada, itu kadang-kadang masih tertukar atau bertumpang tindih dengan jatahnya hari guru. Sama seperti Hari Ibu yang juga sering tertukar makna dengan hari Kartini. Padahal masing-masing mempunyai kekhasan, sasaran dan tujuannya sesuai ruang lingkup perjuangannya. Jika hari pendidikan nasional cakupannya lebih umum dari hari guru, begitu juga hari Ibu yang cakupannya lebih umum dari seseorang yang bernama Kartini.

Menurut hemat penulis, tradisi masyarakat kita di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) masih kurang semarak dibandingkan dengan peringatan hari-hari nasional yang lainnya. Padahal pendidikan adalah faktor pertama dan utama untuk kemajuan suatu bangsa.

Jika tiga hari lalu penulis membaca laporan di koran harian nasional bahwa di ASEAN saja peringkat pendidikan kita di bawah Brunai Darussalam, Malaysia dan Singapura, bagaimana kalau di tingkat dunia?

Memang banyak sekali faktor yang melatarbelakangi kemajuan pendidikan. Ada faktor keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama, dalam rangka membangun basis pendidikan nasional di tingkat keluarga, begitu juga dengan sekolah, madrasah, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya. Sedangkan peran masyarakat dan media hampir luput dari fungsi dan nilai-nilai pendidikan. Untuk itu, maka di hari yang baik ini, saatnya kita membuka mata tentang fungsi sebenarnya dari pendidikan.

Ada sebuah ungkapan bijak, “Pendidikan bukanlah segala-galanya, tetapi dengan pendidikan, segalanya bisa diperbaiki.” Oleh sebab itu, pendidikan dalam segala lini harus dikembangkan. Dari sisi akademik atau para ahli, dari lapangan atau para praktisi, maupun dari sisi lingkungan pendidikan yang ada atau para pemerhati harus bersinergi dan bekerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang mulia dan dimuliakan seperti tercantum dalam Undang-undang Sisdiknas.

Maka peran dari manajemen pendidikan menempati posisi yang sangat penting. Seperti terdapat dalam yel-yel atau lagu di atas. Di mana jurusan AP (Administrasi Pendidikan) menempati posisi pertama dari enam jurusan yang ada di IKIP Jakarta pada waktu itu. Selanjutnya disusul dengan KPT (Kurikulum Teknologi Pendidikan), PLS (Pendidikan Luar Sekolah), PBB, PLB (Pendidikan Luas Biasa), dan terakhir PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar).

Bayangan dalam benak penulis, sekolah masa depan itu terlihat dari input, proses dan output pendidikannya, selain itu dari sisi manajemen pendidikannya juga bagus. Kepala Sekolah tidak hanya memimpin wali kelas, tetapi juga memimpin dan mengarahkan Tata Usaha-nya juga wakaseknya. Wakasek atau wakil kepala sekolah tidak hanya satu orang melainkan dibagi tiga peran yakni; wakasek bidang Sarana dan Prasarana, wakasek bidang Kerjasama dan Hubungan Masyarakat juga wakasek bidang Keagamaan.

Itulah inti dari catatan tentang sekolah masa depan versi penulis di Hari Pendidikan Nasional ini. Lantas, seperti apa harapan Anda?

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional!

Oleh : Dimyat,S.Ag

Guru di SDIT Thariq Bin Ziyad Jatimulya & Humas di bidang PQH LPIT Thariq Bin Ziyad

 

Be the first to comment on "Sebuah Catatan tentang Sekolah Masa Depan; Refleksi Hari Pendidikan Nasional"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*