Sekolah Berkonsep Taman, Harapan di Tengah Perilaku Menyimpang Para Pelajar

image

Perilaku menyimpang yang dilakukan segelintir siswa selepas UN menjadi pemberitaan populer baru-baru ini. Perilaku menyimpang yang ramai di pemberitaan, terutama media online antara lain dari hal-hal berikut: mencorat -coret seragam, konvoi hingga tawuran, pesta miras bahkan pesta bikini. 

Meskipun UN sudah dinyatakan bukan lagi penentu kelulusan, nyatanya perilaku menyimpang semacam itu masih kerap ditemukan. Lantas, hal tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan. Apa yang salah dengan sistem pendidikan di tanah air? Apakah memang itu sudah menjadi tren sosial budaya ciptaan siswa sendiri? Dengan maksud mengekspresikan kebebasan? atau memang ada yang salah dengan kebijakan yang diterapkan di sekolah masing-masing selama proses belajar mengajar berlangsung sehingga siswa selepas UN seolah baru saja keluar dari penjara?

Meskipun, Jika diteliti kembali, alasan tren budaya maupun masalah kebijakan sekolah sama-sama bukan alasan yang dapat dibenarkan.

Membaca pesan Menteri Anies tentang cita-cita membangun sekolah layaknya taman seperti cita-cita Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, tentunya layak diamini dan akan sangat baik jika dapat diterapkan oleh masing-masing sekolah di Indonesia, negeri maupun swasta.

Gambaran taman sendiri adalah sejuk, nyaman, indah dan menyenangkan. Siswa betah berlama-lama di dalam taman dan enggan pulang meskipun sudah waktunya. Demikanlah impian untuk sekolah berkonsep taman menurut Anies.
Sekolah berkonsep taman ini dimulai dengan UN yang tidak memberatkan siswa, artinya UN tidak lagi dijadikan penentu kelulusan.

“Beragam ikhtiar untuk perubahan fungsi UN ini tentu kita maksudkan sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan. Lebih dari itu kita menginginkan ikhtiar perubahan ini tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kualitas pendidikan tapi mengutip Ki Hadjar, menjadikan sekolah dan pendidikan sebagai sebuah taman.  Pendidikan yang bisa menghadirkan sebuah kegembiraan bagi para pelakunya. Sehingga kelak ketika bel sekolah berbunyi anak-anak kita akan hadir dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.” Pesan Anies di laman Kemdikbud.go.id

Anak muda memang butuh banyak ruang untuk berekspresi. Di samping itu, orangtua dan guru harus menyediakan juga ruang konsultasi ekslusif ketika sekolah dirasa sebagai beban. Oleh karena itu untuk mewujudkan harapan tersebut, orangtua, guru, pemangku kebijakan di pemerintahan hingga siswa harus bahu membahu mewujudkannya. Setiap masukan, kritik dan aspirasi yang datang dari berbagai kalangan perlu dipertimbangkan guna tercapainya cita-cita tersebut.

Ani Rohimah
Guru SD di Pondok Gede

Be the first to comment on "Sekolah Berkonsep Taman, Harapan di Tengah Perilaku Menyimpang Para Pelajar"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*